A Joke Played Out Too Soon

“If people have essence, I would think that mine is of similar elements to hers.”

[Click]

I get her.

Wait, how did I first know her again? Oh, right, someone mentioned her name just because I came out as a nonbeliever to them, since I was young and foolish and feeling too enthusiastic about my newfound identity back then.

But, yes, knowing her has once got me thinking, “Ah, we’re alike.”

“Ah, I get her.”

[Click]

And so she’s become one of the few people with whom I can talk to without feeling guarded.

“If people have essence, I would think that mine is of similar elements to hers.”

But then I’m still as distant and detached. If people ask me do I know her well I can only answer, “I wonder… Probably a bit? A wee chunk here and there?”

Yes, I’ve known her for four years, give and take a few months. We’re even in the same peer group, if that of any helps. And yet, I still think we weren’t so close. Quite, but not so close.

But I still get her then. Sometimes I would think that I can sense how her train of thoughts goes. I get where she comes from. I get her reasoning.

I get why she succumbs to social standards. I get why she doesn’t even try to fight it. I get why she’s been crazily, desperately trying to lose weights. I can’t explain how, but I get her. Hence, I didn’t even attempt to stop her.

It would feel too hypocritical.

“If people have essence, I would think that mine is of similar elements to hers.”

Only she’s a lot more pretentious than I am. So proudly pretentious. That’s her game, anyway. I couldn’t possibly beat her at her own game. And she could be so gruesomely evil at people. Every so often, I might add.

You: “Was she sweet?”

Me: You’re asking the question I just answered.

“If people have essence, I would think that mine is of similar elements to hers.”

Only she got a few strange features mixed in.

I didn’t consider those strange features to take full effect.

And so it goes.

I woke up to the news that she was already in coma, with platelet count hitting an all-time low at 400. I woke up to that news, and yet still I think so conveniently like a moron, “The doctor will do something about it.”

“What, can’t they transfuse some?”

I was so caught up minding my own business that day. I had deadline to destroy, translation quota to be filled up. So when I finally had the time to check on my phone, I was dumbfounded.

[”Sasa passed away.”]

I could only think, “What the fuck.”

And for a few seconds more I still couldn’t elaborate, “What the fuck. What—Fuck, what? WTF?”

Only after then, while still trying to finish translating stuffs, could I come up with the real question. Somewhat perplexed, somewhat stunned. Nothing resembled tears or sadness.

“What has she done to herself?”

“What the hell has she brought upon herself?”

“What the fuck, Sasa, what kind of shite have you done?”

Another moment passed, and new questions surfaced.

“Will I grieve?”

“She’s someone close, right? Will I grieve like everyone else? Or am I already grieving by being not sad at all?”

Because, me being me, I feel like I’m already somewhat seeing her all freezed up as a distant memory. One that I know will be momentarily forgotten for some time, one that I know will suddenly resurface while I was, I don’t know, grocery shopping, probably.

I hope it’ll hit me for real by then.

In memoriam: Sasa


“If people have essence, I would think that mine is of similar elements to hers.”

I get her. I never asked if she gets me as well, though. But at least she could tell you immediately what is the brand of my favorite soap, a fun-fact kind of knowledge that she seemed so pleased about.

A year ago, to be fair.

Advertisements

Book Murder: Ai by Winna Efendi

(Omatase shimashita)

Selepas membaca Refrain, saya langsung lanjut baca Ai (tapi bantainya baru sekarang. Ya. Memang.) Saya kira saya akan membaca sesuatu yang buruk, mengingat Ai ini justru terbit sebelum Refrain. Dan sudah merupakan rahasia umum di dunia: tulisan-tulisan pertama kita bloonnya bisa bikin yang baca mati berdiri. Siapapun entitas malang kurang kerjaan itu.

Refrain yang saya anggap sebagai karya gagal bikin saya mega-skeptis ama Ai, tapi tentu aja tetep saya baca. Saya kan tangguh, selain emang maso dan haus bahan caci-maki aja.

Betapa kagetnya saya ketika menemukan bahwa Ai punya tone yang agak lebih serius ketimbang Refrain bahkan dari halaman-halaman pertama.

“Wow,” saya berdecak terpana. “Winna Efendi wrote this?”

Saya nggak bercanda. Saya beneran kaget soalnya gaya bahasanya gaya terjemahan gitu (yang merupakan gaya saya abis, omong-omong). Dibandingkan dengan Refrain yang dibuka dengan Niki dan Nata yang ngoceh soal siapa-ya-yang-jatuh-cinta-duluan-di-antara-kita, Ai terasa seperti kembang tahu yang dijual sebelah Indomaret Kober yang baru kemaren-kemaren saya cobain.

Dengan kata lain: “Loh, kok lumayan???”

Yah.

Seenggaknya begitulah kesan pertama yang saya dapatkan.

Seperti hal-hal lain di dunia, tentu saja, kesan pertama bukanlah sesuatu yang definit.

Entah sejak halaman berapa, saya mulai merasa diperlakukan seperti pembaca idiot yang akan menelan bulat-bulat apapun yang ditulis oleh si nyonya penulis.

Ai bercerita tentang persahabatan antara Ai, Sei, dan Shin. Aslinya sih cuma Ai dan Sei aja yang sahabat-sejak-kecil-alias-osana-najimi, persis seperti Niki dan Nata di Refrain, namun kita punya cowok pindahan dari Tokyo bernama Shin yang kemudian menjadi orang ketiga di persahabatan itu, persis kayak Anna di Refrain. Luar biasa emang kreativitas Winna Efendi ini, menghasilkan dua novel yang bak pinang dibelah dua di tahun yang sama. Wah, pasti menguras tenaga dan akal pikiran banget.

Sebagaimana cerita-cerita tentang persahabatan pada umumnya, saya gagal melihat sebelah mana sebenarnya letak “persahabatan” yang diagung-agungkan si penulis. Nggak tau ini cuman saya aja apa gimana, tapi di cerita yang bawa-bawa tema persahabatan biasanya nyaris selalu terkesan nggak meyakinkan soal persahabatannya sendiri. Kayak Refrain kemaren, atau Antologi Rasa yang laughable abis itu. Ai pun gak jauh beda. Persahabatan yang saya liat antara Ai, Sei, dan Shin kayaknya cuma sebatas mereka diceritain nyambung banget dengan satu sama lain dan kalo ngobrol bisa ampe ngobrolin apa aja.

Emphasis on “diceritain”.

Yes.

Diceritain doang.

Tau kan, yang tinggal deskrip “kami membicarakan banyak hal… membuat kami tertawa… kami begitu asyik ngobrol…”

Dasar penulis pemalas.

Singkat cerita, mereka lagi masa-masanya milih kuliah. Shin milih Todai—Tokyo daigaku, that’s University of Tokyo for you—karena dia pengen balik ke Tokyo. Dan Ai, remaja perempuan bloon kita yang masih mikir bersahabat berarti selalu bersama selamanya dan gak rela pisah ama Shin, punya ide gila untuk pengen daftar Todai juga. Ai ini emang luar biasa, perangai dia bikin saya mikir masuk Todai bakal segampang ngerebus air. Sei tadinya mau lanjut universitas lokal aja kayak kakaknya, namun akhirnya dia ngekor juga milih Todai setelah dibujuk Ai.

Dengan ketiga-ketiganya ngedaftar di Todai, yang omong-omong merupakan universitas top di Jepun sana, tentunya logis dong kalau saya berharap bakal ada segundukan masalah selama mereka berjuang buat keterima, seperti yang dialami karakter utama di film Biri Gal yang targetnya Keio University. Logis dong kalau saya mengharapkan perjuangan ini akan diceritakan secara dramatis dalam sekian bab.

Logis lah ya.

Tapi tentu saja, Winna Efendi bukan penulis yang peduli soal ginian. Perjuangan masuk Todai bukanlah sesuatu yang penting. Nggak. Di dunia rekaan Winna Efendi, keterima di Todai emang segampang ngerebus air. Nggak, nggak perlu sekian bab buat nyeritain ‘perjuangan’ mereka buat keterima di Todai. Cukup tiga paragraf aja dan langsung lompat ke hari pengumuman setelahnya tanpa perlu nyeritain hari H-nya, di mana kita menemukan ternyata mereka keterima ketiga-tiganya. Segampang ngerebus air. Dunia emang seindah itu.

Percayalah, saya nggak bakal se-picky ini kalo universitas yang dituju itu bukan universitas top nasional di Jepun sana. Dan sebenernya saya juga heran kenapa dari sekian pilihan universitas di Tokyo, harus Todai banget, sementara dari yang diceritain penulis dari awal, ketiga karakter ini kayaknya nggak ada yang terlalu menonjol wah banget academically. Terlebih lagi setting awalnya ini daerah pedesaan gitu, yang omong-omong gak jelas juga di mana pokoknya deket laut lah, entah Jepang sebelah timur atau barat. Dan logika saya membisikkan bahwa persaingan di sekolah-sekolah non-kota harusnya bakal lebih chill dan nggak sekompetitif itu. Sotoy aja sih saya, tapi bisa diterima lah ya *maksa*. Ini kan kayak gimana proporsi mahasiswa UI lebih condong ke yang berasal dari Jabodetabek.

Tapi ternyata nggak cuman keterima Todai yang segampang ngerebus air. Di dunia rekaan Winna Efendi, hidup merantau di Tokyo juga segampang cuci kaki.

Saya, sebagai weeaboo-weeabooan, udah lumayan paham lah harusnya ngerantau di Tokyo itu gimana. Dan kebetulah banget pas saya baca ini, saya juga nontonin dorama yang juga tentang orang-orang yang ngerantau di Tokyo. Kayaknya udah merupakan fakta yang solid dan tidak terbantahkan kalau hidup di Tokyo itu ga gampang, apalagi buat mahasiswa yang ngerantau dari desa, meski di desa mereka punya bisnis restoran dan pemandian air panas sekalipun. Nggak mungkin pertama ke Tokyo bisa langsung hidup enak.

Tapi Winna Efendi mah bodo amat. Tau-tau aja trio kita bisa tinggal di apartemen dengan 2 kamar, dapur, dan ruang tamu. Entah dapet duit darimana, pokoknya apartemennya 2 kamar aja, dan mereka masih bisa langsung beli-beli perabot bahkan. Hidup mereka juga kayaknya woles-woles aja ga ada beban. Seolah-olah 3 mahasiswa tinggal di Tokyo DAN kuliah di Todai (plus ga mungkin ketiga-tiganya dapet beasiswa, terlalu ngimpi) ga punya masalah finansial yang perlu dipusingkan.

Enak bener ya hidup di dunia rekaan Winna Efendi. Saya juga mau.

Terus, Winna Efendi juga dengan entengnya ngebikin karakternya naik shinkansen sesering naik bus.

Siapapun yang ngebaca Ai pasti bakal ngira kereta di Jepang itu semuanya shinkansen. Beneran ngakak saya pas baca si Sei naik shinkansen dari tempat part-time-nya di Roppongi ke apartemennya. Apartemennya ceritanya sih masih di Tokyo, sekitaran 30 menit dari stasiun Tokyo. Tapi belah mananya Tokyo juga nggak jelas, yang jelas dari apartemen mereka bisa liat laut aja. Saya bukannya ngerti seluk-beluk Tokyo, pengetahuan saya toh hasil nonton dorama semua. Tapi gini… orang mana sih yang dari satu bagian Tokyo ke bagian Tokyo yang lain naiknya shinkansen?? Ini kan mirip-mirip kayak orang mana sih yang dari Gambir ke Bekasi naiknya Argo Parahyangan???

Dunia rekaan Winna Efendi emang daebak abis.

Satu-satunya konflik, dan beneran cuman satu-satunya, yang diangkat di Ai adalah soal cinta segitiga antara Ai, Sei, dan Shin.

Tentu saja. Konflik besar yang sudah pasti pernah dialami oleh kita semua: cinta segitiga dalam persahabatan. Yah, kecuali buat orang-orang yang terlalu sibuk mikirin diri sendiri kayak saya.

Ai dan Shin saling mencintai, dan tentu saja Sei yang tertinggal di belakang cuma bisa ngarep ama Ai. Dan yang menjadi kegagalan kesekian Winna Efendi, dari sekian banyak kegagalan dia, adalah saya sebagai pembaca nggak bisa liat bibit-bibit cinta antara Ai dan Shin. Di satu sisi ini mungkin karena bagian pertama bukunya diceritain dari sudut pandang Sei, di sisi lain mungkin karena Winna Efendi emang payah aja. Haha. Saya beneran nggak bisa konek ama siapapun karakternya, jangankan ngedukung salah satu dari mereka.

Jadi bukan salah saya pas ada adegan Shin ngelamar Ai di Tokyo Tower padahal buku belum separuh jalan, saya malah meringis jijik.

Apa-apaan.

Mahasiswa perantauan, belum diceritain lulus, udah main tunangan aja.

Aku tau kamu teenlit bego-begoan tapi jangan setega ini juga lah….

Membaca Ai membuat saya benar-benar merasa diperlakukan seperti pembaca yang bakal manggut-manggut aja penulisnya terserah mau bilang apa, yang bakal hah-hoh-hah-hoh doang. Oh, ini ada karakter dari Tokyo. Oh, ini mereka mendadak mau kuliah di Todai. Oh, ini mereka pokoknya udah keterima aja di Todai. Oh, ini mereka akhirnya tinggal bareng di Tokyo. Oh, ini mereka hidup biasa-biasa aja di Tokyo, ga ada kesusahan atau apa. Oh, Todai apaan? Nggak, nggak, Todai udah nggak penting, sekarang Ai ama Shin udah tunangan dan Sei patah hati. Ini yang penting sekarang.

?????????????????????

Sebagai pembaca yang bisa berpikir dan terlalu gampang sewot soal kelogisan cerita (teenlit), saya merasa terhina.

Belum pula soal karakter. Wah, karakter.

Kenapa ya kok ORANG-ORANG hobi banget menokohkan karakter utama perempuan mereka sebagai seseorang yang MUNGIL? Ya ngerti sih sebisa mungkin karakter utama dibikin se-likable itu tapi ya plis deh, dikira kita-kita orang peduli amat apa soal deskripsi fisik karakter novel kalian?

(Taunya orang-orang selain saya emang pada imajinatif semua dan cenderung bergantung ama deskripsi fisik karakter)

(Yah, saya sih nggak. Gunung Kilimanjaro bahkan lebih aktif ketimbang imajinasi saya)

Dan kenapa juga ORANG-ORANG hobi banget menokohkan karakter utama perempuan mereka sebagai seseorang yang CERIA? Kayak nggak ada trait lain yang bisa dipilih selain CERIA.

Bau-bau Ilana Tan abis deh ini Winna Efendi. Karakternya bahkan lebih generik ketimbang Paracetamol saya.

Niki di Refrain beneran mirip Ai. Nyebelinnya pun sama, kekanak-kanakannya juga. Mungkin bedanya ada di Ai lebih sering dideskripsikan bermata bulat besar aja.

Sebenernya, kalau saya harus bersikap adil, Winna Efendi sudah berusaha untuk membuat Ai terkesan agak lebih substansial dengan membunuh emaknya (yang omong-omong, doi seniman Bali yang ceritanya FENOMENAL banget di Jepang sana. Makanya si Ai suka makanan pedes. Lah penting amat emang). Dan hubungan dia dengan ayahnya bisa bikin trotoar keramik di Margonda menghela napas lega karena ada yang lebih amburadul. Saya sih mau-mau aja mengapresiasi ini, tapi cara Winna Efendi mengeksekusinya bahkan gak mampu untuk bikin mata saya berkedip, apalagi membuat hati saya berdesir.

Sok lah sana bikin karaktermu sedramatis mungkin, punya masa lalu yang pekat dan kelamnya menandingi tinta cina, tapi plis lha jangan dijadiin trivia ga penting doang. Dibikin benang merahnya kek, apalah. Ini bahkan saya ampe cuma nganggep konflik di Ai itu cuma soal cinta segitiganya doang saking nggak berasanya hubungan-Ai-dan-ayahnya-yang-harusnya-adalah-suatu-konflik. Ya terang aja. Mana puas saya disuguhin konflik asal-di-permukaan macam gitu, yang dimention sekali, trus ilang di pertengahan, trus tau-tau nongol lagi di satu titik cuma buat langsung diselesain. Idih.

Sementara Shin dan Sei…

*berpikir keras*

*masih berpikir keras*

Wah, memorable abis mereka berdua saya ampe cuma bisa inget nama doang. Karakter Harris di Antologi Rasa jadi terkesan semegah Severus Snape kalo dibandingin ama Shin dan Sei. Dan kedua-duanya sama-sama diawali dengan huruf S ini apakah suatu kebetulan yang tidak disengaja? W-o-w. Fishy.

Saya lebih jinak pas baca Ai ketimbang pas baca Refrain, murni karena gaya bahasanya—meskipun standar abis tanpa pesona yang berarti—sesuai dengan preferensi saya. Tapi hal itu tidak membuat ketololan-ketololan yang ada di buku ini jadi bisa lebih saya terima, macam ketiga karakternya keterima Todai dengan terlalu gampang, kehidupan mereka di Tokyo yang saking santai dan tanpa ombang-ambingnya bikin saya curiga sebenernya bukan Tokyo itu settingnya, tapi Jatinangor tahun 2011-2012 (yang omong-omong emang affordable abis. Good times. Gak tau sih sekarang), Shin ngelamar Ai pas mereka bahkan ga ada dibilang udah lulus kuliah…

Dan ketololan-ketololan lainnya yang saya udah lupa.

Takjub saya ama Winna Efendi. Payahnya kok gak abis-abis.

Descendants of the Sun

Saya gampang banget obsesi ama fiksi. Orang-orang boleh cerita semiserable apa hidupnya ama saya atau pamer seunyu apa dia ama pacarnya, tapi persetan, saya gak peduli. Saya orang yang paling nggak empatik sedunia, bodo amat kalo ada orang beneran di sekitar saya habis mendapatkan pengalaman hebat tragis masif terencana dan semacamnya. Bodo. 15 menit kemudian paling juga saya udah lupa dan kembali hanya memikirkan diri sendiri.

Beda ceritanya kalo cerita yang sedang saya terima itu datangnya dari novel, komik, serial TV, atau film.

Biasanya kalo ceritanya captivating banget dengan karakter yang likable, saya bisa memupuk obsesi tersendiri, yang bisa bertahan dalam rentang waktu beragam. Paling sial sehari, dan di waktu-waktu super langka bisa ampe bikin saya nonton/baca berulang-ulang dan gatel pengen sharing ke seisi dunia.

Hadirin sekalian,

Sambutlah,

Drama Korea terbaik tahun ini meski April saja belum habis, alias tahun 2016 baru banget masuk kuartal kedua, karena saya memang senang seenaknya saja kalau ngasih title:

(selanjutnya akan saya singkat sebagai DOTS)

*acrobatic leaps onto the bandwagon*

Diam-diam saya bersyukur saya nggak ngikutin serial ini dari awal, dan baru menyerah pada desakan-desakan kakak saya yang minta saya nontonin ini pas akhir pekan lalu, ketika episode terakhirnya udah tayang dan komplet bersubtitle di KissAsian. Salah satu kenikmatan dunia menurut saya adalah maraton serial TV semalaman. Ugh, the feels. Bakal berkali-kali lipat lebih nonjok dibanding nonton seminggu sekali. Sugoku daebak.

Saya tidak menyesali keputusan impulsif saya untuk mulai nonton DOTS jam 12 malam, maraton ampe besok siang/sore. Pokoknya saya tidak menyesal. Berkat nontonnya maraton, sekarang saya punya obsesi baru yang bikin saya lebih bersemangat menyambut kehidupan saya yang sangat pahit setiap bangun tidur. Siapa yang butuh alkohol/narkoba kalau maraton serial aja udah cukup bikin saya mabuk kepayang dan melupakan lelah dan penat akibat penderitaan tiada akhir dari menjalani peliknya hidup ini???

Awalnya saya, tentu saja sebagai entitas suci yang mengklaim dirinya kritis sekaligus judgmental, tidak teryakinkan dengan premis DOTS:

“This story tells of doctors stationed in the fictional war zone of Urk (Uruk), and follows the love story that develops between a surgeon (Kang Mo-yeon) and a special forces officer (Yoo Shi-jin), both elite in their respective fields. The story will track both their personal and professional struggles while exploring issues about the value of life.”

Respon saya: Bah, militer.

Saya ini tipe orang yang meski tahu dunia memuja-muja film anu atau anu atau anu sebagai film terbaik top 250 IMDB dsb., selama settingnya perang dunia dan melibatkan tentara dan baku tembak dan semacamnya, saya bakalan tetep ogah nonton. Bodo amat dibilang I’m missing out a lot in life. Seantipati itu pokoknya saya ama cerita perang-perangan. Makanya nih saya ga kelar-kelar baca Slaughterhouse Five, padahal aku kan ingin juga terlihat hip dan dianggap melek sastra klasik dunia serta ditakuti warga sekitar, “Wuih satir bacanya Vonnegut.” Mungkin karena secara subconscious saya menolak menerima kenyataan bahwa hal tidak nyaman dan mengerikan seperti peperangan pernah terjadi di muka bumi ini kali ya.

Ya, pokoknya itulah alasan saya nggak tertarik ama DOTS pada awalnya (meski tiap saya liat posternya saya selalu diam-diam mikir ini si cowoknya diliat dari rambutnya kayaknya cakep. Tapi saya punya dignity, saya tidak semurah itu!). Udah mah bawa-bawa militer, pake nyantolin cerita soal dokter relawan pula. Huwek, terlalu humanitarian untuk orang egois dan self-centered macam saya yang lebih senang berdebat dengan diri sendiri apakah pagi ini saya mending sarapan nasi uduk atau nasi kuning ketimbang mengkhawatirkan nasib para pengungsi Suriah. Jangankan mengkhawatirkan, tiap ada tweet berita soal itu aja saya langsung deliberately dismiss the information, meski informasinya cuman judul berita doang.

Tapi kemudian kakak saya ikutan nonton, dan karena kakak saya adalah salah satu figur berpengaruh dalam hidup saya (selera saya sebagian besar dibangun berdasarkan rekomendasi-rekomendasi kakak saya), saya nonton juga akhirnya.

Luar biasa, adegan pembuka di episode pertamanya bahkan sama sekali tidak berusaha untuk memikat orang-orang ogah-nonton-perang-perang kayak saya (adegannya duel sengit antara tentara Korsel vs Korut). Tapi saya sempat nyengir sih pas ada yang call sign-nya Harry Potter. Way to win my attention, scriptwriter.

Terus settingnya ganti dan kita langsung mendapati kedua male lead di luar seragam militer mereka sedang meluangkan waktu liburan dengan menangkap copet menggunakan senapan mainan.

Di titik ini, saya sudah berhenti menjadi kritis dan judgmental seperti biasa, dan memutuskan untuk menerima Song Joong Ki dengan tangan terbuka.

Bye, dunia.

Lupakan kalau aku pernah hidup. Menumbalkan diri pada karisma Song-Joong-Ki-sebagai-Captain-Yoo-Si-Jin terdengar lebih menarik ketimbang “hidup”. Dah. Senang sempat mengenalmu.

Saya punya standar tersendiri untuk memutuskan apakah suatu pairing layak untuk saya puja sebagaimana Helga memuja Arnold (level pemujaan tertinggi versi saya). Nggak banyak yang lolos sih. Saya bahkan cuma bisa recall dua pairing, saking absurd dan gak objektifnya standar saya: 1) Jessica-Marcus (Jessica Darling series), dan 2) Jesse-Celine (Before trilogies). And if I can get away with non-romantic pairing: Shindou Hikaru and Touya Akira from Hikaru no Go, because I love their rivalry just—too—much. Oh, sama Hong Seol dan Baek In Ho-nya Cheese in the Trap versi drama, deh. Although I don’t really want them to end up together.

But anyway, sesusah itu pokoknya biar suatu pairing bisa saya puja habis-habisan dan benar-benar melekat di benak saya. Saya bukan orang yang bakalan terbuai cuma karena ada adegan romantis slow motion ketika si couple ini bertukar pandang untuk yang pertama kali, atau pas Si Pangeran menyelamatkan Si Putri Tak Berdaya dari suatu marabahaya. Adegan kayak gini biasanya bukannya bikin saya ngeship couple itu, malah bikin saya mengapresiasi para kru di balik layar dan mikir gimana caranya mereka tau ngedit adegannya harus begini, pake cut yang ini, musik/sound effectnya begini dsb. yang pokoknya malah bikin saya pengen belajar tentang perfilman dan storytelling alih-alih turut merasa berbunga-bunga.

Jadi saya selalu ngambil rute interaksi. Nggak ada yang lebih pamungkas buat nentuin ini pairing layak dihorein atau nggak selain interaksi antarkarakternya. Interaksi ya, bukan apakah dialognya superromantis dan semacamnya. Nggak ada yang bikin saya lebih ga nyaman dari mendengar seorang karakter mengutarakan cheesy lines… Apalagi kalau penyampaiannya super datar. Horor.

Dan memang DOTS luar biasa, baru satu episode saya kelarin dan saya udah ngeship pairing utamanya, Yoo Si Jin (si tentara) dan Kang Mo Yeon (si dokter), habis-habisan. Serius habis-habisan. Gila ya. Beneran luar biasa. Saya terharu banget. Chemistry yang sulit dipercaya. (#akutidaksedangsarkas)

Kalau ada yang saya sebelin dari plot cerita romantis kebanyakan, itu adalah seringkali pairing utamanya hobi banget main petak umpet dengan satu sama lain. Tarik-ulur, tarik-ulur. Sengajaaaa gitu dilama-lamain sebelum keduanya “setelah a long series of ngambek-ngambek dan cemburu dengki ga jelas, mereka akhirnya dapat meng-embrace satu sama lain secara terbuka dan bersatu.” Itu baru bersatu lho ya, belum ngomongin masalah yang muncul setelah mereka bersatu. Trik kotor buat manjang-manjangin cerita, ampuh dipakai kalau kamu sedang nyusun naskah sinetron.

(Yah, serba salah juga sih. Kalau karakternya kecepatan hit it off-nya, biasanya saya sebagai audiens malah ga bisa konek dan jadi ga bisa ngedukung mereka.

Pada dasarnya saya memang banyak protes.)

Tapi, bagusnya, DOTS tidak seperti cerita romantis kebanyakan.

Saya paling seneng sama pairing yang jujur dengan satu sama lain. Less drama, bikin rileks nontonnya. Makanya saya terharu banget pas Yoo Si Jin langsung blak-blakan aja gitu ama Kang Mo Yeon dari pertama ketemu, lancar jaya nggak pake kode-kodean sampah yang kalian-kalian anut. Kang Mo Yeon-nya juga, alih-alih merespon dengan sok-sok malu-malu atau jual mahal, dia merespon dengan keblak-blakan yang relatif setara. THIS, PEOPLE, THIS. This is how you all should carry your PDKT-ga-guna mission. Saya ngetik ini ampe dengan mata super berkaca-kaca karena saya seterharu itu. See, see there, see? They don’t make it difficult! I looove stories that have characters like this. Nggak ada keruwetan hubungan pasif-agresif yang gak pernah gagal bikin saya dongkol dan gak sabaran bukan main, yang biasanya selalu ada di cerita romantis kebanyakan. I know because I read a lot of shoujo mangas ok.

Pokoknya saya sudah memuja-muja Yoo Si Jin dan Kang Mo Yeon sejak episode 1. They’re the saikou.

Yah, ada satu lagi sih pairingnya. Cuma karena yang satu lagi ini hubungannya lebih complicated dan lebih punya sejarah ketimbang pairing utama kita yang baru ketemu satu sama lain di episode pertama, saya tidak terlalu bersemangat. Lebih seru ngikutin hubungan yang baru mulai buat saya.

Cinta bangetlah saya cinta banget sama mereka berdua ini.

Terus ya yang menyenangkan dari nonton DOTS, tidak seperti yang saya sangka pada awalnya, mereka menyampaikan elemen-elemen lain di ceritanya dalam cara yang membuat penonton seperti saya tidak merasa terbebani. Saya emang males ama perang-perangan, tapi saya nggak ampe pengen skip pas pertama nonton, masih rela mengikuti dengan sepenuh hati. Saya juga males sebenernya pas DOTS bawa-bawa karakter antagonis yang punya bisnis gelap berbahaya, tipe-tipe drug dealer gitu cuman ini senjata. Saya udah kenyang ama film-film buatan negeri-di-belahan-dunia-yang-lain yang selalu bawa-bawa karakter begini buat bikin tegang cerita. Tapi gapapa, saya masih bisa nontonin kok, meski males-males bosen gimana gitu. Kayaknya ini hal yang paling sulit saya terima di DOTS deh, bagian antagonisnya datar abis. Tapi tentu saja saya maafkan HA HA HA HA aku memang luar biasa bias. Mereka bisa bikin antagonisnya seklise dan secheesy apapun dan saya akan tetap bilang DOTS adalah drama Korea terbaik tahun ini cuma karena ada Yoo Si Jin dan Kang Mo Yeon di dalamnya, hmph.

Yang paling menyenangkan nomor dua, dan yang bikin saya ga bisa berhenti nonton dan ngeklik next episode, ketika DOTS mencoba kocak, saya selalu bisa ngakak-ngakak ampe kehabisan napas. Mau udah nonton ulang berapa kali pun, setiap saya tiba di adegan komedinya saya selalu bisa ketawa, ampe perlu pause segala bahkan. Drama Asia memang suka ajaib dalam hal beginian. Drama lain yang juga gak pernah gagal bikin saya ketawa setiap saya nonton ulang adalah Hana Kimi versi tahun 2007. Sebenernya sebelum saya memutuskan untuk nonton, saya sempat tanya kakak saya DOTS komedinya banyak atau nggak, dia cuma jawab “Ada kok.”

Cih.

Penipuan besar-besaran.

Apaan “Ada”, ini mah udah level “Oh DOTS emang komedi sebagaimana Hana Kimi adalah komedi.”

Tapi mungkin buat saya aja sih. Militer-militer dan medis-medisnya sebenernya tetep ada di setiap episode, tapi karena komedi merupakan suatu hal yang salient bagi saya, saya secara sembrono menyimpulkan kalau DOTS adalah komedi (romantis) dan sengaja mengabaikan elemen lain.

Saya memang reviewer yang dapat dipercaya.

Yang paling menyenangkan nomor satu tentunya Yoo Si Jin dan Kang Mo Yeon. *tangis haru merebak* Mau berapa kali ya saya bilang kalau saya Cinta, dengan C besar, banget ama pairing ini? Kayaknya dari awal entri ini dimulai itu-itu mulu saya bilangnya. Sampe saya ngetik ini saya udah dua kali lho nonton ulang DOTS, padahal saya baru pertama kelarin hari Minggu kemarin. Dua kali nonton ulang demi menikmati adegan-adegan Yoo Si Jin dan Kang Mo Yeon bersama. Racun macam apa ini.

Segala banter antara mereka berdua sungguh menyenangkan untuk ditonton dan meninggalkan kesan yang begitu mendalam, sebagaimana banter antara Jessica-Marcus dan Jesse-Celine buat saya. Flirting-flirtingnya Yoo Si Jin juga astagfirullah saya gemas tiada dua. Karismanya menguar-nguar banget setiap dia interaksi ama Kang Mo Yeon ugh sungguh tidak adil bagi jiwa yang rapuh lagi murah ini. And what I love the most is that they make it look so natural and casual, jujur tanpa pretensi dibuat-buat.

Gimana saya jadi gak obsesi coba? Gimana saya gak nyembah-nyembah mereka kayak Helga nyembah-nyembah Arnold coba??

Tapi ketika DOTS harus serius, penyampaiannya tetep oke. Yah, meski adegan-adegan serius itu selalu saya skip setiap saya nonton ulang (saya nonton ulang cuma buat adegan Yoo Si Jin dan Kang Mo Yeon, ingat?). Dan ketika DOTS harus heartbreaking, ya heartbreaking abis. Berulang kali saya nonton ending episode 7, berulang kali juga saya ikutan merasa patah hati. Ugh, Song Joong Ki membawakan perannya sebagai Yoo Si Jin dengan sangat baik. Sasuga Song Joong Ki-sama. Daebak. Huhu Song Joong Ki mailaff.

Hih. Saya harus berhenti sebelum saya mulai menghabiskan beralinea-alinea tentang betapa suaranya Song Joong Ki kelewat memabukkan di setiap suasana.

Descendants of the Sun pasti punya kelemahan. Mungkin bagian militer atau medisnya nggak cukup realistis buat sebagian orang, atau mungkin ada adegan tertentu yang bertentangan dengan apa yang terjadi di kehidupan nyata, tapi kalau kalian tanya saya, ya:

Bodo amat.

Ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha.

Bodo.

Descendants of the Sun telah memperkenalkan saya dengan pairing luar biasa Yoo Si Jin dan Kang Mo Yeon, yang mana kehadiran mereka tidak pernah gagal membuat saya merasa antusias dan berbahagia bahkan sejak kali pertama kedua karakter ini bertemu. Pairing ini benar-benar sampai melekat di benak saya, menemani Jessica-Marcus dan Jesse-Celine yang harusnya udah sangat kesepian sebab dari bertahun-tahun saya mengonsumsi berbagai cerita, ujung-ujungnya saya tetap kembali pada dua pairing abadi itu dan menolak untuk memperamai batalion. Yah, tentunya sampai saya menonton Descendants of the Sun.

Pairing romantis abadi yang saya junjung setinggi Helga menjunjung Arnold sekarang jadi ada tiga: 1) Jessica-Marcus, 2) Jesse-Celine, dan 3) Yoo Si Jin dan Kang Mo Yeon. Batalion saya akhirnya rame dikit. Saya punya bahan obsesi lebih banyak yang dapat membantu saya merasa lebih bersemangat menelan segala kepahitan hidup dan membuat pikiran-pikiran depresif saya terangkat sewaktu-waktu. Saya jadi merasa jadi lebih gampang damai dan bahagia. Semuanya cuma karena saya punya tambahan satu pairing romantis abadi: Yoo Si Jin dan Kang Mo Yeon.

PEDULI APA SAYA KALO DESCENDANTS OF THE SUN PUNYA KELEMAHAN-KELEMAHAN TAK TERMAAFKAN?

Thanks.

PS: Ayo nonton DOTS dan ikut memuja Yoo Si Jin dan Kang Mo Yeon bersamaku.

PPS: Soundtrack DOTS yang ini sangat meng-induce kedamaian lho ayo dengarkan. Tonton dramanya dan repeat one soundtrack yang ini seperti yang sedang kulakukan ok.

Kakuro

kakuro

Pengakuan dosa: Saya nggak ngerti gimana cara main sudoku.

Ya.

Saya memang payah.

Ngerti sih cuman naroh-naroh angka 1-9 doang, tapi saya kan nggak se-gullible itu. Saya yakin, main Sudoku pasti melibatkan sesuatu yang saya nggak tahu apa, dan pastinya saya nggak ahli. Kalo iya, pasti saya udah jago.

Sejujurnya saya nggak ngerti gimana cara main Sudoku sebab tiap kali saya mencoba, saya merasa seperti orang bego yang nebak-nebak doang tanpa pake strategi berarti. Brute force maxima. “Ah kayaknya 9 nih. Lah bukan. Apus deh, mungkin 4. Eh. Ehhh. Hih. Monyet.”

Saya nggak suka merasa bego. Pride saya ini terlalu rapuh untuk merasa bego. Ngapain saya mainin teka-teki yang membuat saya merasa bego? Saya kan inginnya divalidasi kalau saya ini memang pandai dan sangat hebat, huh. Kalau ada game yang malah bikin saya jengkel karena saya nggak ngerti-ngerti mainnya gimana, mending saya berlagak pura-pura nggak tertarik dari awal aja. No, I obviously am not looking at Sudoku.

Makanya pas saya nemu ada teka-teki angka lain bernama Kakuro, dan menemukan bahwa Kakuro jaaauh lebih mudah dimengerti, saya bersorak gembira. Wuooohh! Akhirnya!! Suatu teka-teki angka yang bisa membuat saya berlagak snob sok logical Sherlock gadungan aku-orangnya-emang-logika-banget sangat matematis dan semacamnya. Y e s.

Dan yang paling oke dari segalanya: Kakuro punya flow. Unlike those stupid Sudokus that like to keep me in the dark. Yuck.

Kayak di puzzle yang saya foto ini, yang di sebelah kiri itu. Mungkin nggak terlalu kelihatan karena saya kalo tulis tangan emang suka terlalu halus, apalagi pake pensil, But anyway, karena bentuk puzzlenya yang kayak tangga itu, ngerjainnya jadi asyik banget. Kalo satu clue udah kelar, bisa jadi start buat clue lain juga. Ini pas saya ngerjainnya kebetulan dari atas ke bawah gitu, jadi pas udah ngisi buat clue yang paling atas, ngerjain ke bawahnya udah berasa kayak main perosotan.

Sebuah perasaan yang menyenangkan dan membuat saya merasa sangat tervalidasi.

Trims, Kakuro.

Book Murder: Refrain by Winna Efendi

Susu kedelai unsweetened yang saya beli tempo hari lalu, yang sebenernya super hambar itu, masih jauh lebih berasa daripada cerita di novel ini.

Alkisah, tersebutlah sepasang BFF bernama Nata (cowok) dan Niki (cewek). Nama yang kompakan sama-sama dari N ini cuma kebetulan, kok, bukan karena intensi terselubung penulis yang sebenernya udah ngejodohin mereka berdua dari awal. Mereka udah sahabatan dari kecil, deket bangetlah pokoknya. Rumahnya juga satu komplek, seberangan malah kalo saya nggak salah inget.

Tentu saja, sebagaimana novel-novel dangkal pada umumnya, kedua karakter yang ceritanya sahabat sejati ini kepribadiannya harus bertolak belakang. Niki sebagai karakter happy-go-lucky optimis tipikal, dan Nata sebagai karakter sinis pesimis tipikal. Dan tentu saja, sebagaimana taktik novel remaja sekolahan pada umumnya, harus ada karakter anak pindahan sebelum ceritanya jalan. Di Refrain, karakter anak pindahan itu adalah Annalise, atau sebut saja Anna.

.

.

.

Fine, I’ll save you the time.

This book is CRAAAAAAAAAPPPP.

JUELEK. BUANGET.

Nggak cukup cuma ceritanya yang klise anying, karakter-karakternya juga tipikal karakter template semua. Tau kan, karakter-karakter nggak bernyawa yang dime-a-dozen cuma beda nama doang. Like those Ilana Tan is famous for. Hanya saja—saya nggak percaya saya bakal bilang gini—Ilana Tan mengeksekusi segalanya agak mendingan.

GODDAMN DID I REALLY JUST SAY THAT!?

*merinding*

Horor abis masa depan teenlit Indonesia.

Jujur aja ya, sebenernya saya masih bisa ngakak-ngakak pas awal-awal cerita. Misalnya pas tau-tau ada dibilang soal liburan musim panas 2 bulan padahal ini cerita settingnya di Jakarta, saya masih ngakak. Atau pas si Anna pas pertama kali ketemu Danny, abangnya Nata, tau-tau dapet hunch “Cowok tadi… pasti menyimpan sebuah luka yang kelam.” Padahal baru ketemu doang lho, papasan nggak penting yang nggak pake ngobrol gitu. Itu saya beneran ngakak, sumpah.

Saya tau kok novel yang saya baca ini adalah novel bego-begoan, jadi saya udah berjanji sama diri sendiri kalau saya nggak bakal serius-serius amatlah bacanya. Paling saya ketawain aja kalau ada yang bego. Ketawa menghina.

But then this crap surprised me.

Saya udah nggak bisa ketawa. I no longer can take it as a joke.

It’s a friggin disaster.

Entah sejak kapan dan di bagian mana, tawa menghina saya lenyap diganti amarah dan hasrat tak tertahankan buat ngebanting buku ini. Yang tadinya saya kira bisa saya anggap sebagai dagelan, ternyata menjelma menjadi sesuatu yang ofensif.

Asli separah itu.

Ini saya bahkan masih kelimpungan dengan emosi campur aduk ga tau mau ngebantai dari belah mana dulu.

  • PLOT

Saya nggak apa-apa sama plot klise, beneran deh. Saya pengertian, kok. Nggak apa-apa kalau emang nggak mampu merancang kerangka baru dan cuma bisa bergantung sama formula yang udah ada, serius gapapa. It’s oke. It’s not entirely your fault for being born with such limited capabilities. Syadzwina mengerti, Syadzwina penuh belas kasih. Ya menurut kalian kenapa coba saya bisa tahan baca sekian shoujo manga yang sebenernya ceritanya cuma muter di situ-situ aja? Atau betah baca buku-bukunya Rick Riordan?

Tapi mbok ya seenggaknya tau diri dikit kek, usaha dikit kek. Dengan plot seklise itu, sepredictable itu, o mbak penulis yang baik, o Winna Efendi yang baik, tidak bisakah kamu menebusnya dengan penceritaan yang layak dan tidak seenaknya saja?

Because, frankly, Refrain is such a huge, yurusenai, mess.

Mungkin karena pake sudut pandang majemuk (halah) (maksud saya multiple POVs). Suka digilir antara Nata, Niki, Anna, dan bahkan karakter minor lainnya kayak Danny (abangnya Nata) atau Klaudie (adeknya Niki) yang menurut saya malah nggak penting. Saya nggak paham buat apa karakter minor begitu perlu dikasih porsi segala, seiprit doang pula. Mending guna, lah ini kagak, cuma nambah-nambahin halaman dan berat-beratin memori pembaca doang. Maksud saya, ya trus kenapa kalo Danny udah putus ama Miriam? Trus kenapa kalo papasan ama Anna bikin Danny keinget Miriam dan jadi “menguak luka lama”? Apa “luka lama” si Danny ini segitu pentingnya ke keseluruhan cerita he deserves his own POV? Emangnya bakal dieksplor segitunya soal “luka lama” ini? Nggak kan?? Dimention sekilas di percakapan aja pembaca juga udah bisa tahu kan??

Si Klaudie juga gitu. Guna ngasih dia porsi sudut pandangnya sendiri ketika dia bukan karakter utama itu apa coba? Saya nggak paham. Dia kan cuma muncul sebagai karakter yang selalu ngasih petuah bijak ke Niki tiap sesi curhat mereka. Apa bedanya coba dengan diceritain dari sudut pandangnya Niki? Apa cuma biar bisa ngasih tau pembaca “ada sesuatu yang aneh dengan Niki hari ini”? Atau biar bisa ngasih tau pembaca kalau “Oh. Kakaknya sedang jatuh cinta.”??

Nggak penting abis kan ya.

Itu baru soal sudut pandang dari karakter minor. Rotasi dari satu sudut pandang ke sudut pandang lain juga nggak rapi, nggak nyaman dibaca. Dan yang paling saya nggak suka, di satu bab sudut pandangnya bisa ganti-ganti, ala-ala Antologi Rasa gitu. Jadi beberapa kali saya akan membaca cerita dari sudut pandang Anna sebanyak 4 paragraf sebelum kembali ke Nata lagi. Ngeselin nggak sih? Dan nggak cukup cuma itu doang, tiap ganti sudut pandang biasanya suka ada headlinenya gitu, formatnya gini:

Wish #13: Blablabla (Annalise)

Dan sesekali digabung sekaligus dua atas-bawah kayak gini:

Wish #n: Blablabla (Niki)

Wish #n+1: Blablabla (Oliver)

Atau malah kayak gini:

Wish #99: Blablabla (Niki dan Nata)

YANG SEBENERNYA NGESELIN BANGET.

MAKSUDNYA DIBIKIN KAYAK GITU ITU APA SIH? DIGABUNG-GABUNG GITU?? DIKIRA NGGAK NGEBINGUNGIN APA???

Kesel saya.

Dan yang lebih bikin saya kesel lagi, Winna Efendi ini nggak niat nyusun layer ceritanya. Semuanya asal main ditumpuk-tumpuk aja. Ujug-ujug ada subplot A, ujug-ujug ada subplot B. Saya inget saya beneran marah banget pas ngebaca chapter ke-sekian yang dibuka dengan kalimat “Deadline lomba fotografi tinggal beberapa hari lagi.”

WHAT THE FUCK.

HOW DARE YOU.

HOW DARE YOU TO SUDDENLY TALK ABOUT DEADLINE LOMBA FOTOGRAFI WHEN YOU NEVER, TRULY NEVER BRING UP ANYTHING ABOUT ANY LOMBA FOTOGRAFI BEFORE. HOW DARE YOU, YOU FOUL, FILTHY PRICK.

Penulisnya minta digampar. Emangnya saya pembaca serendah apa, cuma disuguhi dengan penulisan super berantakan, serba tiba-tiba begini? Nggak sopan. Lancang ya kamu, Winna Efendi.

And then there’s also namedropping merek fesyun ternama.

  • KARAKTER

Everyone is horrible and nobody is likable nor relatable.

Persahabatan antara Niki, Nata, dan Anna itu dusta. Jangan tertipu. Yang sahabatan itu cuma Niki dan Nata aja, Anna cuma karakter tempelan lemah yang nggak guna, yang pertamanya dibikin naksir Nata biar ada bumbu-bumbu “sakitnya mencintai sahabat” aja tapi di ending ujug-ujug ama Danny gitu aja. Benar-benar karakter yang penuh kesia-siaan. Cerita tanpa dia juga bakalan sama aja.

Saya muak ama karakter kayak Niki, tipikalnya udah keterlaluan banget saya nggak tahan. Ceria, manis, MUNGIL (harus capslock karena mungil adalah fitur Niki yang paling prominent), naif, MUNGIL, optimis, MUNGIL, polos, pemaaf, MUNGIL, MUNGIL, MUNGIL.

Saya juga nggak kalah muak ama karakternya Nata yang SINIS, SINIS, SINIS, SINIS, SINIS, SINIS, tapi kalo ngomong nggak ada bau sinis-sinisnya sama sekali. Sinis hanya karena dia suka dideskripsikan ‘sinis’. Sinis gagal. Persis karakter-karakter Slytherin jejadian di IH.

Ngga deng, Slyth jejadian IH lebih maju selangkah.

Terus ada Helena, antagonis kita yang suatu hari akan nusuk Niki dari belakang, dan yang kemunculannya sebagai antagonis bikin saya pengen nangis histeris saking syok dan nggak nyangkanya ada penulis yang bisa seamburadul ini. Kayaknya semua rumus cerita remaja dipake ama doi tanpa tahu malu.

Kesimpulan dari membaca Refrain: Saya trauma sama Winna Efendi.

(Saya juga gak gampang kapok (dan senang maki-maki), oleh karena itu, next up on Book Murder: AI by Winna Efendi)

Book Murder: Our Story by Orizuka

Ngebaca blurb di kover belakang buku ini nyeret embel-embel “sekolah buangan”, saya udah suuzon kalo ceritanya bakal ke-Gokusen-Gokusen-an. Atau apalah, tipikal dorama-dorama sekolahan Japonais yang satu sekolah isinya preman semua.

Suuzon saya gak sia-sia.

Yasmine adalah siswa pindahan dari Amerika Serikat, pindah karena ibunya di Jakarta sedang sakit keras (sekarat, bahkan) sementara ayahnya tidak bisa ikut karena alasan kerjaan dan semacamnya. Pindahnya ke SMA Budi Bangsa, SMA buangan, karena orang suruhan teman ayahnya salah dengar Bukti Bangsa (sekolah internasional) menjadi Budi Bangsa. Jadilah Yasmine terdampar di sekolah yang isinya anak-anak tak punya masa depan. (Komentar saya: Betapa orisinil.)

Yasmine kemudian bertemu dengan Nico di hari pertamanya. Nico adalah ketua geng sekolah, siswa berandalan namun tampan (kalau saya tidak salah ingat), dan karena suatu alasan misterius mengancam anggota gengnya bahwa Yasmine adalah miliknya setelah mereka bertemu untuk pertama kali. Sebenernya ya, Nico akan terlihat impresif di mata saya kalau saja Orizuka:

1) Nggak pake deskrip kalo Nico doyan nenteng-nenteng tongkat baseball dengan gerakan mengancam. (Tongkat baseball? Di Indonesia? B-a-s-e-b-a-l-l? Di sekolah yang katanya buangan? *tertawa sopan* *tertawa sederhana* *tertawa indah* *tertawa permai*)

Dan, 2) nggak bikin catchphrasenya Nico itu, “Pengkhianat harus menerima akibatnya.” (*cek kover* Ini beneran bukan naskah dorama yang gagal tayang?)

Kemudian kita bertemu dengan Ferris, heroic cool guy kita. Ferris adalah satu-satunya karakter yang namanya aneh menurut saya. Anak uorang kuaya, tentu saja tampan, yang pindah ke SMA Budi Bangsa karena ingin memperbaiki hubungan dengan sohib lama (spoiler: psst, Nico, psst) yang rusak karena kesalahannya di masa lalu. Hashtag favoritnya adalah: #akuterlaluseringdikecewakanorangdewasa #akutidakakanpernahpercayaorangdewasalagi #selamanya.

Ada lagi Sisca, pecun kelas teri kita, dan Mei, pecun kita yang lebih beneran. Dan karakter-karakter yang tidak punya masa depan lainnya, seperti Harris. Bukan, bukan Harris Risjad. Ini Harris bawahannya Nico.

Novel ini, singkatnya, bercerita tentang bagaimana murid-murid ini menjadi berani untuk kembali bermimpi.

Ea.

Sebenernya, ya, Our Story ini lumayan dari segi penceritaannya, nyusunnya ya lumayan rapi lah. Saya terkesan, kok. Meski predictable abis buat saya yang doyan nonton dorama, unfolding of events-nya bisa saya kasih anggukan setuju lambat-lambat. Orizuka, tidak seperti penulis tertentu, juga masih berusaha agar karakternya nggak dangkal-dangkal amat. Misalnya pas bagian ujug-ujug si Yasmine ngaku anorexic. Atau pas bagian mengungkap fakta bahwa ibunya Mei harus operasi makanya dia jadi pelacur. Atau Sisca yang kurang duit buat bayar sekolah makanya melacur. Atau Nico yang bapaknya, ups, tukang madat, abusive, dan sekarang napi. Cukup kompleks ya, saya akui saya lumayan terkesan sama usaha memperdalam karakter ini meski usaha dalam mengemas segala kompleksitas karakternya hanya bisa saya beri bola mata yang berputar. Standar saya setinggi JK Rowling, adil banget emang.

Tapi tetep, bukan saya namanya kalo nggak bisa nemu sesuatu buat diomel-omelin dari suatu buku. Teenlit pula. *mendengus angkuh*

1) Karakter Yasmine ini nggak masuk akal. Saya nggak percaya aja ada orang emaknya koma sekarat trus… biasa aja gitu. Maksudnya, abis emaknya udah bangun ya udah aja gitu ga ngomong-ngomongin emaknya lagi sampe novelnya kelar. Apa sih ini nama kerennya? Plot device? Ya pokoknya itu, biar alasan Yasmine pulang dari Amrik ke Indonesia terkesan valid aja so this story could happen. Lah emangnya kelar koma nggak ada anuan yang perlu dikhawatirkan lagi gitu soal nyokapnya? Lagian koma karena kecelakaan apa sih? Kenapa emaknya abis koma malah sempet-sempetnya nyuruh Yasmine sekolah?? Misteri abis. Dan nggak cuman itu, cara Orizuka ngebawain si Yasmine ini juga nyebelin. Ya aku ngerti kamu sebenernya nggak mau sekolah tapi ngga mau emakmu khawatir okelah tapi apakah perlu ngemention itu untuk ngebuka sekian chapter berturut-turut. Si Yasmine-nya sendiri juga nyebelin, taulah tipikal karakter dengan kompas moral setegak Ka’bah, hobi ikut campur, sok pahlawan, senang membela kebenaran, dsb. Karakter-karakter yang tinggal sejengkal dari trope holier than thou

2) —yang juga menjadi alasan saya nggak suka sama Ferris. Ferris ini Yasmine versi cowok, percayalah. Cuma lebih doyan ceramahin orang dikit, yang makanya saya nggak suka. Nih ya, si Ferris ini ampe jualin mobilnya biar bisa bayarin Mei 7 juta sebulan, biar Mei nggak usah terima orderan lagi. Masuk akal nggak?? Our Story ini memberi ide yang salah tentang bagaimana dunia ini bekerja, cih. Daripada ngurusin biar temen yang pelacur nggak usah ngelacur lagi pake duit sendiri, mending u mastiin dia rajin check up dan mastiin dia selalu pake kontrasepsi. Itu kan pesan yang lebih berguna buat generasi muda. Jauh lebih berguna ketimbang membuat si Ferris concerned sama bagaimana “rok Mei yang pendek itu membuatnya risih” dan bagaimana Mei “kayaknya lebih cakep nggak usah dandan, deh.” Saya yang nggak dandan aja sebel denger komentar kayak gitu. Apa jangan-jangan emang sengaja karakter si Ferris dibikin kayak gitu, ya, biar mencerminkan kehidupan yang sebenarnya… Hm.

3) Untuk ukuran setting sekolah yang katanya buangan bobrok dan lain sebagainya, ada beberapa hal yang menurut saya kurang meyakinkan (selain perihal tongkat baseball Nino):

a) satu kelas 12 di sekolah bobrok isinya 30 orang? Nggak kebanyakan? Di benak saya ya kalo ada yang bilang sekolah buangan bobrok, yang kebayang di saya itu yang macam Laskar Pelangi yang sekelas cuman 10 orang;

b) ketika Harris bilang “Laen kali coba lo beli di Way Kambas”, yang terpikir oleh saya adalah ini: “Mz kamu terdengar terlalu intelek dengan namedrop Way Kambas yang saya yakin seseorang cuma bakalan inget kalau dia pernah baca RPUL cover to cover. You’re a preman in sekolah buangan bobrok, remember? You’re supposed to be stupid.”;

dan c) ketika Mei bilang kalau dia curiga si Yasmine anoreksia. Saya langsung skeptis dong, “Kok kamu bisa tahu tentang anoreksia?? Kamu kan tipikal pelacur bego yang lebih seneng baca buku yang ada gambarnya cuma biar nggak ngantuk? Kok kamu yakin itu anoreksia dan bukan eating disorderlainnya?” Tapi kemudian si Mei bilang kalau ada kenalannya atau apanya kliennya gitu yang pernah cerita soal anoreksia. Hmph, tentu saja saya masih tidak bisa teryakinkan. “Kok kamu bisa inget informasi setrivial itu? Kamu kan Bego (dengan B besar)??! Kok bisa-bisanya hal kayak ‘anoreksia’ nempel di otak kamu dan sampai bisa kamu recall padahal itu kan jargon medis?? Kok???!”

Di mata saya, karakter bego harus tetap bego sepanjang buku, kecuali kalau itu menyangkut hobi/skill spesial dia yang nggak guna/dsb. #akumemangjudgmentalluarbiasa

Oh, sama ini deh, terakhir,

4) Adegan unyu/romantis antara Yasmine dan Nino lebih sering bikin saya nggak nyaman dan pengen lempar bukunya ketimbang merasa doki-doki. Snippet:

“Gue tau lo pasti masih ada di sini,” kata Yasmine sambil tersenyum. “Makanya gue dateng pagi-pagi. Ini, sarapan dulu.”

Nino menatap Yasmine yang masih tersenyum, lalu kembali menatap kotak bekal bergambar Hello Kitty itu dan menerimanya. Yasmine segera duduk di depannya.

“Punya lo…?”

“Oh, gue? Udah makan,” jawab Yasmine cepat, membuat Nino mengangguk-angguk. Nino lantas membuka tutup kotak bekal itu, membuat Yasmine segera meringis. “Gue nggak bisa masak, sori ya.”

Nino menatap nasi putih beserta beberapa sosis goereng dibentuk gurita dan telur orak-arik yang ada di dalam kotak bekal itu, tapi tak lantas melahapnya. Ia menatap Yasmine lekat-lekat, lalu dengan sekali gerakan cepat, ia meraih kepala Yasmine dan mengecup dahinya.

Yasmine melongo parah sementara Nino segera asyik mengunyah sosis.

Alih-alih merasa doki-doki, saya malah dapet secondhand embarrassment pas bacanya. Satu-satunya adegan Nino/Yasmine yang membuat saya sampe aww, dan bahkan mungkin salah satu highlight dari buku ini, itu cuma pas Nino bilang gini: “Kenapa lo nggak pindah ke sini tiga tahun lalu?”

Trus udah. Gitu aja.

Mengecewakan, Our Story ini. Ya emang nggak separah itu sih, tapi nggak fantastis juga. 1,5 bintang lah, dengan pembulatan ke atas. Gapapalah jadi 2 bintang aja.

Hal-hal (Penting) yang Sedang Ingin Saya Utarakan

  • Corinne Bailey Rae mau rilis album baru.

Artist yang saya ikutin karir bermusiknya itu cuma ada sejumput nama. CBR ini salah satunya.  Saya orangnya super pemilih sih. Udah gitu musik kesukaan saya biasanya yang indie-indie hipster yang ga banyak orang yang tau gitu *hidung kembang-kempis*. Taulah. Yang musiman. Yang biasanya cuma nelurin satu album trus susah banget dicari donlotannya, cuma bisa denger online lewat Spotify. Jadi pas kemarin saya scroll newsfeed Facebook dan menemukan bahwa CBR ngepost teaser album baru, saya histeris dong.

Bahagia banget saya pokoknya pas denger teasernya. Saya seneng musik-musiknya CBR ini kayak punya anuannya sendiri. Kalo udah lamaaaaa banget nggak dengerin trus dia rilis lagu baru gitu, tetep noticable zing-nya (???). Rasanya kayak menemukan kembali cinta yang sudah lama terpendam…literally.

Kan The Sea keluarnya udah 6 tahun lalu….

Intinya: *motivasi hidup nambah sebiji*Read More »