Mana yang Musik, Mana yang Bukan

TL;DR: Emang masalah selera aja. #pft


Sejak melek K-Pop, saya jadi lebih in-tune sama perkembangan musik mainstream saat ini. K-Pop kan kiblatnya Western abis gitu. Dan karenanya, saya jadi semakin sadar betapa musik mainstream saat ini lebih sering bikin saya frustrasi ketimbang bikin saya obsesi.

Anggaplah saya ini purist. Musik beneran buat saya adalah yang pake instrumen beneran. Instrumen beneran buat saya adalah instrumen yang butuh skill manusia. Dan yang paling penting, musik beneran buat saya adalah musik yang mampu memancing emosi-emosi termentah manusia.

Sebagai purist, saya skeptis banget sama suara elektronik. Hit and miss banget buat saya, dan berdasarkan pengalaman saya lebih banyak miss-nya ketimbang hit-nya. Bahkan kalau mau blak-blakan dan sok dramatis, saya benci banget suara elektronik, saya benci musik hasil bikinan software doang. Dalam semangat sok dramatis yang konsisten, saya juga mau bilang saya benci suara instrumen-instrumen palsu, terutama synth brass. Gila benci banget saya dengernya.

Ya dramatisnya gitu sih. Tapi gapapa, sebagai orang dewasa berpendidikan, saya masih bisa kompromi kok sama suara-suara elektronik ini. Selama komposisi secara keseluruhannya masih terdengar kayak musik di telinga saya, saya oke aja dengerin berulang kali ampe bosen. It’d be stupid to dismiss it completely. Gila aja, bisa-bisa saya kehilangan musik asik kayak gini:

Kan sayang. Meski cukup langka, ada kok musik yang direksinya emang sengaja dibikin elektronik kayak gitu dan tetap terdengar oke di telinga saya.

Cuma ya itu. Ada, tapi cukup langka.

Sialnya, yang lebih sering ngetren dan ngehip abis di masyarakat adalah suara elektronik yang kayak gini:

Saya masukin lagu ini sebagai contoh bukannya saya mau bilang lagu ini populer, poin saya adalah lagu kayak gini yang populer. Dan ini udah dari tahun entah kapan ya, sejak saya masih kuliah pun, musik-musik yang intens bersirkulasi di masyarakat tuh selalu aja jenisnya yang kayak begini semua. Seenggaknya kalo saya ke tempat umum di mana kawula muda bergerombol, yang diputer di speaker selalu musik beginian.

Dan saya udah kadung muak banget ama musik beginian.

Pertama karena keelektronikannya, dan udah gitu suara elektroniknya bukan jenis yang bisa dengan mudah telinga saya terima. Tipe-tipe musik klub yang nyaris selalu HARUS didengarkan dalam volume maksimal. Biar apa? Ya biar kedengeran!!! There’s always that bass beat thing going on there right? And it almost always comes in the form of sound that you want to blast around your ear. Dan ini yang bikin saya keki banget, musik beginian nggak sehat dan nggak bakalan pernah sehat buat telinga saya. It’s somewhat inducing in the most negative way. Apa ya, musik-musik mabok.

(Ya emang musik-musik mabok sih)

Kedua, alih-alih unjuk melodi, highlight dari musik beginian nyaris selalu ada di “beat drop”. Bodo amat jadinya mau seklise apa pun, pokoknya mesti ada “beat drop”. Sekitar 1:26 kalo di video tadi. Dan ini yang bikin saya mau nangis, soalnya ya, “beat drop” ini, mau dikreasiin dalam berbagai cara pun, hasilnya bakalan tetap terdengar gitu-gitu aja.

Masih dalam topik yang sama, musik beginian nyaris selalu miskin melodi. Melodi aja miskin apalagi harmoni. Paling melodinya cuma ada di vokal doang, itu pun kalo ada. Sisanya berat di ritme/beat. Dan, duh, ayolah, ada berapa macam variasi ritme/beat sih di luar sana? Pembedanya paling di jenis “instrumen”, tapi polanya ya… bisa sevariatif apa sih? Ujung-ujungnya gitu lagi. Kayak, selalu ada entah apa itu yang kedengeran kayak snare berentet seperdelapan, trus seperenambelas bentar sebelum the goddamn beat drops. There’s almost always that particular sound. It’s just so blatantly uninspiring it drives me up the wall every time I hear it.

Biasanya saya nggak terlalu merhatiin detail ritmis begini. Saya biasanya merhatiin melodi aja, tapi karena di musik beginian nggak ada lagi melodi yang bisa dihayatin selain vokal, ya mau nggak mau kan secara tidak sadar saya perhatiin juga. Dan pas saya ngeh apa yang saya denger, pas saya ngeh apa yang bikin saya tau-tau kesel pas dengerin musik beginian, saya malah makin kesel sendiri. Belum lagi ngomongin gimana tiap dengerin musik beginian saya selalu berasa kayak ini yang bikin pada masukin apa aja sampel beat yang bisa dimasukin saking kering melodinya itu musik. It’s frigging all over the place. Argh aduh gila saya muak banget ampe mau nangis.

Ini bias pribadi, tapi buat saya melodi/harmoni itu udah kayak karakteristik mutlaknya musik. Kasarnya, bukan musik kalo nggak ada melodi. Saya nggak bisa tertarik kalo instrumennya nggak ada pitch. Makanya saya nggak suka suara perkusi kayak drum tapi oke aja sama marimba. Saya kalo dengerin lagu apa pun, selain dengerin vokalnya biasanya saya juga nyari part tertentu yang jalan sayup-sayup di belakang. Dari sini saya jadi ngeh-in banyak hal: Oh bass-nya kayak gini, kok asik; Eh ini suara apaan di belakang; Argh the chord!!!; Is this trumpet real? Oh it’s real trumpet! I’m glad it’s real, not synth. Penemuan-penemuan kecil kayak gitu yang bikin dengerin musik itu aktivitas yang saya muliakan banget.

Terus suara-suara elektronik yang dipake di musik beginian karena basisnya sample jadinya malah bikin musik beginian secara keseluruhan jadi terdengar dangkal. Haha, kedalaman macam apa sih yang bisa ditawarkan berbagai macam beat itu. Nggak banyak bisa dimain-mainin juga. Gini, kalo piano kan bisa diapa-apain, mau dibikin kedengeran surem, damai, atau euphoric bisa. Kemungkinannya banyak banget. Now try to take your beats and electronic noises and figure out the kind of sounds they can offer. Mau diapain dan digimanain pun, suara-suara elektronik ini gak bakal bisa seluwes dan sedalem itu sampai kapanpun. Kenapa ini penting?? Because I need my music to be able to elicit the rawest emotions!!! Dan emosi saya, kasarnya, nggak bisa dateng dari beat drop.

Jadi ngedengerin gimana komposisi musik beginian melucuti nyaris semua melodi dan cuma nyisain vokal, making it consists of almost only superficial beats and rhythms itu kayak, wah, oh my good gracious gods what the hell do you think you’re doing. Iya saya emang suka track-track minimal, tapi yang biasanya saya suka tetep yang masih berasa ada melodinya sayup-sayup jalan di belakang, bukan yang macam musik beginian.

Demi tuhan, meski sama-sama elektronik dan pada dasarnya saya ga suka suara elektronik, saya lebih rela kalau musik macam Hotline Bling yang ngetren. Se-nggak sregnya saya ama hip-hop dan rap, seenggaknya ini masih terdaftar sebagai musik di telinga saya.

But nooo, it doesn’t.

I keep hearing those generic garbage people call EDM that always have that beat drop part in, every damn time.

Tentang Catcall dan Marah-marah

Sebagai perempuan yang sering jalan kaki dan lebih sering jalan kaki sendirian, mendapat catcall adalah hal yang cukup biasa buat saya. Biasanya catcall yang saya dapet itu bunyinya macam “Neng, mukanya kusut amat?” atau “Cewek, mau ke mana?’ atau bentuk perhatian ala-ala lainnya, atau sapaan-sapaan sederhana berbalut pujian, atau sapaan religius “Assalamualaikum, Neng.”

Perempuan-perempuan tertentu mungkin akan marah-marah dengernya. “Enak aja! Itu pelecehan! Pelecehan seksual terhadap perempuan!!!! Meski ngegodain doang tetep aja itu pelecehan seksual!!!??@!!!!!” Ya respon-respon berapi-api semacam itulah. Yang kalau dapet catcall langsung melotot dan negur galak, “Jangan kurang ajar, ya!”

Saya enggak.

Saya kalo dapet catcall biasanya langsung saya senyumin aja orangnya.

*kemudian dikuliahi panjang-lebar oleh aktivis-aktivis perempuani bahwa yang saya lakukan sebenarnya justru meng-reinforce kebiasaan catcall mereka*

Ya.

Mendapat catcall memang tidak menyenangkan dan bikin risih. Ngerti kok saya.

Tapi gimana dong ya, I just can’t help to think that being angry doesn’t really help the case. Makanya tiap baca artikel-artikel penuh passion di internet tentang bagaimana catcalling is a big NO-NO dan blablabla yang pokoknya isinya ingin menyadarkan masyarakat dan marah-marah terselubung dan memprotes segala macem, saya malah mendengus tertawa.

Apa sih yang orang-orang ini harapkan? Yang catcall jadi berkurang drastis, gitu? Cuma dengan ngebaca artikel random di internet dan mendapat respon tidak ramah dari perempuan yang di-catcall?

Kalau ada insight dari psikologi yang betulan berguna di hidup saya, itu adalah bahwa yang namanya berubah nggak segampang ngasih tau kalau ini nggak boleh itu nggak boleh. Dan bahwa orang kalau makin di-confront malah makin resisten.

Makanya saya udah berhenti marah-marah. Dulu saya gampang banget marah-marah, ada isu soal agama dikit saya marah-marah pengen venting asap, dibilang “ya kalo perempuan emang susah sih buat pake logika” sama bapak sendiri kepala saya pasti langsung meledak, dan hal-hal sensitif lainnya yang niscaya akan bikin saya sakit hati dan merasa paling menderita di muka bumi ini. Tapi sekarang enggak dong, saya udah gede *hidung kembang-kempis*. Saya sudah belajar bahwa marah-marah itu draining abis. Saya malah jadi kefokus ke situ-situ doang. Hmph.

Jadi daripada marah-marah, mending saya redirect kemarahan saya dan relokasi energi saya buat sesuatu yang lain. Bikin teenlit, misalnya. *Syadzwina besar mulut, teenlitnya udah ga lanjut-lanjut padahal*

Makanya, tentang catcall-catcallan ini, saya selalu merespon dengan senyum (di-)ramah(-ramahkan) dan berhenti merasa sakit hati, risih, dsb.
Lagian ya, menurut saya, nggak ada ruginya juga ngesenyumin orang yang catcall saya. Ya, mungkin memang saya malah semakin melanggengkan budaya catcall yang OMG SANGAT BERBAHAYA ini. Tapi ya terus kenapa coba? Dunia yang saya tempati toh ya memang yang seperti ini. Buat saya, terlalu cepat tiga generasi untuk membuat orang-orang di dunia ini untuk benar-benar berhenti catcalling. #pesimis #realistis #aktivisaktivispastibenciaku

Jadi daripada merespon dengan bersikap jutek, yang menurut saya tidak menguntungkan ke depannya karena saya malah seolah-olah kayak bikin musuh, mending saya senyumin aja. Saya nggak tau kalo orang lain, tapi biasanya kalo saya ngesenyumin orang-orang yang catcall saya, mereka malah senyum balik, atau malah lanjut bilang “Senyumnya manis amat, neng” yang biasanya saya respon ketawa aja sambil lanjut jalan, atau diajak basa-basi kecil, yang biasanya saya ladenin sopan, plus pake senyam-senyum ramah. Not so harmful, right?? It’s like befriending the strangers. Respon begini buat saya malah terkesan lebih menguntungkan. Kan kalo misalnya saya ramah-ramahin mereka sekarang, siapa tau mereka jadi kenal muka saya. Trus kalo suatu saat saya kenapa-kenapa gitu misalnya, karena mereka kenal muka saya saya jadi dibantuin. *dangkal*

Tapi bukankah ini brilian???! Is I not zmart?????

Why turn them catcallers into enemies when you can turn them into friends???? That way they’ll stop catcall you dan malah nyapa beneran, if you’re lucky, or still catcall you but in a friend-way which will bikin risih less, if the universe is not in your favor. I seriously am baffled why people are not doing this trick and choose to be seriously offended by catcalls instead and react like a Hungarian Horntail protecting its eggs.

Ya mungkin saya bilang begini karena belum ketemu aja orang yang catcall yang ternyata juga stalker. Tapi gapapa. I’d still rather play my be-nice-and-likable card. Toh berdasarkan pengalaman saya orang-orang kalo disopanin biasanya juga jadi tau diri sendiri buat sopan balik. Daripada saya marah-marah kan. Bodo amat saya jadinya me-reinforce catcalling atau nggak, yang penting saya gak bikin musuh #prioritas. Lagian kan kayak yang saya bilang, terlalu cepat 3 generasi untuk menumpas segala kebiasaan catcalling ini. Dan kalaupun mau ditumpasss, I’d rather do it in a verrrry subtle way that won’t cost me to be angry. Because being and staying angry at things drains my energy in the most unbelievable speed.

I’m an introvert I love my energy too much ok.

Udahlah, patah hati mah patah hati aja…

Jadi ada lomba cerpen LGBT gitu, trus premisnya kurang-lebih begini:

“Saat kamu mencintai seseorang lalu ternyata dia adalah straight tulen, tentu kamu kecewa luar biasa apalagi kamu ditolak setelah mengutarakan isi hatimu padanya. Patah hati. Terluka. Galau. Dan naasnya, dia yang kamu cintai itu cuek alias tidak peduli. Dan menurutnya masalahmu bukanlah urusannya. Dengan enteng dia bertingkah tanpa dosa padahal sudah menyakitimu.”

Sebel banget saya bacanya sampe tergerak buat venting di Tumblr, suatu hal yang sudah lama tidak saya lakukan.

Ada apa sih dengan orang-orang yang mengira bahwa mereka sebegitu entitlednya di muka bumi ini jadi kalo mereka naksir orang, orang itu harus naksir balik, gitu? Seolah-olah satu-satunya outcome yang logis kalo naksir sama orang itu adalah orang itu harus naksir balik. Padahal kan nggak gitu?? Kebanyakan mamam teenlit nggak mutu nih pasti, jadi kayak gini kan bentukannya. #semuasalahteenlitnggakmutu

“Dan naasnya, dia yang kamu cintai itu cuek alias tidak peduli.”

Emang dia ada kewajiban apa coba buat peduli? Apa cuma karena mentang-mentang kalian “cinta” trus si dia ini harus “peduli” gitu? Orang mau peduli atau nggak itu kan sesuatu yang terjadi begitu saja, tidak langsung disadari, dan nggak bisa dituntut-tuntut macam “Aku udah cinta ama kamu! Kamu peduli dong ama aku!!?”. Kan bego…

“Dan menurutnya masalahmu bukanlah urusannya.”

Kalau saya harus mikirin orang-orang yang “patah hati, terluka, dan galau” karena saya “tidak bisa membalas perasaan mereka”, udah keburu depresi dan bunuh diri duluan kali saya lantaran merasa bersalah karena merasa saya-lah penyebab segala “patah hati, terluka, dan galau” itu. Kan gak lucu, padahal saya nggak ngapa-ngapain juga, udah default-nya aja gitu saya gak punya perasaan yang sama. Jadi ya, sudahlah, terima saja, semua orang udah punya urusannya sendiri buat diurusin, kalo punya emosi tertentu ya regulasi ajalah sana sendiri, ga usah pake merepet minta orang lain yang urusin, gimana sih.

“Dengan enteng dia bertingkah tanpa dosa padahal sudah menyakitimu.”

Dia nggak ngapa-ngapain nyet ngapain lo dakwa berdosa segala.

They don’t even do it on purpose! It’s just on their nature to not have any interest whatsoever on you. Sama kucing aja kalian oke-oke aja tuh diperbudak, sayang tapi ga disayangin balik, ngasih makan ini-itu tapi kucingnya tetep belagu-belagu aja, tapi toh kalian tidak peduli, tetap secara unconditionally menyayangi kucing tsb, tetep ngelus-ngelus, tetep ngasih makan, ya kan??? Ama kucing aja bisa ampe tulus-tulus dungu gitu. Lah ini kenapa sama sesama manusia pake ada bumbu-bumbu pamrihnya segala coba. “Aku suka kamu, tapi kamu nggak suka balik ama aku. Jadi sekarang aku patah hati. Kamu tanggung jawab dong udah bikin aku patah hati! :(”

Sudahlah, kalau patah hati mah patah hati aja, nggak usah nyeret-nyeret orang lain buat dijadiin oknum. Terima sajalah kenyataan pahit bahwa perasaan kalian tidak berbalas, dan emang nggak harus. Toh semesta tidak pernah menjanjikan siapa yang jatuh cinta akan mendapatkan perasaannya berbalas 💕.

Lagian apa salahnya sih merasa terluka dan patah hati. Kenapa harus ditakutin banget. Tidak tahukah kalian justru dengan mengalami dan menerima kehadiran semua jenis emosilah baru kita dapat berkembang? 😦

(Saya nggak becanda… Coba tonton Inside Out.)

Pemerhati Teenlit

Jadi saya lagi kepikiran gimana caranya menyelipkan dengan cerdik beberapa konsep dari filosofi hidup (?) saya ke shitty teenlit yang gak selesai-selesai ini. Ujung-ujungnya malah saya merasa marah sendiri kenapa jarang banget ada teenlit (lokal) yang meaningful, yang kalo saya baca lagi pas umur saya 20-an kayak sekarang justru saya bakal menangkap sesuatu yang baru yang saya gak tangkep pas saya masih remaja tengik belasan tahun. Teenlit yang kalo saya baca ulang sekarang saya bakal tercengang dan memekik dengan kenorakan tulus, “HOLY SHIT THIS IS SO SUBTLE?!!”

Maksud saya, hal kayak gitu kan sering banget saya temuin di buku anak-anak, atau apa pun jenis franchise (?) yang target utamanya anak-anak.

Kayak Harry Potter yang saya baca dari umur saya 6 (kayaknya, entah). Everyone agrees that there’s some deep meaningful shits in that story far beyond what children can grasp. Kayak dulu saya mana nangkep kalo Sirius Black itu sebenernya damaged beyond repair?? Orang saya terlalu sibuk me-worship penggambaran karakternya di buku 5, yang cool arogan cepet bosan ohh Prongs look Snivellus pokoknya omg kya Sirius kya.

Atau Avatar (yang The Last Airbender ya, bukan yang biru-biru; yang TV series ya, bukan yang live-action movie). Duh, saya kemaren ngulang nonton itu ampe nangis kayaknya. Yang bikin saya suka sama Avatar dulu pas saya SD kayaknya gara-gara saya terpana aja gitu ama bendingnya, terutama earthbending, ya ceritanya juga sih, tapi saya nggak ngambil apa-apa lebih dalem dari itu. Sekarang aja saya berkaca-kaca nontonnya, baru ngeh ini kartun sebenernya jenius banget nyampein filosofinya dan gak cuma tentang heyho ini adalah perang membela kebenaran menumpas kejahatan di muka bumi.

Atau kalau mau ke timur dikit, kayaknya banyak deh itu anime “anak-anak” yang sebenernya lebih dalam dari penampakannya. Yang saya bisa recall cuma Hikaru no Go (tentu saja). Keliatannya kayak anime yang cuma ceritain soal Hikaru yang pengen jadi pemain go profesional, tapi pas nyampe arc yang Sai akhirnya “ngilang” that shit is just getting real. Suddenly we’re dealing with grief. How anak-anak is that for you eh?

Atau buku anak-anak yang baru saya baca nih, bukunya Judy Blume yang Are You There, God? It’s Me, Margareth. Itu buku targetnya anak kelas 6 kayaknya, dan umur saya 21. You know what I get when I got into the climax? Fucking tears. Padahal itu buku yang dibacanya paling 2 jam kelar, cuma 100-an halaman, udah gitu bahasanya ringan banget. Ceritanya juga gak ribet-ribet amat, cuma soal dia ngerjain projek buat dikumpulin akhir tahun, dan karena dia dibesarin tanpa paparan agama dari orang tuanya, dia bikin projeknya soal nyari tuhan. Nggak ribet dan nggak bertele-tele tapi pas saya nyampe bagian Margareth ngumpulin projeknya saya nangis lho emotional impactnya di saya nonjok banget??

Kenapa nggak banyak teenlit yang kayak gini coba?? Kenapa cuma karena mentang-mentang target pembacanya adalah remaja bau kencur terus ceritanya otomatis jadi bloon abis-abisan???

Kenapa kebanyakan teenlit cuma bisa jual karakter cowok buat dijadiin book boyfriend pembaca dan kisah cinta menye-menye dan DIALOG YANG TIDAK REAL? Tau kan, tipikal percakapan yang fuck you ain’t nobody talk like that in real life. Dikit-dikit quotable dikit-dikit quotable. Like seriously?? You think we come here just so that we can quote some lines a character randomly spewed from your fucking overpriced book? Since when writing books has been about competition for who can stuff the most quotable lines into one single book? Are you a fucking git why don’t you just pay your characters’ depth the attention they deserve and stop making them look like stick figures with nametag in my mind???

Ya gitulah. Sebagai pemerhati teenlit hal ini bikin saya marah dan sedih. Ya udah gitu aja.

Tertanda,

Syadzwina
Pemerhati Teenlit

Studi Kasus: Secret

Beberapa minggu belakangan ini saya punya mainan baru, Secret, anonymous secret sharing gitulah. Awalnya saya udah lumayan sering orang liat pake app ini, tapi yang bikin saya mendadak rela nginstall adalah pas kepo Secret di hape kakak saya. Padahal tadinya kan saya ogah nginstall karena tahu app begituan pasti bakalan terlalu dipenuhi orang-orang yang berkubang menggelora dalam kegalauan mereka, orang-orang sok bijak dengan quotes modal copas 9gag/tumblr/etc., yang mana secara keseluruhan hidup saya terlalu bitter untuk mampu mengakomodasi informasi-informasi insignifikan begitu.

In the end, I gave in.

Di luar dugaan, Secret, dalam caranya sendiri, bisa menjadi hiburan yang cukup, ehm, unik.

Di bawah ini adalah kompilasi berbagai lumpur dan permata yang saya temukan di Secret. Ya, saya terlalu sibuk sampai saya sempat menscreenshot apa saja yang saya temukan menarik di app ini. Diurutkan berdasarkan tanggal screenshot tersebut diambil.

Kasus 1

Contoh paling klasik. Di medsos macam Twitter atau Facebook saja yang notabene nggak seanonim itu orang-orang begini banyak bercuap-cuap, apalagi kalo dikasih fitur anonim murni? Sama sekali bukan masalah. Ini tentu saja sentimen pribadi saya, karena saya tidak bisa menahan diri untuk tidak jengkel jika orang-orang meng-unleash fitur holier-than-thou mereka di muka bumi ini. Setiap baca secret bernada serupa saya langsung mendengus (kalau mood saya sedang baik) atau memaki (kalau mood saya sedang senggol-bacok). Tapi tentu saja, selalu ada secret yang lebih menyentil dari pada ini.

Kasus 2

Dunia gempar.

Kalau secret serupa kasus 1 sudah menyebalkan, yang begini lebih menyebalkan lagi. Tipe-tipe yang bikin saya ingin menyerapah, “Get out of the gene pool!”. Tapi secret begini ada menariknya, biasanya komen-komennya pasti seru. Entah komen-komen yang sama begonya atau komennya memiliki tujuan mulia untuk mencerahkan pengetahuan umat manusia yang tidak ilmiah, itu tergantung sikon. Biasanya juga, kalau OP-nya nggak pinter banget, ya ignoran banget. Kelanjutan dari komen-komen di secret tersebut bisa dilihat di bawah ini.

Bisa dilihat ini OP-nya tipe yang ignorant banget. Oh, dan nggak cuma berhenti sampai di situ.

Meski nggak bisa dipungkiri juga justru dari thread yang awalnya wtf bisa muncul komentar berlian macam komentar pink bird.

Bayangkan berapa banyak orang di luar sana yang sebelas-dua belas sepemikiran dengan si OP, mengira orientasi seksual kayak saklar bisa di-turn off dan di-turn on-kan at will.

Dan menganggap dengan serius bahwa menyertakan cerita Nabi Luth sebagai bukti dapat dikualifikasikan sebagai tindakan logis. Imagine how many people alike roam this earth freely.

Kasus 3

Tapi kadang ada juga beberapa secret kayak gini, Lumayan lucu juga sih.

Kasus 4

Dan yang thought-provoking seperti ini. Komen-komennya merupakan bukti nyata menyedihkan bagaimana masih ada orang-orang yang menganggap enteng perkosaan, cuma sebatas rapistnya ganteng/enggak.

Kasus 5

Dan tentu saja, sampah-sampah macam begini. Seringnya, secret macam begini yang suka bikin saya naik darah secara ga sengaja. Padahal mereka kan nggak salah apa-apa ya, tapi entah gimana saya kesel ajalah gitu. Di saat orang lain gelisah mikirin hal-hal yang yang lebih substansial gitu ya (“Matkul linfak FIB kapan keluarnya di SIAK???!”), ini orang mikirin…yah, enigma perihal ketidaklakuannya sebagai pasangan hidup di mata orang lain meski ia dikarunai rupa yang cukup dapat dicerna mata sebagai muka manusia. Dasar entitas tak berguna, bikin dengki hati saja meski saya juga ga bakal kenal. Berani taruhan yang ngepost beginian anak SMA. Tipikal orang yang kebahagiaannya didefinisikan sebatas kepemilikan pasangan hidup.

Ngeselin kan.

Kasus 6

Ini adalah contoh sampah SMA yang lain.

Jadi ceritanya begini, setelah Secret mengeluarkan updatean terbaru, interfacenya ganti dari yang tadinya berestetika gitu (tiap secret ada backgroundnya, bisa dipilih, dan bentuknya lebih ke quote+picture gitu) jadi ke yang text-based + ada fitur chat. Sejak updatenya ini app jadi ada perubahan besar-besaran di kontennya, jadi super nyantai gitu dan jadi banyak yang post secret isinya cuma age/sex minta chat. Ya itu lain soal.

Anak SMA, sementara itu, jadi heboh mengepost secret yang tidak benar-benar secret, misalnya, namedropping nama seseorang di sekolah dan menjadikan nama tersebut sebagai objek cyberbullying (kali). Kayak si “Arthur” ini. Jadi banyak lah yang ngepost secret-secret yang kalau membaca yang tersirat, saya jadi mendapat ide bahwa Arthur ini adalah orang yang teramat hina dan pantas diolok-olok. Berkembang jadi games nggak penting dengan ngepost secret yang isinya kurang lebih gini: poster di atas/bawah (pick your choice) supirnya/bokapnya/pembantunya/etc. arthur.

Nggak paham di mana lucunya? Saya juga.

Brats.

Tapi nggak cuma sampai situ aja, lebih banyak lagi remaja-remaja SMA latah yang bukannya komen aja gitu di thread secret ybs, malah ngepost secret baru kayak screenshot di atas. “Arthur siapa sih? Apa sih arthur-arthuran? Arthur arthur arthur dsb dsb.”

Yang ngeselin banget, karena Secret punya limit berapa secret yang bisa ditampilin dan masalahnya karena remaja-remaja ini pada latah, dalam 5 menit secret yang lebih menarik dibaca malah pada tenggelem lantaran banyak banget yang teriak-teriak cariin Arthur, nanyain Arthur, dsb.

Dan gak cuma ngolok-ngolok anak orang, anak SMA/SMP di Secret ini juga hobi banget ngepost secret yang isinya ngabsen sekolah (“21 mana suaranyaa” “Ada yang anak blabla?”). Pas saya bilang hobi, maksud saya obsesi.

Kasus 7

Ini bukan post secret, tapi komen di sebuah secret. Bukan main lelahnya saya kalau baca komentar/secret serupa komentar ini. “Iman agnostic/atheis”, bayangkan. Iman. Freaking iman. Iman dari seorang ateis.

Fakta bahwa orang kayak gini ga bakal ada abis-abisnya bikin saya ga semangat idup.

Kasus 8

Hobi orang-orang secret juga adalah (selain saya, tentunya) menanyakan apakah suatu hal salah atau nggak. Kayak mbak-mbak ini, mempertanyakan apakah rasa sayangnya yang persisten terhadap mantannya merupakan suatu kesalahan.

This is why you people are so miserable in love.

(Ngomong kayak yang percintaannya sukses aja)

But seriously, sering banget saya nemuin secret yang isinya kurang lebih kayak gini. Salah gak sih kalo blabla. Salah gak sih kalo blablablabla. Kebanyakan dari mereka mempertanyakan salah/enggaknya perasaan romantis mereka. Seriously people, how can what you feel romantically toward someone be wrong, it’s your bloody feelings. Itu yang pertama.

Yang kedua, fakta bahwa sebagian orang menganggap relationship sebagai suatu ajang dendam-dendaman bikin saya frustrasi (“salah dia sih ya ninggalin org yg setia sm dia”). Gimana orang-orang macam ini bisa compassionate pada sesama dan berkontribusi pada dunia yang lebih baik kalau buat hubungan dekat malah mainnya dendam-dendaman kalau udah putus??! Just for the sake of making themselves feel better about themselves!

Geli.

Kasus 9

Ini thought-provoking secret yang lain, topiknya soal hukuman mati yang rame dibahas beberapa hari lalu. Membaca secret ini bikin saya cukup syok atas jumlah orang-orang yang mendukung keras hukuman mati. Belum lagi pembenaran yang kayak dipake si blue face, “negara berkembang gakpapalah pake cara yang ekstrim”, bikin sedih. Mau maju kenapa malah ditunda-tunda sih, main bunuh anak orang aja macam abad pertengahan.

Aang bahkan lebih manusiawi dari kalian! He didn’t kill Ozai and took his bending away instead! And he was like, 12 or 13!

Kasus 10

Nah ini, orang-orang dengan kepala menggembung yang berpikir bahwa bahasa Inggris hanya pantas digunakan oleh orang yang bisa menyusun kalimat demi kalimat bahasa Inggris tanpa cela gramatikal atau pengejaan. Saya yang se-grammar nazi-grammar nazinya ga pernah segitunya kalau liat ada orang inggrisnya ngaco. I’ll wholeheartedly correct their mistakes! That’s what grammar nazis do anyway. Running around telling people that their grammar is wrong. Yeah, very noble of us.

Tapi ga pernah saya bilang ke orang mending dia ga usah pake Bahasa Inggris sama sekali. Oh, engga, separah-parahnya paling saya suruh dia ngulang kelas Bahasa Inggris dia pas sekolah. Itu juga hypothetically speaking, karena sejauh ingatan saya bisa digali, kayaknya ga pernah saya ngomong “balik ke SMA gih sana, ngulang kelas Bahasa Inggris” ke orang yang Inggrisnya amburadul.

Makanya saya bawaannya mau marah kalau ngeliat postingan secret macam gini. Bahkan kalau mereka dibilang arogan juga masih terlalu baik. I’d rather live in a place where people speak English, no matter how bad, freely than this kind of people who think English is so divine it can only be used in public by those who already mastered it, and those who haven’t can only use it if and if only they’re in an English class.

It’s a frigging language. A very normal and common one. It’s not your frigging holy book that must be treated specially or what.

The stupidity is astounding.

Kasus 11

And of course, the old debate. Lebih karena anak-anak SMA mulai semakin menjamur di Secret jadinya ya apa boleh buat deh, topiknya kebanyakan topik-topik yang sedang ramai diperbincangkan anak SMA. Misalnya perdebatan panas IPS vs IPA-yang-nyebrang-ke-IPS-buat-jurusan-kuliah karena sekarang sudah mendekati bulan-bulan ujian kan.

Pas saya kelas 12 bahkan sampe ada yang dibully gara-gara debat ini. Awalnya hanya bermula dari anak IPS yang (seperti anak IPS pada umumnya) manja-manja, rewel soal anak IPA harusnya konsisten dong blabla dan semacamnya, terus kemudian ada anak IPA yang membuat pembelaan. Kemudian dia dibully. Semua ini terjadi mulanya di social media, namely Twitter, tapi tentu saja berlanjut di kehidupan nyata.

Kasian ya. Untung saya, meski ga pernah absen nyinyir dalam hati soal anak IPS yang merengek-rengek soal jatah kayak anak kecil, lebih memilih diam. Saved me from the potential terrible bullying. But really, just look at that secret. Manja. *eternal disgust*

Kasus 12

Now this one is rare gem!  If every secret posted in Secret is this witty, I’d had good time. If and if only.

Kasus 13

Contoh lain bagaimana orang-orang menganggap relationship sebagai ajang dendam-dendaman. Saya suka marah sendiri tiap baca secret begini, orang-orang ini self-centerednya minta di-bloodbend. Udah mah self-centered, dendaman, pacaran pula! Mengerikan. Ada apa sih dengan orang-orang yang menganggap dirinya begitu spesial dan perasaannya harus diwujudkan dalam suatu kepemilikan (baca: status)? Gemes saya.

“Gue tkt dia sama cwe lain dan lupain gue”: Gee. You people need to learn a bit of probably pessimism and probably a bit of philosophy. Yang saya banggakan dari diri saya adalah, kepesimisan saya dalam hidup memudahkan saya menerima hal-hal yang sulit diterima orang lain. Misal: “Apalah aku ini hanya butiran debu.” Lha memang! Saya insignifikan di dunia ini, satu-satunya hal yang membuat saya merasa signifikan adalah karena saya merasakan sendiri hidup itu bagaimana. Because I see things, hear things, do things, itu yang bikin saya merasa penting. Padahal mah enggak. Saya masih insignifikan, apalagi di mata semesta. Aku mati pun bumi bakal masih berotasi 😦

Kedengarannya depresif ya. Tapi menurut saya sih enggak, malah liberating gitu. Kecemasan bahwa orang yang saya sayang bakal melupakan saya jadi irelevan buat saya. How so? Because I’m so insignificant so of course they’ll forget about me eventually, duh. It then becomes irrelevant, because I already embraced the fact. Other people, I find, tend to cling desperately to their desire of not wanting to be forgotten, their desire to be immortal in someone else’s mind, which I suppose defies the nature. Selfish abis kan jadinya kayak mbak ini. Ngotot banget ga mau dilupain. Terus jadinya pamrih pula, cuma karena dia masih sayang terus merasa berhak buat balikan. Dendaman pula, ngarepin si mantan nyesel dan turut merasakan kehilangan yang dia rasakan. Kurang egois apa???!

Kasus 14

Kalau ini, contoh lain secret yang bikin panas. Selain karena kontennya yang menyentil dalam artian tidak menyenangkan, OP-nya pun tidak dapat berargumen dengan baik. Ditentang, eh, reaksinya…

Yah, begitulah. Lelah ya. Tapi gapapalah, biar ramai aja gitu tumblr saya ada idiocy showcase nya gitu.

Nah, kira-kira begitu deh isi Secret sekarang; kadang permata, lebih sering lagi banyak lumpurnya. Terus karena saya sudah semakin bosan dengan sampah yang terus-terusan dipost anak SMA di app ini, barusan saya uninstall. Semoga saya tidak tergoda untuk menginstall ulang lagi.

Disney Villain

Selera humor saya lagi terjun sebebas-bebasnya.

Biasanya kalo lagi liburan gini, saya selalu ada rencana brilian untuk memintarkan diri (aka membaca banyak buku) dan biasanya rencana itu selalu gagal. Gak heran, karena di tengah jalan, meski saya udah download berbagai buku dan minjem buku-buku buat dibaca dari perpus, ujung-ujungnya saya selalu lupa dan selalu beralih ke hal-hal yang lebih less-substantial untuk ditekuni.

Kayak misalnya saya baru nonton The Emperor’s New Groove (iya, baru nonton) dan saya menemukan bahwa gila ini film lucu juga where have I been these 20 years of my life. Ini film isinya parodi film-animasi-penuh-pesan-moral semua. Saya jadi senang saya memutuskan buat iseng download dan nonton ini, karena ampe sekarang tiap saya repeat berkali-kali scene tertentu ini, saya ga bisa ga ngakak.

Sekarang kalau ditanya siapa favorite Disney villain saya, saya tahu saya bakal jawab siapa: Yzma.

I’ll never get enough of that “I’LL SMASH IT WITH A HAMMA!” and that “Or to save on postage, I’ll just poison him with this!”. Selain karena suaranya Yzma yang uh so villainous uh so witchy.

Apology Should Be Reserved

A few days ago my mother told me that whenever I start a conversation on text with my father, I should start it with an apology, “Maaf.” for politeness’ sake, so I wouldn’t hurt my father’s delicate feeling. As provoked as I was, I argued my mother right away that starting every conversation on text with an apology is such a ridiculous thing to do. It’s not being polite. It’s being stupid. Why would you owe an apology when you have no mistake to feel sorry for? I was just going to text my father and suddenly I made a mistake for texting my father? Can you be sillier than that? He’s my father he has psychological responsibility to be emotionally available to his daughter why would I feel sorry to text him? Because I might disturb him? I was going to damn-text him not damn-call him how is that a disturbance.

(This is why most of the times the Javanese annoy me. No offense to all Javanese out there but if there was some taken I wouldn’t mind anyway. This might sound so superficial but here’s the thing: the Javanese tend to apologize a lot whenever they speak to someone they see higher than them you’d suspect they must’ve scored so low in self-esteem.)

To view very highly of your parents, way too highly to the point you have to apologize before starting a conversation with them, that is sick. It’s not that I’m opposing politeness (though I’d rather be formal than be polite), at least not in this post, but apology should only be used to express regret. And it’s not that oh I’m so arrogant I don’t want to apologize but the case is the context of apologizing. I’m not going to apologize whenever I start a conversation with anyone. No, I don’t think I’m disrupting anyone’s time. No, I don’t think it’s a mistake to start talking to anyone. No, I don’t think that starting a conversation with an apology is a sign of being polite, eventhough I live in such society. But I don’t think I’d adhere to such norms, as stubborn as I am.

Really, though. “Maaf.” is so exploited it has reached its point of diminishing returns.

I’d rather exploit “Terima kasih.” anyday and it’s still not going to lose any of its meaning.