Book Murder: Let Go by Windhy Puspitadewi

Kadang saya nggak ngerti ama selera saya sendiri.

Antologi Rasa saya maki-maki, Our Story meski sebenernya mendekati lumayan masih aja tega saya selepet sana-sini, trus Refrain saya hina-hina dan Ai juga gak saya kasih ampun cuma karena saya tersinggung banget penulisnya nggak niat riset.

Pas baca Let Go saya mingkem kayak anak kecil disogok permen.

Saya serius. Percaya atau enggak, saya cukup menikmati membaca Let Go ini.

Cerita bego-begoan itu ada dua macam, satu bikin saya pengen jedukin kepala ke meja, satu lagi tipe bego yang malah bikin saya ketawa. Seabsurd apapun kedengarannya, buat saya Let Go ini ada di kategori kedua. Kalau saya tarik lebih jauh, ngebaca Let Go ini tuh kayak nonton drama produksi anak SD yang emang ditonton buat diketawain karena geli aja, bukan buat dikritik. Dan saya bisa terima-terima aja gitu.

Premisnya sebenernya terlalu familiar dan pasaran. Alkisah ada murid SMA berandal begajulan namanya Caraka… Ya. Dari satu kalimat ini aja saya yakin siapapun bisa nebak jalan cerita berikutnya. Yang tokoh utamanya berandal begitu mah ya paling ntar larinya gak jauh-jauh dari “bertemu dengan orang yang berbeda jauh darinya kemudian [conflict] kemudian [resolution] dan pada akhirnya [karakter terlahir kembali dengan sikap baru yang lebih dewasa]”. Di buku ini diterjemahkan menjadi, “Caraka, anak SMA yang terancam DO, terpaksa harus mengurus mading sekolah demi menyelamatkan statusnya sebagai pelajar. Dia harus bekerja sama dengan Nathan (super sinis), Nadya (perempuan tangguh), dan Sarah (benar-benar pemalu). Blablabla intrik blablabla.”

Alias tipikal plot coming of age.

Ga masalah buat saya, toh nothing new under the sun. Yang tricky kemudian adalah bagaimana cara mengemas cerita pasaran ini menjadi sesuatu yang masih bisa dinikmati. Let Go, dengan segala ketulusan hati saya, patut saya kasih anggukan, sambil nyengir ketawa.

Jadi si Caraka ini orangnya, sebagaimana karakter berandalan pada umumnya, meledak-ledak dan gampang kesulut emosi. Berantem mulu kerjaannya. Adegan pertama dibuka dengan Caraka lagi diceramahin wali kelasnya, yang tentu saja, sebagaimana karakter wali kelas pada umumnya, amat sabaran, pedulian, dan besar hati. Setelah adegan diceramahi guru, Caraka mergokin gerombolan berandalan lainnya lagi mojokin anak orang, yang dikasih nama Nathan ama penulisnya. Tentu sebagai tokoh utama laki-laki, Caraka harus menunjukkan sisi pahlawan pembela kebenarannya dengan menginterupsi gerombolan berandalan tadi dan kemudian, mungkin, dengan gagah ujug-ujug menumbangkan mereka semua.

Di sinilah saya mulai ngakak (terhibur). Bukan karena si Caraka, tapi lebih karena cara si penulis menuturkan adegan Caraka nginterupsi gerombolan itu. Kira-kira begini:

“Siapa kamu?!!” tanya mereka. “Jangan ikut campur!”

“Pengecut!” ejek Caraka kesal. “Atau, emang sudah budaya sekolah ini selalu main keroyokan?”

“SIALLL!!!!!” Salah satu gerombolan itu maju siap menerjang Caraka dan cowok ini pun sudah bersiap hendak menghadapinya.

“TUNGGU!!!” teriak salah seorang dari gerombolan itu.

“KENAPA?” tanya cowok yang akan menerjang Caraka itu dengan marah.

Beneran deh saya ngakak. Pertamanya saya merasa geli aja karena tanda serunya yang berlebihan, trus pake kapital juga. Tapi yang kemudian bikin saya meledak ngakak adalah pas bagian “TUNGGU!!!” “KENAPA?” itu. Di otak saya, adegan ini keputernya mulus banget ala-ala dorama live action yang aktingnya super awkward dan lebaynya ga ada rem. Coba, orang macam apa sih yang udah panas tinggal tonjok pas diteriakin “TUNGGU!!!” sempet-sempetnya ngebales “KENAPA?” selain karakter-karakter dorama live action? Karena saya udah punya skema dorama live action di kepala saya, alih-alih geuleuh, saya malah terhibur pas baca adegan ini (ini penting karena saya malah jadi lebih lunak pas lanjut ngebaca).

Dan si penulisnya sepanjang buku ini gaya berceritanya emang kayak gitu. Komik banget, dorama live action banget. Fast-paced penuh dialog dan ekspresif sekaligus. Sebagai generasi instan, saya kan suka banget dialog fast-paced. Cuma, yah. Nggak semulus itu, emang, malah saya bakal bilang ini dialognya sebenernya pada maksa bener dan terlalu terkesan dibuat-buat, ketara banget ‘fiktif’-nya. Rawan masuk kategori dialog yang akan bikin saya ketawa dan mencebik, “Nobody talk like that in real life.”

Terutama pas bagian Caraka ama Nadya berbalas kutipan film Casablanca, hadeh LOL WTF is this why am I still reading this banget. Atau pas bagian Caraka, sebagai bagian dari twist yang tidak benar-benar twisting, tiba-tiba merepet tentang sejarah anu pas mendadak ditanya guru di kelas sejarah dengan lancarnya (penulisnya lagi mau nonjolin sisi lain Caraka yang keliatannya berantem mulu). Ketika saya bilang merepet, maksud saya adalah berorasi dengan pilihan kata yang terlalu mengesankan dia lagi ngediktein buku teks alih-alih mengesankan dia lagi ngejawab pertanyaan guru dengan spontan. Atau kapan aja tiap Nathan ngomong deh, sinisnya ngegas mulu ga abis-abis.

My eyes rolled so hard I can even see through the back of my head.

Dan yang membuat semuanya menjadi borderline annoying, penulisnya ga bisa konsisten mau pake gaya bahasa apa. Kadang saya menangkap oh penulisnya make gaya bahasa gaul, tapi di dialog sana-sini malah berasa kayak setengah terjemahan hadehhh. Gini-gini amat si Windhy nulis novel. Kalo mau gaul ya gaul sekalian dong, kalo mau kaku tetap terikat tata bahasa ya kaku sekalian. Kalo setengah-setengah gini kan alur dialognya jadi gak alus dibacanya. Emangnya enak ngebaca dialog kayak gini:

Nadya: “Kamu mau lihat jawabanku? Aku udah hampir selesai.”

Caraka: “Makasih, tapi aku benci diremehkan. Aku mau kerjakan sendiri dulu.”

Can you feel that awkward, uncomfortable, big crack when the guy answered with wording like “benci diremehkan” and “kerjakan”, when the girl has been all casual before with the “udah hampir selesai”? Ga enak abis deh saya bacanya. Di kehidupan nyata, si cowok bakal menjawab kurang lebih gini: “Makasih, tapi aku nggak suka diremehin. Aku mau ngerjain sendiri dulu.”

Bukankah ini terdengar lebih believable dan tidak jomplang??? Ini bahkan mengesampingkan pertimbangan bahwa yang ngejawab itu Caraka, yang mana karakternya harusnya cukup kasual.

Gitulah kurangnya Let Go ini. Gaya nulis dialognya suka patah-patah macam lagi senam poco-poco. Jangankan gaya bahasa, penulisnya bahkan nggak bisa konsisten nentuin si wali kelas mau pake ‘aku’ atau ‘saya’ pas nasihatin Caraka.

Tapi, ya, tapi, saya ga paham kenapa, Windhy Puspitadewi aka si mbak penulis, secara misterius bisa mengeksekusi segala dialog yang sungguh tidak real dengan gaya bahasa senam poco-poconya itu sehingga saya yang baca malah jadi terhibur. Kayak, rutenya emang zigzag abis, lots of bump here and there, but it’s going somewhere and although I know exactly where I’m going and I kind of complain about the bumps all the time, in all honesty I’m actually enjoying the ride. That kind of feeling. Beneran lho ini saya serius nggak sinis sama sekali.

Plotnya juga sebenernya sama standarnya kayak hidup saya. Ya beda sih. Tapi saya biasa-biasa aja pas dibilang ternyata Nathan penyakitan sekarat udah mau mati. Endingnya begitu juga saya nggak kaget. Tapi dengan segala kestandaran itu, si Windhy ini somehow bisa bikin benang merah semuanya tuh keliatan. It ties up quite nicely around its title “Let Go”. Nggak fancy-fancy amat, tapi lumayan lah. Saya bahkan, di sisi lain, lebih kebeli ama dinamikanya Caraka, Nathan, Nadya, dan Sarah, dengan segala dialog-yang-tidak-real mereka, ketimbang dinamikanya Keara-Harris-Ruly-Denise (Antalogi Rasa) atau Nata-Niki-Anna (Refrain).

Yang membawa kita ke topik berikutnya: Karakter.

They’re not that mindblowing.

Si Windhy ini terlalu berusaha keras untuk membuat karakterisasinya Caraka cukup berlapis-lapis dengan ngebikin dia selain langganan berantem, ternyata punya interest serius terhadap film dan sejarah. Saya sulit banget kebeli ama trik beginian, jatohnya suka terlalu formulaic karena pada dangkal-dangkal gitu. Paham sih tujuannya apa, tapi karakterisasi toh nggak sebatas hobi doang, yegak.

Si Nathan juga. Nathan ini tipikal karakter aku-bersikap-dingin-karena-hidupku-sangat-menderita. Tipikal “memang sinis, tapi ada sebabnya kok” super basi. Udah gitu konsisten banget pula “sinis”-nya, nyaris persis kayak Nata di Refrain, yang mana bukan sesuatu yang saya harapkan. Yah, emang siapa sih yang selalu sinis 24/7 di kehidupan nyata ini? Emang siapa sih yang selalu berapi-api 24/7 di kehidupan nyata ini? Temen kalian yang sinis-sinis itu (kalo ada, bahkan) sebenernya kalo diliat frekuensinya cuman sekali-sekali aja sinisnya, nggak tiap kalimat yang keluar dari congornya itu sinis-sinis semua. Never mind that, can everyone just stop writing karakter sinis into their story instead?

Bagaimana dengan Nadya, si perempuan tangguh kita, dan Sarah, si cewek yang benar-benar pemalu itu?

LOL. Kalo mau jujur sih eksistensi mereka kayak angin lewat aja buat saya. Padahal mereka punya konflik masing-masing, lho, which is a good point. Nadya harus nerima kalau dia ga bisa juggling semua hal dalam satu waktu, Sarah mesti berani mengekspresikan diri. Cukup okelah, dan lumayan established juga, cuma yah hasilnya berasa “oh” aja gitu di saya. Sama nasibnya kayak karakter-karakter di Our Story-nya Orizuka. It’s okay, it’s potential, but it still doesn’t get to me, and I don’t think it ever will.

Tapi saya suka lho interaksinya Caraka dan Nathan. Dorama live-action abis emang, penuh dialog-yang-tidak-real banget emang, kadang suka bikin saya pengen memutar bola mata dengan sangat antusias emang, dan di kadang yang lain suka bikin saya meringis saking cringeynya emang; tapi saya cukup menikmati entah kenapa. Kayak, saya tau ini tuh hubungan mereka fiktif abisnya terlalu ketara banget, tapi somehow asik juga ya ngikutinnya lho gimana ya ini???

Ya. Beneran deh. Saya masih takjub saya bahkan ga bisa membawa diri saya untuk maki-maki seperti biasanya di book murder ini. Ampe mau saya kasih tiga bintang nih di Goodreads saking segitunya. Beneran lumayan asik dibaca dan saya beneran cuma bisa mingkem.

Tapi tenang saja, bagi kalian yang sumber penghiburannya di dunia yang nestapa ini adalah menyaksikan orang lain maki-maki dengan sepenuh hati, nantikan book murder saya berikutnya: Sunshine Becomes You by Ilana Tan.

Advertisements

Book Murder: Ai by Winna Efendi

(Omatase shimashita)

Selepas membaca Refrain, saya langsung lanjut baca Ai (tapi bantainya baru sekarang. Ya. Memang.) Saya kira saya akan membaca sesuatu yang buruk, mengingat Ai ini justru terbit sebelum Refrain. Dan sudah merupakan rahasia umum di dunia: tulisan-tulisan pertama kita bloonnya bisa bikin yang baca mati berdiri. Siapapun entitas malang kurang kerjaan itu.

Refrain yang saya anggap sebagai karya gagal bikin saya mega-skeptis ama Ai, tapi tentu aja tetep saya baca. Saya kan tangguh, selain emang maso dan haus bahan caci-maki aja.

Betapa kagetnya saya ketika menemukan bahwa Ai punya tone yang agak lebih serius ketimbang Refrain bahkan dari halaman-halaman pertama.

“Wow,” saya berdecak terpana. “Winna Efendi wrote this?”

Saya nggak bercanda. Saya beneran kaget soalnya gaya bahasanya gaya terjemahan gitu (yang merupakan gaya saya abis, omong-omong). Dibandingkan dengan Refrain yang dibuka dengan Niki dan Nata yang ngoceh soal siapa-ya-yang-jatuh-cinta-duluan-di-antara-kita, Ai terasa seperti kembang tahu yang dijual sebelah Indomaret Kober yang baru kemaren-kemaren saya cobain.

Dengan kata lain: “Loh, kok lumayan???”

Yah.

Seenggaknya begitulah kesan pertama yang saya dapatkan.

Seperti hal-hal lain di dunia, tentu saja, kesan pertama bukanlah sesuatu yang definit.

Entah sejak halaman berapa, saya mulai merasa diperlakukan seperti pembaca idiot yang akan menelan bulat-bulat apapun yang ditulis oleh si nyonya penulis.

Ai bercerita tentang persahabatan antara Ai, Sei, dan Shin. Aslinya sih cuma Ai dan Sei aja yang sahabat-sejak-kecil-alias-osana-najimi, persis seperti Niki dan Nata di Refrain, namun kita punya cowok pindahan dari Tokyo bernama Shin yang kemudian menjadi orang ketiga di persahabatan itu, persis kayak Anna di Refrain. Luar biasa emang kreativitas Winna Efendi ini, menghasilkan dua novel yang bak pinang dibelah dua di tahun yang sama. Wah, pasti menguras tenaga dan akal pikiran banget.

Sebagaimana cerita-cerita tentang persahabatan pada umumnya, saya gagal melihat sebelah mana sebenarnya letak “persahabatan” yang diagung-agungkan si penulis. Nggak tau ini cuman saya aja apa gimana, tapi di cerita yang bawa-bawa tema persahabatan biasanya nyaris selalu terkesan nggak meyakinkan soal persahabatannya sendiri. Kayak Refrain kemaren, atau Antologi Rasa yang laughable abis itu. Ai pun gak jauh beda. Persahabatan yang saya liat antara Ai, Sei, dan Shin kayaknya cuma sebatas mereka diceritain nyambung banget dengan satu sama lain dan kalo ngobrol bisa ampe ngobrolin apa aja.

Emphasis on “diceritain”.

Yes.

Diceritain doang.

Tau kan, yang tinggal deskrip “kami membicarakan banyak hal… membuat kami tertawa… kami begitu asyik ngobrol…”

Dasar penulis pemalas.

Singkat cerita, mereka lagi masa-masanya milih kuliah. Shin milih Todai—Tokyo daigaku, that’s University of Tokyo for you—karena dia pengen balik ke Tokyo. Dan Ai, remaja perempuan bloon kita yang masih mikir bersahabat berarti selalu bersama selamanya dan gak rela pisah ama Shin, punya ide gila untuk pengen daftar Todai juga. Ai ini emang luar biasa, perangai dia bikin saya mikir masuk Todai bakal segampang ngerebus air. Sei tadinya mau lanjut universitas lokal aja kayak kakaknya, namun akhirnya dia ngekor juga milih Todai setelah dibujuk Ai.

Dengan ketiga-ketiganya ngedaftar di Todai, yang omong-omong merupakan universitas top di Jepun sana, tentunya logis dong kalau saya berharap bakal ada segundukan masalah selama mereka berjuang buat keterima, seperti yang dialami karakter utama di film Biri Gal yang targetnya Keio University. Logis dong kalau saya mengharapkan perjuangan ini akan diceritakan secara dramatis dalam sekian bab.

Logis lah ya.

Tapi tentu saja, Winna Efendi bukan penulis yang peduli soal ginian. Perjuangan masuk Todai bukanlah sesuatu yang penting. Nggak. Di dunia rekaan Winna Efendi, keterima di Todai emang segampang ngerebus air. Nggak, nggak perlu sekian bab buat nyeritain ‘perjuangan’ mereka buat keterima di Todai. Cukup tiga paragraf aja dan langsung lompat ke hari pengumuman setelahnya tanpa perlu nyeritain hari H-nya, di mana kita menemukan ternyata mereka keterima ketiga-tiganya. Segampang ngerebus air. Dunia emang seindah itu.

Percayalah, saya nggak bakal se-picky ini kalo universitas yang dituju itu bukan universitas top nasional di Jepun sana. Dan sebenernya saya juga heran kenapa dari sekian pilihan universitas di Tokyo, harus Todai banget, sementara dari yang diceritain penulis dari awal, ketiga karakter ini kayaknya nggak ada yang terlalu menonjol wah banget academically. Terlebih lagi setting awalnya ini daerah pedesaan gitu, yang omong-omong gak jelas juga di mana pokoknya deket laut lah, entah Jepang sebelah timur atau barat. Dan logika saya membisikkan bahwa persaingan di sekolah-sekolah non-kota harusnya bakal lebih chill dan nggak sekompetitif itu. Sotoy aja sih saya, tapi bisa diterima lah ya *maksa*. Ini kan kayak gimana proporsi mahasiswa UI lebih condong ke yang berasal dari Jabodetabek.

Tapi ternyata nggak cuman keterima Todai yang segampang ngerebus air. Di dunia rekaan Winna Efendi, hidup merantau di Tokyo juga segampang cuci kaki.

Saya, sebagai weeaboo-weeabooan, udah lumayan paham lah harusnya ngerantau di Tokyo itu gimana. Dan kebetulah banget pas saya baca ini, saya juga nontonin dorama yang juga tentang orang-orang yang ngerantau di Tokyo. Kayaknya udah merupakan fakta yang solid dan tidak terbantahkan kalau hidup di Tokyo itu ga gampang, apalagi buat mahasiswa yang ngerantau dari desa, meski di desa mereka punya bisnis restoran dan pemandian air panas sekalipun. Nggak mungkin pertama ke Tokyo bisa langsung hidup enak.

Tapi Winna Efendi mah bodo amat. Tau-tau aja trio kita bisa tinggal di apartemen dengan 2 kamar, dapur, dan ruang tamu. Entah dapet duit darimana, pokoknya apartemennya 2 kamar aja, dan mereka masih bisa langsung beli-beli perabot bahkan. Hidup mereka juga kayaknya woles-woles aja ga ada beban. Seolah-olah 3 mahasiswa tinggal di Tokyo DAN kuliah di Todai (plus ga mungkin ketiga-tiganya dapet beasiswa, terlalu ngimpi) ga punya masalah finansial yang perlu dipusingkan.

Enak bener ya hidup di dunia rekaan Winna Efendi. Saya juga mau.

Terus, Winna Efendi juga dengan entengnya ngebikin karakternya naik shinkansen sesering naik bus.

Siapapun yang ngebaca Ai pasti bakal ngira kereta di Jepang itu semuanya shinkansen. Beneran ngakak saya pas baca si Sei naik shinkansen dari tempat part-time-nya di Roppongi ke apartemennya. Apartemennya ceritanya sih masih di Tokyo, sekitaran 30 menit dari stasiun Tokyo. Tapi belah mananya Tokyo juga nggak jelas, yang jelas dari apartemen mereka bisa liat laut aja. Saya bukannya ngerti seluk-beluk Tokyo, pengetahuan saya toh hasil nonton dorama semua. Tapi gini… orang mana sih yang dari satu bagian Tokyo ke bagian Tokyo yang lain naiknya shinkansen?? Ini kan mirip-mirip kayak orang mana sih yang dari Gambir ke Bekasi naiknya Argo Parahyangan???

Dunia rekaan Winna Efendi emang daebak abis.

Satu-satunya konflik, dan beneran cuman satu-satunya, yang diangkat di Ai adalah soal cinta segitiga antara Ai, Sei, dan Shin.

Tentu saja. Konflik besar yang sudah pasti pernah dialami oleh kita semua: cinta segitiga dalam persahabatan. Yah, kecuali buat orang-orang yang terlalu sibuk mikirin diri sendiri kayak saya.

Ai dan Shin saling mencintai, dan tentu saja Sei yang tertinggal di belakang cuma bisa ngarep ama Ai. Dan yang menjadi kegagalan kesekian Winna Efendi, dari sekian banyak kegagalan dia, adalah saya sebagai pembaca nggak bisa liat bibit-bibit cinta antara Ai dan Shin. Di satu sisi ini mungkin karena bagian pertama bukunya diceritain dari sudut pandang Sei, di sisi lain mungkin karena Winna Efendi emang payah aja. Haha. Saya beneran nggak bisa konek ama siapapun karakternya, jangankan ngedukung salah satu dari mereka.

Jadi bukan salah saya pas ada adegan Shin ngelamar Ai di Tokyo Tower padahal buku belum separuh jalan, saya malah meringis jijik.

Apa-apaan.

Mahasiswa perantauan, belum diceritain lulus, udah main tunangan aja.

Aku tau kamu teenlit bego-begoan tapi jangan setega ini juga lah….

Membaca Ai membuat saya benar-benar merasa diperlakukan seperti pembaca yang bakal manggut-manggut aja penulisnya terserah mau bilang apa, yang bakal hah-hoh-hah-hoh doang. Oh, ini ada karakter dari Tokyo. Oh, ini mereka mendadak mau kuliah di Todai. Oh, ini mereka pokoknya udah keterima aja di Todai. Oh, ini mereka akhirnya tinggal bareng di Tokyo. Oh, ini mereka hidup biasa-biasa aja di Tokyo, ga ada kesusahan atau apa. Oh, Todai apaan? Nggak, nggak, Todai udah nggak penting, sekarang Ai ama Shin udah tunangan dan Sei patah hati. Ini yang penting sekarang.

?????????????????????

Sebagai pembaca yang bisa berpikir dan terlalu gampang sewot soal kelogisan cerita (teenlit), saya merasa terhina.

Belum pula soal karakter. Wah, karakter.

Kenapa ya kok ORANG-ORANG hobi banget menokohkan karakter utama perempuan mereka sebagai seseorang yang MUNGIL? Ya ngerti sih sebisa mungkin karakter utama dibikin se-likable itu tapi ya plis deh, dikira kita-kita orang peduli amat apa soal deskripsi fisik karakter novel kalian?

(Taunya orang-orang selain saya emang pada imajinatif semua dan cenderung bergantung ama deskripsi fisik karakter)

(Yah, saya sih nggak. Gunung Kilimanjaro bahkan lebih aktif ketimbang imajinasi saya)

Dan kenapa juga ORANG-ORANG hobi banget menokohkan karakter utama perempuan mereka sebagai seseorang yang CERIA? Kayak nggak ada trait lain yang bisa dipilih selain CERIA.

Bau-bau Ilana Tan abis deh ini Winna Efendi. Karakternya bahkan lebih generik ketimbang Paracetamol saya.

Niki di Refrain beneran mirip Ai. Nyebelinnya pun sama, kekanak-kanakannya juga. Mungkin bedanya ada di Ai lebih sering dideskripsikan bermata bulat besar aja.

Sebenernya, kalau saya harus bersikap adil, Winna Efendi sudah berusaha untuk membuat Ai terkesan agak lebih substansial dengan membunuh emaknya (yang omong-omong, doi seniman Bali yang ceritanya FENOMENAL banget di Jepang sana. Makanya si Ai suka makanan pedes. Lah penting amat emang). Dan hubungan dia dengan ayahnya bisa bikin trotoar keramik di Margonda menghela napas lega karena ada yang lebih amburadul. Saya sih mau-mau aja mengapresiasi ini, tapi cara Winna Efendi mengeksekusinya bahkan gak mampu untuk bikin mata saya berkedip, apalagi membuat hati saya berdesir.

Sok lah sana bikin karaktermu sedramatis mungkin, punya masa lalu yang pekat dan kelamnya menandingi tinta cina, tapi plis lha jangan dijadiin trivia ga penting doang. Dibikin benang merahnya kek, apalah. Ini bahkan saya ampe cuma nganggep konflik di Ai itu cuma soal cinta segitiganya doang saking nggak berasanya hubungan-Ai-dan-ayahnya-yang-harusnya-adalah-suatu-konflik. Ya terang aja. Mana puas saya disuguhin konflik asal-di-permukaan macam gitu, yang dimention sekali, trus ilang di pertengahan, trus tau-tau nongol lagi di satu titik cuma buat langsung diselesain. Idih.

Sementara Shin dan Sei…

*berpikir keras*

*masih berpikir keras*

Wah, memorable abis mereka berdua saya ampe cuma bisa inget nama doang. Karakter Harris di Antologi Rasa jadi terkesan semegah Severus Snape kalo dibandingin ama Shin dan Sei. Dan kedua-duanya sama-sama diawali dengan huruf S ini apakah suatu kebetulan yang tidak disengaja? W-o-w. Fishy.

Saya lebih jinak pas baca Ai ketimbang pas baca Refrain, murni karena gaya bahasanya—meskipun standar abis tanpa pesona yang berarti—sesuai dengan preferensi saya. Tapi hal itu tidak membuat ketololan-ketololan yang ada di buku ini jadi bisa lebih saya terima, macam ketiga karakternya keterima Todai dengan terlalu gampang, kehidupan mereka di Tokyo yang saking santai dan tanpa ombang-ambingnya bikin saya curiga sebenernya bukan Tokyo itu settingnya, tapi Jatinangor tahun 2011-2012 (yang omong-omong emang affordable abis. Good times. Gak tau sih sekarang), Shin ngelamar Ai pas mereka bahkan ga ada dibilang udah lulus kuliah…

Dan ketololan-ketololan lainnya yang saya udah lupa.

Takjub saya ama Winna Efendi. Payahnya kok gak abis-abis.

Book Murder: Refrain by Winna Efendi

Susu kedelai unsweetened yang saya beli tempo hari lalu, yang sebenernya super hambar itu, masih jauh lebih berasa daripada cerita di novel ini.

Alkisah, tersebutlah sepasang BFF bernama Nata (cowok) dan Niki (cewek). Nama yang kompakan sama-sama dari N ini cuma kebetulan, kok, bukan karena intensi terselubung penulis yang sebenernya udah ngejodohin mereka berdua dari awal. Mereka udah sahabatan dari kecil, deket bangetlah pokoknya. Rumahnya juga satu komplek, seberangan malah kalo saya nggak salah inget.

Tentu saja, sebagaimana novel-novel dangkal pada umumnya, kedua karakter yang ceritanya sahabat sejati ini kepribadiannya harus bertolak belakang. Niki sebagai karakter happy-go-lucky optimis tipikal, dan Nata sebagai karakter sinis pesimis tipikal. Dan tentu saja, sebagaimana taktik novel remaja sekolahan pada umumnya, harus ada karakter anak pindahan sebelum ceritanya jalan. Di Refrain, karakter anak pindahan itu adalah Annalise, atau sebut saja Anna.

.

.

.

Fine, I’ll save you the time.

This book is CRAAAAAAAAAPPPP.

JUELEK. BUANGET.

Nggak cukup cuma ceritanya yang klise anying, karakter-karakternya juga tipikal karakter template semua. Tau kan, karakter-karakter nggak bernyawa yang dime-a-dozen cuma beda nama doang. Like those Ilana Tan is famous for. Hanya saja—saya nggak percaya saya bakal bilang gini—Ilana Tan mengeksekusi segalanya agak mendingan.

GODDAMN DID I REALLY JUST SAY THAT!?

*merinding*

Horor abis masa depan teenlit Indonesia.

Jujur aja ya, sebenernya saya masih bisa ngakak-ngakak pas awal-awal cerita. Misalnya pas tau-tau ada dibilang soal liburan musim panas 2 bulan padahal ini cerita settingnya di Jakarta, saya masih ngakak. Atau pas si Anna pas pertama kali ketemu Danny, abangnya Nata, tau-tau dapet hunch “Cowok tadi… pasti menyimpan sebuah luka yang kelam.” Padahal baru ketemu doang lho, papasan nggak penting yang nggak pake ngobrol gitu. Itu saya beneran ngakak, sumpah.

Saya tau kok novel yang saya baca ini adalah novel bego-begoan, jadi saya udah berjanji sama diri sendiri kalau saya nggak bakal serius-serius amatlah bacanya. Paling saya ketawain aja kalau ada yang bego. Ketawa menghina.

But then this crap surprised me.

Saya udah nggak bisa ketawa. I no longer can take it as a joke.

It’s a friggin disaster.

Entah sejak kapan dan di bagian mana, tawa menghina saya lenyap diganti amarah dan hasrat tak tertahankan buat ngebanting buku ini. Yang tadinya saya kira bisa saya anggap sebagai dagelan, ternyata menjelma menjadi sesuatu yang ofensif.

Asli separah itu.

Ini saya bahkan masih kelimpungan dengan emosi campur aduk ga tau mau ngebantai dari belah mana dulu.

  • PLOT

Saya nggak apa-apa sama plot klise, beneran deh. Saya pengertian, kok. Nggak apa-apa kalau emang nggak mampu merancang kerangka baru dan cuma bisa bergantung sama formula yang udah ada, serius gapapa. It’s oke. It’s not entirely your fault for being born with such limited capabilities. Syadzwina mengerti, Syadzwina penuh belas kasih. Ya menurut kalian kenapa coba saya bisa tahan baca sekian shoujo manga yang sebenernya ceritanya cuma muter di situ-situ aja? Atau betah baca buku-bukunya Rick Riordan?

Tapi mbok ya seenggaknya tau diri dikit kek, usaha dikit kek. Dengan plot seklise itu, sepredictable itu, o mbak penulis yang baik, o Winna Efendi yang baik, tidak bisakah kamu menebusnya dengan penceritaan yang layak dan tidak seenaknya saja?

Because, frankly, Refrain is such a huge, yurusenai, mess.

Mungkin karena pake sudut pandang majemuk (halah) (maksud saya multiple POVs). Suka digilir antara Nata, Niki, Anna, dan bahkan karakter minor lainnya kayak Danny (abangnya Nata) atau Klaudie (adeknya Niki) yang menurut saya malah nggak penting. Saya nggak paham buat apa karakter minor begitu perlu dikasih porsi segala, seiprit doang pula. Mending guna, lah ini kagak, cuma nambah-nambahin halaman dan berat-beratin memori pembaca doang. Maksud saya, ya trus kenapa kalo Danny udah putus ama Miriam? Trus kenapa kalo papasan ama Anna bikin Danny keinget Miriam dan jadi “menguak luka lama”? Apa “luka lama” si Danny ini segitu pentingnya ke keseluruhan cerita he deserves his own POV? Emangnya bakal dieksplor segitunya soal “luka lama” ini? Nggak kan?? Dimention sekilas di percakapan aja pembaca juga udah bisa tahu kan??

Si Klaudie juga gitu. Guna ngasih dia porsi sudut pandangnya sendiri ketika dia bukan karakter utama itu apa coba? Saya nggak paham. Dia kan cuma muncul sebagai karakter yang selalu ngasih petuah bijak ke Niki tiap sesi curhat mereka. Apa bedanya coba dengan diceritain dari sudut pandangnya Niki? Apa cuma biar bisa ngasih tau pembaca “ada sesuatu yang aneh dengan Niki hari ini”? Atau biar bisa ngasih tau pembaca kalau “Oh. Kakaknya sedang jatuh cinta.”??

Nggak penting abis kan ya.

Itu baru soal sudut pandang dari karakter minor. Rotasi dari satu sudut pandang ke sudut pandang lain juga nggak rapi, nggak nyaman dibaca. Dan yang paling saya nggak suka, di satu bab sudut pandangnya bisa ganti-ganti, ala-ala Antologi Rasa gitu. Jadi beberapa kali saya akan membaca cerita dari sudut pandang Anna sebanyak 4 paragraf sebelum kembali ke Nata lagi. Ngeselin nggak sih? Dan nggak cukup cuma itu doang, tiap ganti sudut pandang biasanya suka ada headlinenya gitu, formatnya gini:

Wish #13: Blablabla (Annalise)

Dan sesekali digabung sekaligus dua atas-bawah kayak gini:

Wish #n: Blablabla (Niki)

Wish #n+1: Blablabla (Oliver)

Atau malah kayak gini:

Wish #99: Blablabla (Niki dan Nata)

YANG SEBENERNYA NGESELIN BANGET.

MAKSUDNYA DIBIKIN KAYAK GITU ITU APA SIH? DIGABUNG-GABUNG GITU?? DIKIRA NGGAK NGEBINGUNGIN APA???

Kesel saya.

Dan yang lebih bikin saya kesel lagi, Winna Efendi ini nggak niat nyusun layer ceritanya. Semuanya asal main ditumpuk-tumpuk aja. Ujug-ujug ada subplot A, ujug-ujug ada subplot B. Saya inget saya beneran marah banget pas ngebaca chapter ke-sekian yang dibuka dengan kalimat “Deadline lomba fotografi tinggal beberapa hari lagi.”

WHAT THE FUCK.

HOW DARE YOU.

HOW DARE YOU TO SUDDENLY TALK ABOUT DEADLINE LOMBA FOTOGRAFI WHEN YOU NEVER, TRULY NEVER BRING UP ANYTHING ABOUT ANY LOMBA FOTOGRAFI BEFORE. HOW DARE YOU, YOU FOUL, FILTHY PRICK.

Penulisnya minta digampar. Emangnya saya pembaca serendah apa, cuma disuguhi dengan penulisan super berantakan, serba tiba-tiba begini? Nggak sopan. Lancang ya kamu, Winna Efendi.

And then there’s also namedropping merek fesyun ternama.

  • KARAKTER

Everyone is horrible and nobody is likable nor relatable.

Persahabatan antara Niki, Nata, dan Anna itu dusta. Jangan tertipu. Yang sahabatan itu cuma Niki dan Nata aja, Anna cuma karakter tempelan lemah yang nggak guna, yang pertamanya dibikin naksir Nata biar ada bumbu-bumbu “sakitnya mencintai sahabat” aja tapi di ending ujug-ujug ama Danny gitu aja. Benar-benar karakter yang penuh kesia-siaan. Cerita tanpa dia juga bakalan sama aja.

Saya muak ama karakter kayak Niki, tipikalnya udah keterlaluan banget saya nggak tahan. Ceria, manis, MUNGIL (harus capslock karena mungil adalah fitur Niki yang paling prominent), naif, MUNGIL, optimis, MUNGIL, polos, pemaaf, MUNGIL, MUNGIL, MUNGIL.

Saya juga nggak kalah muak ama karakternya Nata yang SINIS, SINIS, SINIS, SINIS, SINIS, SINIS, tapi kalo ngomong nggak ada bau sinis-sinisnya sama sekali. Sinis hanya karena dia suka dideskripsikan ‘sinis’. Sinis gagal. Persis karakter-karakter Slytherin jejadian di IH.

Ngga deng, Slyth jejadian IH lebih maju selangkah.

Terus ada Helena, antagonis kita yang suatu hari akan nusuk Niki dari belakang, dan yang kemunculannya sebagai antagonis bikin saya pengen nangis histeris saking syok dan nggak nyangkanya ada penulis yang bisa seamburadul ini. Kayaknya semua rumus cerita remaja dipake ama doi tanpa tahu malu.

Kesimpulan dari membaca Refrain: Saya trauma sama Winna Efendi.

(Saya juga gak gampang kapok (dan senang maki-maki), oleh karena itu, next up on Book Murder: AI by Winna Efendi)

Book Murder: Our Story by Orizuka

Ngebaca blurb di kover belakang buku ini nyeret embel-embel “sekolah buangan”, saya udah suuzon kalo ceritanya bakal ke-Gokusen-Gokusen-an. Atau apalah, tipikal dorama-dorama sekolahan Japonais yang satu sekolah isinya preman semua.

Suuzon saya gak sia-sia.

Yasmine adalah siswa pindahan dari Amerika Serikat, pindah karena ibunya di Jakarta sedang sakit keras (sekarat, bahkan) sementara ayahnya tidak bisa ikut karena alasan kerjaan dan semacamnya. Pindahnya ke SMA Budi Bangsa, SMA buangan, karena orang suruhan teman ayahnya salah dengar Bukti Bangsa (sekolah internasional) menjadi Budi Bangsa. Jadilah Yasmine terdampar di sekolah yang isinya anak-anak tak punya masa depan. (Komentar saya: Betapa orisinil.)

Yasmine kemudian bertemu dengan Nico di hari pertamanya. Nico adalah ketua geng sekolah, siswa berandalan namun tampan (kalau saya tidak salah ingat), dan karena suatu alasan misterius mengancam anggota gengnya bahwa Yasmine adalah miliknya setelah mereka bertemu untuk pertama kali. Sebenernya ya, Nico akan terlihat impresif di mata saya kalau saja Orizuka:

1) Nggak pake deskrip kalo Nico doyan nenteng-nenteng tongkat baseball dengan gerakan mengancam. (Tongkat baseball? Di Indonesia? B-a-s-e-b-a-l-l? Di sekolah yang katanya buangan? *tertawa sopan* *tertawa sederhana* *tertawa indah* *tertawa permai*)

Dan, 2) nggak bikin catchphrasenya Nico itu, “Pengkhianat harus menerima akibatnya.” (*cek kover* Ini beneran bukan naskah dorama yang gagal tayang?)

Kemudian kita bertemu dengan Ferris, heroic cool guy kita. Ferris adalah satu-satunya karakter yang namanya aneh menurut saya. Anak uorang kuaya, tentu saja tampan, yang pindah ke SMA Budi Bangsa karena ingin memperbaiki hubungan dengan sohib lama (spoiler: psst, Nico, psst) yang rusak karena kesalahannya di masa lalu. Hashtag favoritnya adalah: #akuterlaluseringdikecewakanorangdewasa #akutidakakanpernahpercayaorangdewasalagi #selamanya.

Ada lagi Sisca, pecun kelas teri kita, dan Mei, pecun kita yang lebih beneran. Dan karakter-karakter yang tidak punya masa depan lainnya, seperti Harris. Bukan, bukan Harris Risjad. Ini Harris bawahannya Nico.

Novel ini, singkatnya, bercerita tentang bagaimana murid-murid ini menjadi berani untuk kembali bermimpi.

Ea.

Sebenernya, ya, Our Story ini lumayan dari segi penceritaannya, nyusunnya ya lumayan rapi lah. Saya terkesan, kok. Meski predictable abis buat saya yang doyan nonton dorama, unfolding of events-nya bisa saya kasih anggukan setuju lambat-lambat. Orizuka, tidak seperti penulis tertentu, juga masih berusaha agar karakternya nggak dangkal-dangkal amat. Misalnya pas bagian ujug-ujug si Yasmine ngaku anorexic. Atau pas bagian mengungkap fakta bahwa ibunya Mei harus operasi makanya dia jadi pelacur. Atau Sisca yang kurang duit buat bayar sekolah makanya melacur. Atau Nico yang bapaknya, ups, tukang madat, abusive, dan sekarang napi. Cukup kompleks ya, saya akui saya lumayan terkesan sama usaha memperdalam karakter ini meski usaha dalam mengemas segala kompleksitas karakternya hanya bisa saya beri bola mata yang berputar. Standar saya setinggi JK Rowling, adil banget emang.

Tapi tetep, bukan saya namanya kalo nggak bisa nemu sesuatu buat diomel-omelin dari suatu buku. Teenlit pula. *mendengus angkuh*

1) Karakter Yasmine ini nggak masuk akal. Saya nggak percaya aja ada orang emaknya koma sekarat trus… biasa aja gitu. Maksudnya, abis emaknya udah bangun ya udah aja gitu ga ngomong-ngomongin emaknya lagi sampe novelnya kelar. Apa sih ini nama kerennya? Plot device? Ya pokoknya itu, biar alasan Yasmine pulang dari Amrik ke Indonesia terkesan valid aja so this story could happen. Lah emangnya kelar koma nggak ada anuan yang perlu dikhawatirkan lagi gitu soal nyokapnya? Lagian koma karena kecelakaan apa sih? Kenapa emaknya abis koma malah sempet-sempetnya nyuruh Yasmine sekolah?? Misteri abis. Dan nggak cuman itu, cara Orizuka ngebawain si Yasmine ini juga nyebelin. Ya aku ngerti kamu sebenernya nggak mau sekolah tapi ngga mau emakmu khawatir okelah tapi apakah perlu ngemention itu untuk ngebuka sekian chapter berturut-turut. Si Yasmine-nya sendiri juga nyebelin, taulah tipikal karakter dengan kompas moral setegak Ka’bah, hobi ikut campur, sok pahlawan, senang membela kebenaran, dsb. Karakter-karakter yang tinggal sejengkal dari trope holier than thou

2) —yang juga menjadi alasan saya nggak suka sama Ferris. Ferris ini Yasmine versi cowok, percayalah. Cuma lebih doyan ceramahin orang dikit, yang makanya saya nggak suka. Nih ya, si Ferris ini ampe jualin mobilnya biar bisa bayarin Mei 7 juta sebulan, biar Mei nggak usah terima orderan lagi. Masuk akal nggak?? Our Story ini memberi ide yang salah tentang bagaimana dunia ini bekerja, cih. Daripada ngurusin biar temen yang pelacur nggak usah ngelacur lagi pake duit sendiri, mending u mastiin dia rajin check up dan mastiin dia selalu pake kontrasepsi. Itu kan pesan yang lebih berguna buat generasi muda. Jauh lebih berguna ketimbang membuat si Ferris concerned sama bagaimana “rok Mei yang pendek itu membuatnya risih” dan bagaimana Mei “kayaknya lebih cakep nggak usah dandan, deh.” Saya yang nggak dandan aja sebel denger komentar kayak gitu. Apa jangan-jangan emang sengaja karakter si Ferris dibikin kayak gitu, ya, biar mencerminkan kehidupan yang sebenarnya… Hm.

3) Untuk ukuran setting sekolah yang katanya buangan bobrok dan lain sebagainya, ada beberapa hal yang menurut saya kurang meyakinkan (selain perihal tongkat baseball Nino):

a) satu kelas 12 di sekolah bobrok isinya 30 orang? Nggak kebanyakan? Di benak saya ya kalo ada yang bilang sekolah buangan bobrok, yang kebayang di saya itu yang macam Laskar Pelangi yang sekelas cuman 10 orang;

b) ketika Harris bilang “Laen kali coba lo beli di Way Kambas”, yang terpikir oleh saya adalah ini: “Mz kamu terdengar terlalu intelek dengan namedrop Way Kambas yang saya yakin seseorang cuma bakalan inget kalau dia pernah baca RPUL cover to cover. You’re a preman in sekolah buangan bobrok, remember? You’re supposed to be stupid.”;

dan c) ketika Mei bilang kalau dia curiga si Yasmine anoreksia. Saya langsung skeptis dong, “Kok kamu bisa tahu tentang anoreksia?? Kamu kan tipikal pelacur bego yang lebih seneng baca buku yang ada gambarnya cuma biar nggak ngantuk? Kok kamu yakin itu anoreksia dan bukan eating disorderlainnya?” Tapi kemudian si Mei bilang kalau ada kenalannya atau apanya kliennya gitu yang pernah cerita soal anoreksia. Hmph, tentu saja saya masih tidak bisa teryakinkan. “Kok kamu bisa inget informasi setrivial itu? Kamu kan Bego (dengan B besar)??! Kok bisa-bisanya hal kayak ‘anoreksia’ nempel di otak kamu dan sampai bisa kamu recall padahal itu kan jargon medis?? Kok???!”

Di mata saya, karakter bego harus tetap bego sepanjang buku, kecuali kalau itu menyangkut hobi/skill spesial dia yang nggak guna/dsb. #akumemangjudgmentalluarbiasa

Oh, sama ini deh, terakhir,

4) Adegan unyu/romantis antara Yasmine dan Nino lebih sering bikin saya nggak nyaman dan pengen lempar bukunya ketimbang merasa doki-doki. Snippet:

“Gue tau lo pasti masih ada di sini,” kata Yasmine sambil tersenyum. “Makanya gue dateng pagi-pagi. Ini, sarapan dulu.”

Nino menatap Yasmine yang masih tersenyum, lalu kembali menatap kotak bekal bergambar Hello Kitty itu dan menerimanya. Yasmine segera duduk di depannya.

“Punya lo…?”

“Oh, gue? Udah makan,” jawab Yasmine cepat, membuat Nino mengangguk-angguk. Nino lantas membuka tutup kotak bekal itu, membuat Yasmine segera meringis. “Gue nggak bisa masak, sori ya.”

Nino menatap nasi putih beserta beberapa sosis goereng dibentuk gurita dan telur orak-arik yang ada di dalam kotak bekal itu, tapi tak lantas melahapnya. Ia menatap Yasmine lekat-lekat, lalu dengan sekali gerakan cepat, ia meraih kepala Yasmine dan mengecup dahinya.

Yasmine melongo parah sementara Nino segera asyik mengunyah sosis.

Alih-alih merasa doki-doki, saya malah dapet secondhand embarrassment pas bacanya. Satu-satunya adegan Nino/Yasmine yang membuat saya sampe aww, dan bahkan mungkin salah satu highlight dari buku ini, itu cuma pas Nino bilang gini: “Kenapa lo nggak pindah ke sini tiga tahun lalu?”

Trus udah. Gitu aja.

Mengecewakan, Our Story ini. Ya emang nggak separah itu sih, tapi nggak fantastis juga. 1,5 bintang lah, dengan pembulatan ke atas. Gapapalah jadi 2 bintang aja.

Book Murder: Antologi Rasa by Ika Natassa

Antologi Rasa adalah buku ajaib karena terjemahannya terbit duluan sebelum buku aslinya.

Kenapa saya bilang begitu? Karena kalau ga ada yang kasih tau saya kalau ternyata Antologi Rasa aslinya memang novel dalam bahasa Indonesia, saya cuma bakal ngira ini buku terjemahan yang penerjemahnya super gabut dan males banget nyari padanan kata dalam bahasa Indonesia untuk beberapa idiom/kata dalam bahasa Inggris yang ada di buku aslinya, makanya buku ini banyak banget cetak miringnya.

(Sebelumnya saya pernah sih skimming-skimming dikit buku ini, beberapa tahun lalu, ketika covernya masih yang coklat, di toko buku. Sebuah keisengan yang kemudian saya sesali karena saya malah pengen marah melihat betapa banyaknya kata “fuck” di buku ini, yang malah terkesan berlebihan dan terdengar seperti buku tentang ABG labil yang baru kenal kata “fuck” alih-alih kisah persahabatan para bankir.)

(On another note terima kasih spesial untuk Iput yang berbaik hati meminjamkan saya buku ini, yang mengaku bahwa dia salah beli karena mengira dengan naifnya ini buku sastra tapi ternyata isinya sampah.)

Jadi ceritanya begini: Keara, Harris, Ruly, dan Denise adalah sahabat. Status itu lahir karena mereka berempat sempat dilempar ke suatu tempat karena titah kantor (mereka sama-sama ikut career acceleration apa deh gitu), sehingga mereka harus saling mendukung satu sama lain untuk dapat bertahan, selama dua tahun (atau empat tahun ya? Saya lupa), dan voila, jadilah mereka berempat sahabat sejati. Tapi nggak berhenti di situ aja, tokoh utama kita, Keara (perempuan liar), diam-diam naksir Ruly (laki-laki alim), sementara Ruly diam-diam naksir Denise (udah jadi bini orang), dan Harris (”penjahat kelamin”)? Naksir Keara dong.

Sebagaimana saya memulai membaca Tetralogi Empat Musim dengan cibiran, saya memulai membaca Antologi Rasa dengan dengusan.

Ya gimana enggak, belum juga kelar 100 kata pertama (kayaknya) penulisnya udah merepet soal rekor world tour-nya Guns N Roses, sinopsis singkat film The Time Machine, dan trivia-trivia sejarah lainnya yang namedrop berbagai tokoh penting dunia mulai dari Marco Polo, Napoleon Bonaparte, sampai Forrest Gump (semuanya di satu halaman. Kalo ga percaya, cek halaman 14 Antologi Rasa cetakan baru. FYI ceritanya baru mulai di halaman 13). Sebuah strategi yang akan dinilai fans buku ini sebagai bukti betapa penulisnya sangat berwawasan luas dan betulan niat dalam melakukan risetnya, dan bukti bahwa tokoh utama dalam buku ini punya photographic memory bukan cuma bualan si penulis belaka.

Saya sih berusaha untuk tetap sopan dengan hanya memutar bola mata dan mendengus: 1) Information overload bukan kondisi yang saya kejar ketika saya berusaha untuk tertarik dan tenggelam pada sebuah buku, apalagi kalo masih halaman awal. Emangnya enak dijejelin trivia soal ini dan anu blablabla yang nggak penting dan nggak ada hubungannya sama plot padahal kita baru mulai baca???; 2) You lost me at photographic memory.

Tapi ternyata nggak cuma doyan ngelepehin unrelated trivias di tengah-tengah cerita (yang bikin saya pengen menyematkan label “pretentious shit” ke buku ini, terlebih lagi judul tiap babnya dalam bahasa Latin, kurang pretentious apa coba), penulisnya juga ngotot banget mempertahankan sebanyak mungkin kata dalam bahasa Inggris di tengah kalimat meski padanan dalam bahasa Indonesianya sama sekali tersedia. Saya masih bisa maafin kalau emang satu kalimat penuh itu bahasa Inggris semua, meski sebenernya tetep ganggu ketika bahasa utama bukunya bahasa Indonesia. Tapi kalo di awal kalimat udah pake bahasa Indonesia trus mendadak di tengah kalimat pake bahasa Inggris untuk sebuah idiom/kata dan balik lagi ke bahasa Indonesia itu ngeselin.

Nih ya kalo ga percaya, saya ketikin beberapa, tentunya beserta terjemahan rekomendasi saya:

“Bagi aktor-aktor muda yang mengadu nasib di New York dan barely make the ends meet by waitressing, momen paling bahagia yang akan selalu mereka kenang mungkin adalah ketika mereka pertama kali mendapatkan peran di sebuah film, sekecil apa pun itu.”

Padahal bisa diganti jadi “Bagi aktor-aktor muda yang mengadu nasib di New York dan hanya bisa menjadi pelayan restoran semata-mata agar mereka tidak mati kelaparan…” (tuh liat, terjemahan saya bahkan lebih enak dibaca ketimbang kalimat aslinya, berima pula ‘restoran’ dan ‘kelaparan’. #pede)

“Aku tergelak, menunduk sesaat. Mencoba bertanya kepada the demons inside my head…”

Padahal bisa diganti jadi  “Mencoba bertanya kepada setan-setan di kepalaku…”

“Jadi tahu apa yang tiba-tiba melintas di benakku detik ini saat aku duduk berhadapan dengan Harris di Starbucks Wheelock ini? Perjalanan ini sucks. Big time.

Padahal bisa diganti jadi  “Perjalanan ini payah. Abis.”

“Dinda langsung menggiringku ke ruang tengah. Sofa, coffee table, TV, segala macam sudah lengkap walau masih banyak cardboard boxes bertebaran di mana-mana.”

Padahal bisa diganti jadi  “…walau masih banyak kotak kardus bertebaran di mana-mana.”

“Gini deh gampangnya: satu perempuan yang sebenarnya dia cintai setengah mati di luar semua yang sudah dia banged itu.”

Padahal bisa diganti jadi  “…di luar semua yang sudah dia sodok itu.” (…) (Kalau nggak suka ‘sodok’, bisa diganti jadi ‘jeboli’ atau ‘boboli’ kok…)

Jijik saya bacanya. Perlu banget ya gitu cardboard boxes tetep ditulis jadi cardboard boxes. Biar apa coba? Agar terkesan chic dan urban??? Kalo untuk percakapan sehari-hari banyak campur-campur kayak gitu ya boleh deh, tapi untuk ukuran novel, yang merupakan medium bercerita secara tertulis yang lumayan formal menurut saya, ini ngeselinnya babi.

Itu juga baru soal penulisan yang kebanyakan trivia nggak penting dan kalimat yang bahasanya sering nggak konsisten, belum pula soal karakternya.

Ha, karakter.

Keara sebagai protagonis kita sama sekali nggak relatable atau pun believable. Keara, seorang perempuan dewasa, yang bawaannya carefree, yang harusnya udah sering mampus tidur ama cowok, pas sama-sama mabok ama Harris dan tau-tau keterusan ampe ke ranjang, harusnya nggak sampe bereaksi lebay ga mau interaksi ama Harris ampe setaun seolah-olah insiden itu sepenuhnya gara-gara Harris. Kalo Keara ini adalah anak kecil dengan ego yang ga bisa ditimbun dan problem solving skill selevel paku payung, oke lah gapapa ngambek-ngambek ga mau dengerin ga mau diskusi trus musuhan. Lha ini??? Bruh. I don’t really know what your age is but I bet you’re too stupid for your age.

Terus bagian dia orangnya super manja ngeluh-ngeluh ga mau jalan kaki buat makan siang di PP karena lebih kasian sama sepatunya, dan bagian dia ga mau makan makanan rakyat jelata, namun TERNYATA OH TERNYATA di samping itu (surprise, surprise) dia ternyata punya jiwa fotografer yang ke pasar rakyat pun oke, dan ngeborong dagangan kerupuk nenek-nenek semata-mata karena kasian juga oke, ampe nangis bahkan dengerin si nenek-neneknya cerita.

????????????????????????????

Mungkin maksud penulisnya bagus, ingin menunjukkan bahwa Keara ini melampaui stereotip orang kaya yang biasanya cuman arogan sombong dsb, makanya dibikin ada sisi lainnya lah gitu, tapi kok jatohnya malah nggak meyakinkan. Karakternya Keara ini kayak potongan-potongan puzzle yang dipaksain jadi satu, tapi sisi-sisinya malah pada tabrakan dan nggak cocok, jadinya puzzlenya gak jelas bentuknya sebenernya apaan. Bolong-bolong.

And don’t even get me started on Harris.

Sexist misogynist piece of shit. Tipikal karakter player super cakep yang kelewat diromantisasi, yang kalau udah jatuh cinta kepada “the one” bisa mendadak setia dan blabla. Tipikal karakter yang sering bikin cewek-cewek pada “KYA KYA HARRIS OMG HARRIS” dan malah blushing-blushing tolol kalo dia ngelontarin sexist remark, yang bikin saya pengen banting ini buku, kalau aja saya ga inget bukan saya yang punya. Tipikal karakter yang bikin cewek-cewek bego makin bego karena mereka makin ngimpi kapan bisa ketemu dan menaklukkan “Harris mereka sendiri”. Yang bikin cewek delusional makin delusional. Yang bikin dunia ini makin tidak nyaman ditempati oleh orang-orang kayak saya. Fucking Harris.

Apa yang “khas” dari Harris selain fakta bahwa dia menggemari MotoGP saya ga paham. Ya saya nggak banyak juga sih baca novel yang ada karakter macam Harris begini, tapi saya yakin kalo disandingkan dengan sederet karakter sejenis dari cerita lainnya, Harris ini bakal keliatan sama aja kayak yang lainnya, tidak menonjol dan datar banget. Saya ngetik pembantaian ini (….) jedanya emang lumayan lama sih setelah saya beneran kelar baca bukunya, tapi justru kan fakta bahwa yang saya inget dari Harris itu cuma secuil trivia nggak penting soal hobinya menunjukkan kalau… karakternya emang gitu doang??? Maksud saya, okelah sok sana bikin karakter yang bikin pembaca kayak saya gedeg banget sampe pengen banting bukunya, tapi seenggaknya usaha kek bikin karakter ini jadi understandable, bahkan oleh pembaca kayak saya??!

Kayak Severus Snape, misalnya. I swear to gods I don’t believe in, he’s such an awful human being, kalo dia beneran idup ya. Orang lain mungkin ada yang supersimpatik ama Snape, tapi saya tetep aja ga suka ama karakternya. Tapi seenggaknya saya kurang-lebih ngerti lah kenapa dia bertingkah seperti dia bertingkah. (Atau Umbridge, deh, tapi perbandingannya nggak adil sih karena Umbridge emang dibenci secara universal sementara Harris kan ada yang suka ada yang enggak.)

Bandingkan dengan Harris yang… yah… “yaudah, gitu aja”. Kayak yang penting omongan dia dibikin asal brengsek aja lah gitu, udah, kelar. Padahal dia tokoh utama, guys. Saya juga lupa yang bikin Harris takluk sama Keara itu sebenernya gara-gara apaan, selain karena Keara itu ceritanya HOT ABIS.

Terus ada Ruly yang fungsinya cuma biar hubungan Keara-Harris ada greget dikit, ada orang ketiganya. Ruly yang diceritain bahwa “dia cowok alim dan sebenarnya minat di sepak bola (atau olahraga, entahlah) tapi kerja di banking” biar terkesan punya kepribadian barang selapis, tapi malah gak ngena, dan emang gak gitu digali (aka sama kayak Harris). Oh iya, ternyata aim-alim gitu ciumannya jago (berdasarkan testimoni Keara). Penting abis emang.

Ruly yang kayak tempelan, karakter setengah-setengah, dan Denise yang nongol cuma biar Keara sakit hati aja kalo ngeliat Ruly dan Denise lagi ngobrol asyik berdua. Ya kerasa banget sih emang kalo mereka itu beneran “4 sahabat”, bukan cuma “sebenernya ini cerita soal Keara dan Harris aja, tapi dibikin ada 4 sahabat yang kisah cintanya tragis amburadul bertepuk sebelah tangan blabla aja deh biar greget hehe”.

My arse.

Terus ada karakter lain, Dinda, temennya Keara. Sama-sama rada bitchy juga kayak Keara cuma sekarang tobat menjadi ibu rumah tangga sambil morotin duit lakinya (ngerti kan kalau saya bilang ini novel bego-begoan?). Terus ada Panji, objek flirting-flirtingannya Keara di tengah cerita yang ternyata temen lamanya Harris, dan karakternya mirip-mirip Harris (lagi-lagi playboy yang diromantisasi, ujug-ujug takluk ama Keara yang ceritanya cakepnya tiada dua cie).

Dari sekian karakter di Antologi Rasa ini, kayaknya saya lebih rela favoritin abang bubur ayam yang diceritain jualan di Kuningan (?) aja, yang Harris sering bawain Keara sarapan dari sana pagi-pagi. Ketimbang karakter-karakter lain yang lebih sentral, di mata saya hanya abang bubur ayam itu yang terkesan paling real dan paling believable.

Ika Natassa emang gak kayak Ilana Tan yang punya karakter-keturunan-campuran-syndrome, tapi dia punya karakter-orang-kaya-sukses-cakep-penakluk-lawan-jenis-syndrome. Dan sebagaimana Ilana Tan doyan bikin karakter yang mirip-mirip dari satu novel ke novel lainnya, saya berani taruhan Ika Natassa juga punya gelagat yang sama, karakter di novel-novelnya yang lain pasti ada rasa-rasa Keara sama Harris juga.