Depresi dsb.

Selamat datang di [Tulisan? Racauan? Bualan?] saya mengenai depresi. Harap diperhatikan bahwa saya bukan profesional yang bergerak di bidang kesehatan mental dan segala hal yang saya utarakan di sini hanyalah opini (yang tentu saja hanya valid buat saya sendiri saja), sebagian besar berlandaskan pengalaman pribadi dan secuil pengetahuan yang saya dapat pas kuliah psikologi saya (yang nggak guna itu).

Kalo ada satu hal tentang depresi yang saya ingin semua orang di dunia ini tahu, saya cuma pengen bilang: “Really, chances are you don’t understand.”

Percayalah. Kalau kalian nggak pernah merasa depresi, jangan kelabui diri kalian sendiri seolah-olah kalian paham. Depresi itu satu dari segelintir hal di dunia yang sulit dipahami kalau nggak pernah ngalamin sendiri. Kurang-lebih sama sulitnya kayak pengalaman diperkosa. Dan kalaupun kalian pernah merasa depresi, jangan repot-repot menganggap apa yang kalian alami dan yang orang-lain-yang-juga-depresi alami sudah pasti sama. Kalian dua orang berbeda dengan pengalaman hidup yang juga berbeda, jadi manifestasi depresi di kalian seenggaknya ada-lah beda-beda dikit, belum lagi persepsi kalian soal pengalaman depresi kalian.

Jadi ya, nggak usah belagak sok peka gitulah soal depresi. At the end of the day toh nggak ada manusia yang bener-bener bisa memahami orang lain, mau sesensitif, seempatik, dan sejago apapun skill perspective-taking kalian. Muda desu, muda (T/N: in Japanese ‘muda’ means ‘futile’). Kalo nggak paham bilang aja kalo nggak paham, nggak ada yang nyuruh buat paham juga.

(Except those depression awareness folks. But I ignore them all the time as they’re too shady. Ketimbang orang-orang yang suka nyeletuk ‘gue juga pernah kali’, saya lebih terganggu sama barudak depression awareness ini yang selalu antusias untuk konsisten mengingatkan ‘you are not alone’ semata-mata biar pada nggak bunuh diri. Halah.)

Itu yang pertama.

Kedua, dan ini saya peruntukkan baik untuk orang yang depresi maupun orang yang punya orang yang depresi di sekitarnya, udahlah nggak usah sok pengen menyelamatkan orang dari depresi. Muda desu, muda (2).

Depresi itu bukan penyakit yang penderitanya bisa dinyatakan sembuh 100%. You sort of live with it, to say the least. Kalau kalian pernah depresi dan sekarang lagi fungsional, it’s almost certain that another episode is waiting for you somewhere, if the variables (yang saya tidak terlalu peduli buat nyari tau apa persisnya) match. Itu satu.

Dua: Apapun yang berusaha kalian omongin ke orang yang depresi, percayalah gak bakal ada yang masuk.

Orang yang depresi ini ya, kasarnya, sekian fungsi kognitifnya ‘keblokir’. Kognitif keblokir ini bikin sekian task yang (harusnya) sederhana jadi berat banget buat diproses otak. Semua jadi serba terbatas, atensi juga.

Yang tadinya selain mikirin diri sendiri masih bisa mikirin dan peduli orang-orang di sekitar dan mungkin berbagai masalah penting dunia, jadi cuma sanggup mikirin diri sendiri. Yang tadinya masih bisa ngeproyeksi berbagai hal di masa depan (sesederhana mikirin besok makan di mana, pake baju apa, dsb.), jadi mentok cuma bisa mikirin ‘sekarang’. Dan ‘sekarang’ yang saya maksud ini beneran ‘momen pada saat itu’, kayak stuck ama pikiran sendiri. Ngeproyeksiin apa yang bakal kejadian atau diinginkan terjadi untuk beberapa jam atau menit ke depan aja udah berat (saya suka becandain nggak ada orang yang lebih in-the-moment dari orang depresi).

Hal-hal trivial sehari-hari gitu yang biasanya nyembul di benak dengan gampangnya jadi berasa jauh tak terjangkau; mendadak pikiran macam ‘duh kepengen makan nasi padang’ atau kepengen apapun itu menjelma jadi konsep yang alien banget. Apalagi soal keberadaan orang-orang sekitar, blas mendadak irelevan semua. (Dan misteri kenapa orang depresi biasanya bakal menarik diri akhirnya terpecahkan wow).

Seterbatas dan sebuntu itu. Dan kognitif keblokir kayak gini belum tentu bisa menyeluruh dibantu dengan antidepresan juga. (Don’t take my words for it, tho. Aku cuma googling sekilas lol.)

Ini juga kenapa saran-saran dan berbagai macam hal yang keluar dari mulut orang-orang yang nggak depresi bakal kedengeran kayak ‘dongeng’ buat orang yang depresi. Kayak kalau kalian ngingetin orang depresi kalau dia masih punya keluarga/significant other/dsb, atau ngingetin kalau dia ‘didukung dan disayang banyak orang lho’, atau ngingetin bahwa ‘masih banyak lho hal menyenangkan di dunia ini yang bisa dinikmati’. Hal-hal sok-positif kayak gitu, berani taruhan, bakalan mental sendiri di orang yang depresi. Nggak bakal nyampe, serius, bener-bener udah di luar jangkauan. Keblokir dengan sendirinya.

Makanya kan tadi saya bilang: “Muda desu, muda.” (3)

As bleak as it may sound, no one can save anyone from depression. Apa itu supportive environment (yang suka didengung-dengungkan orang-orang nganu itu)? Depression will never end at “supportive environment”. Heck, it doesn’t even end at all, just another episode coming and going.

Ya bisa sih disuruh menjalani psikoterapi dan lain sebagainya (“biar ‘sembuh’ gitu lho”), tapi toh nggak ada yang namanya 100% success rate di psikoterapi-psikoterapi buat depresi ini. Jadi kalau kalian depresi dan memutuskan untuk mencoba psikoterapi semata-mata dengan harapan BISA SEMBUH SELAMANYA,

“Muda desu, muda.” (4)

Kesannya saya kayak berusaha memboikot kerjaan para psikolog ini ya. Padahal nggak gitu, kalo emang suka sensasi dapet ilham di tiap sesi terapi ya udah sok sana bikin jadwal. Maksud saya ini cuma pengen bilang nggak usah terlalu ngotot berontak pengen bebas dari depresi. Menderita ya menderita aja. “Oh, kamu depresi? Terima saja yes. It’s basically a part of your life now.”

Terkesan pasrahan, barangkali. Disheartening, even. Terdengar sangat dingin dan tidak empatik juga, mungkin (yah, apa sih yang kalian harapkan dari orang kayak saya). Tapi buat saya ini malah paling masuk akal dan comforting dibanding cara-cara lain, by allowing depression to happen instead of being repulsed, resisting and running away from it, or seeking explanation, even (iya, saya nggak terlalu ngefans sama pendekatan yang berusaha nyari penjelasan/justifikasi kenapa saya depresi).

Nggak usah repot-repot, terima ajalah. Yah, speaking from first-hand experience, cara begini emang nggak serta-merta membuat saya merasa lebih baik, pas kejadian ya tetep aja depresi dan merasa miserable. Cuma saya jadi nggak terlalu merasa tersiksa hanya karena saya merasa miserable. Menariknya saya malah jadi mengobservasi saya yang depresi, if that even makes sense. I observed every passing suicidal thoughts. I observed how I repeatedly told myself that I want to disappear. And it’s not like I put any meaning to any of it, no. Just plainly watch myself going to pieces.

And I gotta say, weird as it may sound, it’s a lot better than having to feel beaten up every time another episode is coming. Still miserable, but better.

So, yeah. I wish people would stop saying “Fight depression!”.

Just give depression a room to breathe and let it rise and fall on its own, people. There’s no need to resist so stubbornly. Nggak perlu menakuti/menghindari depresi segitunya lah. It just is.

“Terus gimana dengan orang-orang yang memutuskan untuk mati karena depresi?” Biar.

Biar.

Nothing you can do about it anyway. Muda desu, muda (5).

“Tapi kasian dong orang tuanya, pasangannya, anak-anaknya, temen-temennya???”

Yeah, life sucks. Is that news to you?

Advertisements

Circa November 2014

Yang membuatnya terasa getir adalah betapa jari saya tidak dapat menangkap umpan-umpan terliar yang dilempar benak saya. Miss, miss, miss. Semuanya terlewat begitu saja tanpa satu bisa ditangkap. Yang membuatnya membendung, membumbung begitu tinggi adalah betapa ketika saya terbaring pikiran saya sama sekali rileks, tanpa siaga. Kenangan dipanggil, memori digali. Batin resah dipenuhi terlalu banyak hal yang tidak bisa saya kenali itu apa. Manifestasi-manifestasi abstrak yang kusut masai, meraung-raung minta diperhatikan tapi tidak mengizinkan wujudnya dibuat konkret. Kusut, kusut, kusut. Mencar sana-sini, bertabrakan, melilit satu sama lain, mencekik. Semuanya bergerak terlalu leluasa. Saya tak tahan, maka secara naluriah saya beranjak. Menuju pensil, menuju kertas, menuju keyboard. Saya ingin merasionalisasi apa yang sedang terjadi. Saya ingin menenangkan diri dan berpikir, merunut satu per satu kekacauan. Saya ingin punya kendali.

Lalu semuanya berhenti. Lenyap begitu saja.

Sesaat ketika jari saya bergerak, semuanya terblokir. Blokir, blokir, blokir. Umpan terlewat tanpa sempat saya jadikan kalimat. Miss, miss, miss. Bergeming seperti dungu, melongo seperti tolol. Menunggu umpan dilempar lagi, mencoba memancing yang telah lenyap dengan merangkai frasa-frasa yang tidak bisa saya satukan menjadi kalimat utuh. Dungu. Tolol. Seketika saya mencoba mengurai pikiran yang sebegitu kusutnya, seketika itu pula saya menghalangi saya. Tanya, apa yang membuat hidup menjadi terasa lebih rumit berat? Jawab, main anjing-kucing dengan diri sendiri.

Tak ada yang lebih membuat frustrasi ketimbang mendapati diri sendiri menghalang-halangi usaha sendiri untuk menggapai makna, mencari pengertian, pembenaran, apa pun yang bukan simbol dan abstrak. Apa pun yang dapat dimengerti. Anything that makes sense. Anything that fits the missing piece of the puzzle, if there’s a puzzle at all. Anything that doesn’t fire off jumbled nonsensical mix of words all piled up on a paragraph that is not even a paragraph to begin with because it doesn’t make sense. Hanya ketika saya tidak berusaha untuk berusaha, segalanya menari-nari di depan saya. Berkelebatan dalam rentetan citra yang ditembakkan secara serentak, sulit diproses namun masih bisa diproses, sulit dipahami namun saya mengerti dalam sesaat. Sesaat. Kemudian buyar, berhamburan jadi keping-keping tak terjamah. Meluncur kabur sebelum sempat digenggam.

Saya mencoba memetakan diri sendiri.

Saya melindungi diri saya dari usaha saya untuk memetakan diri saya sendiri.

Tak ada lagi yang lebih membuat gila ketimbang menyadari segala kecam mental yang saya lakukan pada diri sendiri agar saya bungkam. Don’t exaggerate, you’re not the only one who’s struggling. Not that big of a deal. Stop making excuses. Don’t be so big-headed. Stop making excuses. Everyone is struggling. Stop making excuses. This too will pass, no need to drag anyone, no need to write it down anywhere. Stop making excuses. Can’t bear the anxiety of being vulnerable? Stop making excuses, the world doesn’t have place for the weak. 

You’re not the only one who’s struggling. Stop making excuses.

Yang membuatnya terasa getir adalah betapa segalanya membuat saya terus-terusan, tidak berhenti mendorong orang-orang keluar ketika saya sudah merasa amat kebas dengan benak sendiri. Memutus kontak ketika itu seharusnya hal yang paling menolong saya untuk tetap merasa waras. Sengaja memicu retak, sengaja menoreh luka, sengaja mengundang berang, sakit, dendam.

What makes it lethal is that I don’t even try to stop myself from doing it, I just stand there, watching myself deliberately doing harm.

I can’t make sense of myself. I can’t make sense of why I keep doing things, of why I stop myself from doing things.

Mana yang Musik, Mana yang Bukan

TL;DR: Emang masalah selera aja. #pft


Sejak melek K-Pop, saya jadi lebih in-tune sama perkembangan musik mainstream saat ini. K-Pop kan kiblatnya Western abis gitu. Dan karenanya, saya jadi semakin sadar betapa musik mainstream saat ini lebih sering bikin saya frustrasi ketimbang bikin saya obsesi.

Anggaplah saya ini purist. Musik beneran buat saya adalah yang pake instrumen beneran. Instrumen beneran buat saya adalah instrumen yang butuh skill manusia. Dan yang paling penting, musik beneran buat saya adalah musik yang mampu memancing emosi-emosi termentah manusia.

Sebagai purist, saya skeptis banget sama suara elektronik. Hit and miss banget buat saya, dan berdasarkan pengalaman saya lebih banyak miss-nya ketimbang hit-nya. Bahkan kalau mau blak-blakan dan sok dramatis, saya benci banget suara elektronik, saya benci musik hasil bikinan software doang. Dalam semangat sok dramatis yang konsisten, saya juga mau bilang saya benci suara instrumen-instrumen palsu, terutama synth brass. Gila benci banget saya dengernya.

Ya dramatisnya gitu sih. Tapi gapapa, sebagai orang dewasa berpendidikan, saya masih bisa kompromi kok sama suara-suara elektronik ini. Selama komposisi secara keseluruhannya masih terdengar kayak musik di telinga saya, saya oke aja dengerin berulang kali ampe bosen. It’d be stupid to dismiss it completely. Gila aja, bisa-bisa saya kehilangan musik asik kayak gini:

Kan sayang. Meski cukup langka, ada kok musik yang direksinya emang sengaja dibikin elektronik kayak gitu dan tetap terdengar oke di telinga saya.

Cuma ya itu. Ada, tapi cukup langka.

Sialnya, yang lebih sering ngetren dan ngehip abis di masyarakat adalah suara elektronik yang kayak gini:

Saya masukin lagu ini sebagai contoh bukannya saya mau bilang lagu ini populer, poin saya adalah lagu kayak gini yang populer. Dan ini udah dari tahun entah kapan ya, sejak saya masih kuliah pun, musik-musik yang intens bersirkulasi di masyarakat tuh selalu aja jenisnya yang kayak begini semua. Seenggaknya kalo saya ke tempat umum di mana kawula muda bergerombol, yang diputer di speaker selalu musik beginian.

Dan saya udah kadung muak banget ama musik beginian.

Pertama karena keelektronikannya, dan udah gitu suara elektroniknya bukan jenis yang bisa dengan mudah telinga saya terima. Tipe-tipe musik klub yang nyaris selalu HARUS didengarkan dalam volume maksimal. Biar apa? Ya biar kedengeran!!! There’s always that bass beat thing going on there right? And it almost always comes in the form of sound that you want to blast around your ear. Dan ini yang bikin saya keki banget, musik beginian nggak sehat dan nggak bakalan pernah sehat buat telinga saya. It’s somewhat inducing in the most negative way. Apa ya, musik-musik mabok.

(Ya emang musik-musik mabok sih)

Kedua, alih-alih unjuk melodi, highlight dari musik beginian nyaris selalu ada di “beat drop”. Bodo amat jadinya mau seklise apa pun, pokoknya mesti ada “beat drop”. Sekitar 1:26 kalo di video tadi. Dan ini yang bikin saya mau nangis, soalnya ya, “beat drop” ini, mau dikreasiin dalam berbagai cara pun, hasilnya bakalan tetap terdengar gitu-gitu aja.

Masih dalam topik yang sama, musik beginian nyaris selalu miskin melodi. Melodi aja miskin apalagi harmoni. Paling melodinya cuma ada di vokal doang, itu pun kalo ada. Sisanya berat di ritme/beat. Dan, duh, ayolah, ada berapa macam variasi ritme/beat sih di luar sana? Pembedanya paling di jenis “instrumen”, tapi polanya ya… bisa sevariatif apa sih? Ujung-ujungnya gitu lagi. Kayak, selalu ada entah apa itu yang kedengeran kayak snare berentet seperdelapan, trus seperenambelas bentar sebelum the goddamn beat drops. There’s almost always that particular sound. It’s just so blatantly uninspiring it drives me up the wall every time I hear it.

Biasanya saya nggak terlalu merhatiin detail ritmis begini. Saya biasanya merhatiin melodi aja, tapi karena di musik beginian nggak ada lagi melodi yang bisa dihayatin selain vokal, ya mau nggak mau kan secara tidak sadar saya perhatiin juga. Dan pas saya ngeh apa yang saya denger, pas saya ngeh apa yang bikin saya tau-tau kesel pas dengerin musik beginian, saya malah makin kesel sendiri. Belum lagi ngomongin gimana tiap dengerin musik beginian saya selalu berasa kayak ini yang bikin pada masukin apa aja sampel beat yang bisa dimasukin saking kering melodinya itu musik. It’s frigging all over the place. Argh aduh gila saya muak banget ampe mau nangis.

Ini bias pribadi, tapi buat saya melodi/harmoni itu udah kayak karakteristik mutlaknya musik. Kasarnya, bukan musik kalo nggak ada melodi. Saya nggak bisa tertarik kalo instrumennya nggak ada pitch. Makanya saya nggak suka suara perkusi kayak drum tapi oke aja sama marimba. Saya kalo dengerin lagu apa pun, selain dengerin vokalnya biasanya saya juga nyari part tertentu yang jalan sayup-sayup di belakang. Dari sini saya jadi ngeh-in banyak hal: Oh bass-nya kayak gini, kok asik; Eh ini suara apaan di belakang; Argh the chord!!!; Is this trumpet real? Oh it’s real trumpet! I’m glad it’s real, not synth. Penemuan-penemuan kecil kayak gitu yang bikin dengerin musik itu aktivitas yang saya muliakan banget.

Terus suara-suara elektronik yang dipake di musik beginian karena basisnya sample jadinya malah bikin musik beginian secara keseluruhan jadi terdengar dangkal. Haha, kedalaman macam apa sih yang bisa ditawarkan berbagai macam beat itu. Nggak banyak bisa dimain-mainin juga. Gini, kalo piano kan bisa diapa-apain, mau dibikin kedengeran surem, damai, atau euphoric bisa. Kemungkinannya banyak banget. Now try to take your beats and electronic noises and figure out the kind of sounds they can offer. Mau diapain dan digimanain pun, suara-suara elektronik ini gak bakal bisa seluwes dan sedalem itu sampai kapanpun. Kenapa ini penting?? Because I need my music to be able to elicit the rawest emotions!!! Dan emosi saya, kasarnya, nggak bisa dateng dari beat drop.

Jadi ngedengerin gimana komposisi musik beginian melucuti nyaris semua melodi dan cuma nyisain vokal, making it consists of almost only superficial beats and rhythms itu kayak, wah, oh my good gracious gods what the hell do you think you’re doing. Iya saya emang suka track-track minimal, tapi yang biasanya saya suka tetep yang masih berasa ada melodinya sayup-sayup jalan di belakang, bukan yang macam musik beginian.

Demi tuhan, meski sama-sama elektronik dan pada dasarnya saya ga suka suara elektronik, saya lebih rela kalau musik macam Hotline Bling yang ngetren. Se-nggak sregnya saya ama hip-hop dan rap, seenggaknya ini masih terdaftar sebagai musik di telinga saya.

But nooo, it doesn’t.

I keep hearing those generic garbage people call EDM that always have that beat drop part in, every damn time.

Book Murder: Let Go by Windhy Puspitadewi

Kadang saya nggak ngerti ama selera saya sendiri.

Antologi Rasa saya maki-maki, Our Story meski sebenernya mendekati lumayan masih aja tega saya selepet sana-sini, trus Refrain saya hina-hina dan Ai juga gak saya kasih ampun cuma karena saya tersinggung banget penulisnya nggak niat riset.

Pas baca Let Go saya mingkem kayak anak kecil disogok permen.

Saya serius. Percaya atau enggak, saya cukup menikmati membaca Let Go ini.

Cerita bego-begoan itu ada dua macam, satu bikin saya pengen jedukin kepala ke meja, satu lagi tipe bego yang malah bikin saya ketawa. Seabsurd apapun kedengarannya, buat saya Let Go ini ada di kategori kedua. Kalau saya tarik lebih jauh, ngebaca Let Go ini tuh kayak nonton drama produksi anak SD yang emang ditonton buat diketawain karena geli aja, bukan buat dikritik. Dan saya bisa terima-terima aja gitu.

Premisnya sebenernya terlalu familiar dan pasaran. Alkisah ada murid SMA berandal begajulan namanya Caraka… Ya. Dari satu kalimat ini aja saya yakin siapapun bisa nebak jalan cerita berikutnya. Yang tokoh utamanya berandal begitu mah ya paling ntar larinya gak jauh-jauh dari “bertemu dengan orang yang berbeda jauh darinya kemudian [conflict] kemudian [resolution] dan pada akhirnya [karakter terlahir kembali dengan sikap baru yang lebih dewasa]”. Di buku ini diterjemahkan menjadi, “Caraka, anak SMA yang terancam DO, terpaksa harus mengurus mading sekolah demi menyelamatkan statusnya sebagai pelajar. Dia harus bekerja sama dengan Nathan (super sinis), Nadya (perempuan tangguh), dan Sarah (benar-benar pemalu). Blablabla intrik blablabla.”

Alias tipikal plot coming of age.

Ga masalah buat saya, toh nothing new under the sun. Yang tricky kemudian adalah bagaimana cara mengemas cerita pasaran ini menjadi sesuatu yang masih bisa dinikmati. Let Go, dengan segala ketulusan hati saya, patut saya kasih anggukan, sambil nyengir ketawa.

Jadi si Caraka ini orangnya, sebagaimana karakter berandalan pada umumnya, meledak-ledak dan gampang kesulut emosi. Berantem mulu kerjaannya. Adegan pertama dibuka dengan Caraka lagi diceramahin wali kelasnya, yang tentu saja, sebagaimana karakter wali kelas pada umumnya, amat sabaran, pedulian, dan besar hati. Setelah adegan diceramahi guru, Caraka mergokin gerombolan berandalan lainnya lagi mojokin anak orang, yang dikasih nama Nathan ama penulisnya. Tentu sebagai tokoh utama laki-laki, Caraka harus menunjukkan sisi pahlawan pembela kebenarannya dengan menginterupsi gerombolan berandalan tadi dan kemudian, mungkin, dengan gagah ujug-ujug menumbangkan mereka semua.

Di sinilah saya mulai ngakak (terhibur). Bukan karena si Caraka, tapi lebih karena cara si penulis menuturkan adegan Caraka nginterupsi gerombolan itu. Kira-kira begini:

“Siapa kamu?!!” tanya mereka. “Jangan ikut campur!”

“Pengecut!” ejek Caraka kesal. “Atau, emang sudah budaya sekolah ini selalu main keroyokan?”

“SIALLL!!!!!” Salah satu gerombolan itu maju siap menerjang Caraka dan cowok ini pun sudah bersiap hendak menghadapinya.

“TUNGGU!!!” teriak salah seorang dari gerombolan itu.

“KENAPA?” tanya cowok yang akan menerjang Caraka itu dengan marah.

Beneran deh saya ngakak. Pertamanya saya merasa geli aja karena tanda serunya yang berlebihan, trus pake kapital juga. Tapi yang kemudian bikin saya meledak ngakak adalah pas bagian “TUNGGU!!!” “KENAPA?” itu. Di otak saya, adegan ini keputernya mulus banget ala-ala dorama live action yang aktingnya super awkward dan lebaynya ga ada rem. Coba, orang macam apa sih yang udah panas tinggal tonjok pas diteriakin “TUNGGU!!!” sempet-sempetnya ngebales “KENAPA?” selain karakter-karakter dorama live action? Karena saya udah punya skema dorama live action di kepala saya, alih-alih geuleuh, saya malah terhibur pas baca adegan ini (ini penting karena saya malah jadi lebih lunak pas lanjut ngebaca).

Dan si penulisnya sepanjang buku ini gaya berceritanya emang kayak gitu. Komik banget, dorama live action banget. Fast-paced penuh dialog dan ekspresif sekaligus. Sebagai generasi instan, saya kan suka banget dialog fast-paced. Cuma, yah. Nggak semulus itu, emang, malah saya bakal bilang ini dialognya sebenernya pada maksa bener dan terlalu terkesan dibuat-buat, ketara banget ‘fiktif’-nya. Rawan masuk kategori dialog yang akan bikin saya ketawa dan mencebik, “Nobody talk like that in real life.”

Terutama pas bagian Caraka ama Nadya berbalas kutipan film Casablanca, hadeh LOL WTF is this why am I still reading this banget. Atau pas bagian Caraka, sebagai bagian dari twist yang tidak benar-benar twisting, tiba-tiba merepet tentang sejarah anu pas mendadak ditanya guru di kelas sejarah dengan lancarnya (penulisnya lagi mau nonjolin sisi lain Caraka yang keliatannya berantem mulu). Ketika saya bilang merepet, maksud saya adalah berorasi dengan pilihan kata yang terlalu mengesankan dia lagi ngediktein buku teks alih-alih mengesankan dia lagi ngejawab pertanyaan guru dengan spontan. Atau kapan aja tiap Nathan ngomong deh, sinisnya ngegas mulu ga abis-abis.

My eyes rolled so hard I can even see through the back of my head.

Dan yang membuat semuanya menjadi borderline annoying, penulisnya ga bisa konsisten mau pake gaya bahasa apa. Kadang saya menangkap oh penulisnya make gaya bahasa gaul, tapi di dialog sana-sini malah berasa kayak setengah terjemahan hadehhh. Gini-gini amat si Windhy nulis novel. Kalo mau gaul ya gaul sekalian dong, kalo mau kaku tetap terikat tata bahasa ya kaku sekalian. Kalo setengah-setengah gini kan alur dialognya jadi gak alus dibacanya. Emangnya enak ngebaca dialog kayak gini:

Nadya: “Kamu mau lihat jawabanku? Aku udah hampir selesai.”

Caraka: “Makasih, tapi aku benci diremehkan. Aku mau kerjakan sendiri dulu.”

Can you feel that awkward, uncomfortable, big crack when the guy answered with wording like “benci diremehkan” and “kerjakan”, when the girl has been all casual before with the “udah hampir selesai”? Ga enak abis deh saya bacanya. Di kehidupan nyata, si cowok bakal menjawab kurang lebih gini: “Makasih, tapi aku nggak suka diremehin. Aku mau ngerjain sendiri dulu.”

Bukankah ini terdengar lebih believable dan tidak jomplang??? Ini bahkan mengesampingkan pertimbangan bahwa yang ngejawab itu Caraka, yang mana karakternya harusnya cukup kasual.

Gitulah kurangnya Let Go ini. Gaya nulis dialognya suka patah-patah macam lagi senam poco-poco. Jangankan gaya bahasa, penulisnya bahkan nggak bisa konsisten nentuin si wali kelas mau pake ‘aku’ atau ‘saya’ pas nasihatin Caraka.

Tapi, ya, tapi, saya ga paham kenapa, Windhy Puspitadewi aka si mbak penulis, secara misterius bisa mengeksekusi segala dialog yang sungguh tidak real dengan gaya bahasa senam poco-poconya itu sehingga saya yang baca malah jadi terhibur. Kayak, rutenya emang zigzag abis, lots of bump here and there, but it’s going somewhere and although I know exactly where I’m going and I kind of complain about the bumps all the time, in all honesty I’m actually enjoying the ride. That kind of feeling. Beneran lho ini saya serius nggak sinis sama sekali.

Plotnya juga sebenernya sama standarnya kayak hidup saya. Ya beda sih. Tapi saya biasa-biasa aja pas dibilang ternyata Nathan penyakitan sekarat udah mau mati. Endingnya begitu juga saya nggak kaget. Tapi dengan segala kestandaran itu, si Windhy ini somehow bisa bikin benang merah semuanya tuh keliatan. It ties up quite nicely around its title “Let Go”. Nggak fancy-fancy amat, tapi lumayan lah. Saya bahkan, di sisi lain, lebih kebeli ama dinamikanya Caraka, Nathan, Nadya, dan Sarah, dengan segala dialog-yang-tidak-real mereka, ketimbang dinamikanya Keara-Harris-Ruly-Denise (Antalogi Rasa) atau Nata-Niki-Anna (Refrain).

Yang membawa kita ke topik berikutnya: Karakter.

They’re not that mindblowing.

Si Windhy ini terlalu berusaha keras untuk membuat karakterisasinya Caraka cukup berlapis-lapis dengan ngebikin dia selain langganan berantem, ternyata punya interest serius terhadap film dan sejarah. Saya sulit banget kebeli ama trik beginian, jatohnya suka terlalu formulaic karena pada dangkal-dangkal gitu. Paham sih tujuannya apa, tapi karakterisasi toh nggak sebatas hobi doang, yegak.

Si Nathan juga. Nathan ini tipikal karakter aku-bersikap-dingin-karena-hidupku-sangat-menderita. Tipikal “memang sinis, tapi ada sebabnya kok” super basi. Udah gitu konsisten banget pula “sinis”-nya, nyaris persis kayak Nata di Refrain, yang mana bukan sesuatu yang saya harapkan. Yah, emang siapa sih yang selalu sinis 24/7 di kehidupan nyata ini? Emang siapa sih yang selalu berapi-api 24/7 di kehidupan nyata ini? Temen kalian yang sinis-sinis itu (kalo ada, bahkan) sebenernya kalo diliat frekuensinya cuman sekali-sekali aja sinisnya, nggak tiap kalimat yang keluar dari congornya itu sinis-sinis semua. Never mind that, can everyone just stop writing karakter sinis into their story instead?

Bagaimana dengan Nadya, si perempuan tangguh kita, dan Sarah, si cewek yang benar-benar pemalu itu?

LOL. Kalo mau jujur sih eksistensi mereka kayak angin lewat aja buat saya. Padahal mereka punya konflik masing-masing, lho, which is a good point. Nadya harus nerima kalau dia ga bisa juggling semua hal dalam satu waktu, Sarah mesti berani mengekspresikan diri. Cukup okelah, dan lumayan established juga, cuma yah hasilnya berasa “oh” aja gitu di saya. Sama nasibnya kayak karakter-karakter di Our Story-nya Orizuka. It’s okay, it’s potential, but it still doesn’t get to me, and I don’t think it ever will.

Tapi saya suka lho interaksinya Caraka dan Nathan. Dorama live-action abis emang, penuh dialog-yang-tidak-real banget emang, kadang suka bikin saya pengen memutar bola mata dengan sangat antusias emang, dan di kadang yang lain suka bikin saya meringis saking cringeynya emang; tapi saya cukup menikmati entah kenapa. Kayak, saya tau ini tuh hubungan mereka fiktif abisnya terlalu ketara banget, tapi somehow asik juga ya ngikutinnya lho gimana ya ini???

Ya. Beneran deh. Saya masih takjub saya bahkan ga bisa membawa diri saya untuk maki-maki seperti biasanya di book murder ini. Ampe mau saya kasih tiga bintang nih di Goodreads saking segitunya. Beneran lumayan asik dibaca dan saya beneran cuma bisa mingkem.

Tapi tenang saja, bagi kalian yang sumber penghiburannya di dunia yang nestapa ini adalah menyaksikan orang lain maki-maki dengan sepenuh hati, nantikan book murder saya berikutnya: Sunshine Becomes You by Ilana Tan.

Digging SHINee

Ini gara-gara (lagi-lagi) kakak saya.

Jadi suatu hari saya ikutan kakak saya ngepoin Weekly Idol-nya SHINee. Selama nonton acara variety itu, saya menemukan ternyata si Key, selain personanya yang upfront sassy komplit dengan resting bitch face, mukanya juga aesthetic banget tipe saya abis.

Tentu sebagai pompuan gersang saya senang dong ada tambahan buat katalog ikemen-with-strong-personality saya. Ya ujung-ujungnya saya berakhir nontonin comebacknya SHINee kemaren. Apes banget saya soalnya taun kemaren mereka comeback dengan tipe genre yang bisa telinga saya terima. Sebagai manusia yang mengaku objektif namun tidak pernah memberikan K-Pop kesempatan, terpaksa saya memberikan SHINee kesempatan dengan mendengarkan diskografi mereka secara utuh. Setelah mendengarkan diskografi mereka, saya malah semakin menjelma menjadi fans beneran. Surem.

Sekilas Perkenalan

tumblr_oez14y2f1l1tnw0p5o1_540

Dari kiri ke kanan: Onew, Taemin, Jonghyun, Minho, dan Key. Untung mereka quintet. Untung lagi karakteristik suaranya relatif mudah dikenali. Saya jadi cepet hapalnya.

Dari mereka berlima saya secara pribadi paling suka warna suaranya Key dan Onew, terutama Key kalo dia nyanyi di natural rangenya dia (yang sayangnya cukup jarang sebab lagu SHINee kebanyakan high-pitched). Mereka berdua ini yang timbrenya paling distinctive among the rest, gampang banget dibedain dan kebetulan distinctive-nya yang selera saya juga. Key lebih ke tipe suara strong dengan tone yang lebih rendah. Onew suaranya empuk-empuk kalem hangat gimana gitu, dan vocal projectionnya no joke abis, mic-nya meski suka yang paling jauh sendiri tapi suaranya tetep aja paling kedengeran di chorus.

Jonghyun, Taemin, dan Minho kalo didenger sekilas warna suaranya masih pada satu rumpun. Minho tone-nya lebih rendah sih dan terkesan lebih ngademin juga di antara mereka bertiga. Sementara Jonghyun ini suaranya selalu saya deskripsikan sebagai “berornamen”. Or polished. Whatever. Tipikal suara vokalis R&B gitu deh. Taemin suaranya semacam mini Jonghyun tapi kadang suka saya salah persepsikan sebagai breathy dan shaky. LOL bentar lagi aku pasti diserang fansnya.

Tapi yang paling penting: Suara mereka berlima kalo harmonisasi adalah alasan saya sudi buang-buang waktu dengerin diskografi mereka.

Jadi berikut adalah best pick saya, dibagi berdasarkan kategori yang saya bikin-bikin sendiri. Standarnya: minim rap lines yang annoying, repeat one-able, dan tentu saja harus sempat meninggalkan kesan mendalam. Fokus saya lebih ke lagunya sendiri omong-omong. Dan saya benar-benar berusaha lho untuk membuat list ini seringkas mungkin dengan mereferensi sesedikit lagu/video. Tapi kadang saya suka khilaf tidak bisa menahan diri. Mohon maaf ok.

Singles

Atau lagu-lagu yang kebagian dibikin MV. Terus terang, kalo ditunjukkin SHINee dari single mereka doang, saya ngga bakalan terlalu ngikutin kayak sekarang. Abisnya dari 16 single, cuma 5 yang saya suka.

  • 1 of 1 (2016)

AKA lagu yang membuat saya memperhatikan SHINee dengan serius. Kalau mereka nggak comeback dengan konsep retro 90-an ini, saya tetap akan buta SHINee selamanya deh. 1 of 1 ini adalah lagu yang sukses menabrak-nabrak skema lagu K-Pop tipikal (penuh dengan instrumentasi elektronik berisik dan rap yang out-of-nowhere.red) yang ada di kepala saya. Mungkin karena konsepnya retro sih ya makanya kedengeran lebih natural di telinga saya. Untuk orang yang ga terlalu suka lagu tipikal K-Pop, 1 of 1 can be a smooth entrance. Saya suka banget drum beat di intro, suka saya nyanyiin kalo tiba-tiba keinget. Dugudung dugudung dugudung dugudung~

  • Married to the Music (2015)

Single lain yang nggak terlalu K-Pop dan malah Michael Jackson-esque. Lama-lama saya mempertanyakan ini lagu K-Pop yang saya suka apakah lagu K-Pop atau cuma lagu pop Barat berbahasa Korea? Hm. Nonetheless, MTTM adalah tipikal lagu yang menangkap perhatian saya dari intronya dan bisa bikin saya langsung mikir, “Okay, I’m saving this one,” tanpa merasa perlu dengerin ampe abis. Bass di awal emang rada bikin inget Another One Bites the Dust, tapi jangan tertipu sebab lagunya sebenernya mah funky abis. Dan kalo dipikir-pikir it’s basically another 1 of 1. Tapi gapapa. Tetep kalau saya lagi shuffle playlist, saya nggak bakal skip. Kapan sih saya ngeskip lagu yang funky-funky gini.

  • View (2015)

Now this is K-Pop done right. Chorusnya adiktif dan gampang sebagaimana standar K-Pop seharusnya, but it still managed to sound minimal dengan lebih ngandelin vokal. Jadinya nggak berasa penuh atau begah-begah banget. Dan yang penting: nggak ada rap lines ngga perlu. View ini beneran lagu merakyat yang kayaknya siapapun yang dengerin bisa nikmatin. Kayaknya sih.

  • Sherlock (2012)

Ini mungkin salah satu lagu SHINee yang saya ga bakal bosen nontonin live stage-nya. Gatau kenapa Sherlock ini koreonya rada-rada enthralling gimana gitu. Kalau dengerin chorusnya trus jadi pengen ikut stomping-stomping sendiri kayaknya normal. Sebenernya Sherlock adalah salah satu lagu langka yang saya tertariknya justru karena koreonya.

Tapi musiknya asik kok. Seriously the beat really makes you want to stomp your feet in rhythm, udah gitu meski cukup banyak detail-detail di awal yang bisa diperhatiin, detailnya ga ngeganggu, narohnya pas. Kayak suara jendela pecah (? I’ll just assume so since the theme is detective) atau yang semacam suara peluit or even that thing yang saya ga tau itu namanya apa tapi sering nongol dan suka dibikin off beat pas verse awal. Bagian favorit saya (baik musik dan koreo) pas yang ada gerakan Key ngibas-ngibas tangan, persis kayak saya kalo keabisan tisu di toliet abis cuci tangan.

  • Love Like Oxygen (2008)

(Bias saya yang rambut pink di video ini #harustau)

(Sengaja embed video live stage karena suara mereka sudah berbeda dibanding dengan versi MV)

Another single with Michael Jackson reference. Yang bikin saya suka SHINee adalah they harmonise well, as demonstrated by this video. Kadang malah too well saya curiga ini mereka lipsync backtrack vocal aja apa gimana. Ini lagunya chill abis, dengan rap yang cukup well-behaved dan nggak annoying. And pay close attention to the “Yeah, yeah” in the background around 0:25. Saya kok demen ya detail-detail kecil kayak gini.

Udah itu aja single mereka yang saya suka. Banyak single ngehits mereka yang saya ga terlalu suka. Replay sebenernya oke, beneran oke sumpah, tapi tipikal lagu gampang yang saya bakalan cepet bosen. Hello juga sama. Ring Ding Dong terlalu overproduced buat saya. Iconic sih emang, tapi ga bakalan bisa saya repeat one. Lucifer… hadeh. Terlalu “dangkal”. Bikin lagu based on one note itu mungkin jenius, tapi… ya gitu… gampang diinget tapi gampang di-skip juga. LOL. Sementara Everybody adalah tipe lagu yang cuma asik kalo sambil ditonton koreonya. Dan yang saya suka dari Tell Me What To Do cuma bagian rap Key doang. Sisanya ya udah.

Slow Jam B-Sides

Alias zona nyamannya SHINee. Serius, SHINee paling nendang tiap nyanyiin lagu slow jams R&B. They’re in their elements the most when they do R&B. Lagu mereka yang paling sering jadi korban repeat one saya juga lagu-lagu slow jam b-sides mereka. Makanya saya suka jengkel tiap single mereka lagi-lagi shouty dance track lagi-lagi shouty dance track. Tsk. Kst.

  • Symptoms

Ini sih. Wah. Ini adalah lagu yang awalnya saya gak notice, tapi setelah didengerin bener-bener saya malah obsesi sendiri. It’s that good, people. Tipikal lagu dengan instrumentasi simpel ga neko-neko kesenangan saya. Dan ini ya, saya masih takjub gimana SM bisa tau buat milih member-member ini buat SHINee. Hoki banget soalnya Minho dengan tone suara baritonnya asli berguna banget buat nyeimbangin dan nopang yang lain. Demen banget saya pas Minho ngebacking Onew pas 0:25, trus yang bareng Key di 1:36. Haduh. Telingaku terberkahi.

AND THAT KEY CHANGE! That luscious key change towards the bridge at 2:32. No one can really ignore that. Beneran saya tewas trus idup lagi tiap denger bagian itu. Saya repeat one Symptoms alasannya cuma buat nungguin key change itu doang, beneran sampe segitunya saking demennya. Klimatiks abis soalnya saya suka.

  • Excuse Me Miss

Nah ini. Favorit saya banget track-track ngebeat minimal dengan hint-hint sensual kayak gini. Track-track kayak gini emang nasib ga bakalan pernah dijadiin single ya ama SHINee, padahal saya sukanya yang beginian. Hadehhh. Dan sampe sekarang saya masih nggak bisa mutusin itu yang backing vokal tiap verse suara backtrack doang atau dinyanyiin beneran. Tapi backtrack pun saya masih ga bisa nentuin suara siapa yang backing siapa. Alasan ultimate saya repeat one Excuse Me Miss adalah, tentu saja, rap-nya Key. Jarang-jarang Key ngerap pake lower register… I live for Key’s lower register, you know. #bliss #shameless

  • Odd Eye

Ini lagu ya… how should I describe it… Unique? Intriguing? Creepy? Bukan tipe lagu yang saya sekali denger trus langsung repeat karena suka, tapi lebih ke tipe yang saya repeat karena seaneh dan perlu penghayatan lebih itu (in a good way). Sebenernya kalo mau jujur pas pertama denger ini saya nggak terlalu antusias ama intro string-nya dan bagian ngomongnya… but then the falsetto howls come. Kalau saya ngerepeat Symptoms buat key changenya, saya ngerepeat Odd Eye buat bagian falsetto howls yang ganti-gantian antara Jonghyun, Taemin, dan Onew, especially bagian Onew yang di akhir, alus banget.

  • Don’t Stop

Saya selalu menganggap ini sekuelnya Odd Eye…cuma karena rap Key ada yang nge-refer ke Odd Eye. Padahal mah enggak kali. But yeay for another sensual and minimal slow jam track! Beneran synth ama beat doang kali ini isinya. Bagian favorit saya, lagi-lagi, rapnya Key. Iya, saya repeat one ini mainly emang demi rapnya Key (lagi). Tapi ini juga termasuk salah satu lagu langka di mana saya suka ama rapnya Minho, yang bagian pas yang nadanya naik dibikin kedengeran kayak suara drum beat.

  • Orgel

Ini juga track minimal yang quirky creepy spooky intriguing haunting. Saya suka banget aspek spookynya. Intronya aja udah spooky. Udah gitu nyanyinya sengaja pada meliuk-liuk gitu dengan chorus “bingeul-bingeul” yang setengah bisik-bisik. Dan yang paling bikin spooky itu pas bagian Onew yang mulai di 1:43. That long note is the divine embodiment of spookiness, really. That naik-turun-naik-satu-semitone long note. It’s because it’s so spooky I put it on repeat.

Ballad

Mungkin ini cuma saya, tapi balladnya SHINee suka hit or miss. Kadang suka ada yang oke, tapi terlalu “ballad” buat saya. Taulah, tipikal OST drama yang suka di-insert pas adegan melankolis. Saya mana pernah repeat one lagu begituan. Trus kadang pas saya udah bisa mengapresiasi, bagian rapnya meluluh-lantakkan impresi saya. 

c2nqpxrukaayg6r

  • Close The Door

Ini favorit saya, lho. String section di awal aja udah menangkap perhatian saya, padahal biasanya saya alergi ama string LOL. Trus pas vokalnya mulai, saya langsung pencet tombol repeat one. Melodinya itu lho, mungkin ini ya yang disebut sebagai ‘healing’ di Korea sana. Saya juga suka banget distribusi line mereka di lagu ini, kayak sahut-sahutan gitu enak banget didenger. Ya lagu lain juga suka gitu sih…tapi kalo buat ballad biasanya kan suka lebih kaku gitu distribusi linenya. Dan yang membuat segalanya lebih oke: rap Minho cukup masuk akal di sini.

  • Don’t Let Me Go

Ini juga. Sebenernya kalo dari segi historis–(((historis)))–ini kayaknya ballad SHINee yang pertama saya denger. Soalnya dulu saya pertama ngikutin pas 1 of 1 keluar dan saya lagi asyik berkelana live stage mereka pas era itu kan, trus ada lagu ini. Ballad ga sih ini? Anggap aja ballad deh… Pacingnya ga terlalu lambat, lebih keburu-buru. Ya cocok sih ama tema lagunya. Saya sempet bilang kan tadi kalau saya suka SHINee karena mereka harmonisasinya oke? Lagu ini salah satu contohnya. Pas bagian chorus hadeh melebur semua suara mereka puji tuhan. Trus meski ada rap, rapnya masuk. Malah highlight lagu ini menurut saya ada di rapnya Key. Kayak nyerocos ga karuan tapi justru itu yang bikin lagunya exciting.

  • Sleepless Night

Piano di intronya berhasil menarik perhatian saya. Ini tipikal lagu ballad dengan iringan mainly piano dan sedikit string section yang rawan jadi lahan vocal showoff. Dan emang ujung-ujungnya jadi lahan vocal showoff, pada belting out notes sana-sini. Bukannya saya komplain sih. Especially when the rap part is actually soothing.

LOL udah itu aja. Ada satu lagi sih yang almost make the cut: Wish Upon a Star. Almost.

Live Stage

Nah, bagian ini meliputi live stage SHINee yang lagunya ga eligible buat saya masukin ke kategori di atas tapi saya tetep pengen semua orang mempertimbangkan buat dengerin. Yeah… that’s basically the reason this category exist…

  • Like A Fire (SWC 3 in Seoul)

Iconic live stage sih ini. Kalo baru tau SHINee harus cepet-cepet dikasih liat live stage ini, kayak saya kemaren. Man, this live stage. It’s so ridiculous in many ways. Bahkan pas saya pertama liat saya pijit-pijit pelipis sendiri ini saya lagi nonton konser grup K-Pop apa variety show. Maksud saya, turun tangga yang ada di panggung dengan menggelinding itu buat apa sih… Tapi jangan terkecoh, saksikan saja bagaimana those silly acts ascends to amazing ad-libs at the end. Tungguin aja. Seriously, those adlibs at the end was so unexpected siapapun yang nonton ini biasanya bakal punya reaksi yang kurang lebih serupa: menganga.

  • Woof Woof

Ini saya suka banget!!! Beneran deh, pas pertama kali liat performance ini saya langsung kayak “oH MYY WAIT WHAT SONG IS THIS IN WHAT ALBUM HOW DID I MISS THIS” gitu. Kayak lagu musikal, with a hint of jazz here and there, makanya asik. Kalo Morning Musume punya Mr. Moonlight ~Ai no Big Band~, SHINee punya Woof Woof. Gak sama-sama amat emang, sayanya aja yang suka nyama-nyamain, soalnya nuance dan aftertaste-nya mirip buat saya. Ngedengerin keduanya bikin saya membatin, “I love this song it’s so fun I love they’re doing this song.”

Saya Pengen Masukin Lagu Ini Tapi Bingung Namain Kategorinya Apa

  • Alive

Hehehehehe.

Ini bukan tipe lagu saya biasanya as it drips with hip hop feels, tapi saya suka beatnya. It sounds heavy and awesome but also proper at the same time, nggak terlalu banyak embellishment. Part favorit saya di lagu ini justru di bagian rapnya. I think most people would agree that the rap part is the highlight of this song. Key and Minho did so well in this song, it’s one of their finest (rap) works. So fine that even I, as someone who doesn’t really fancy rap, love it.

Japanese Release

Ada perbedaan mencolok dari diskografi Korea dan Jepangnya SHINee. Yang Jepang biasanya lebih mild, lebih “ramah” di telinga saya. Ya disesuaikan dengan pasar masing-masing sih emang. Pas awal-awal SHINee rilis di Jepang emang cuma remake single-single produksi Korea doang, tapi makin ke sini mereka bikin promosi terpisah sendiri, which is nice. Kan nggak seru kalo rilisan Jepang cuma lagu produksi Korea tapi ditranslate aja liriknya. Karakteristik J-Pop!SHINee lainnya: 1) lagunya juga biasanya lebih lincah, dan 2) lebih minim rap annoying HEHEHEHE. Ya seenggaknya sejauh yang saya dengar.

Lebih susah milih-milih best pick dari diskografi Jepang mereka buat saya. Sampe sekarang saya masih lebih sering dengerin rilisan Korea aja soalnya. Jadi pasti ada hidden gems yang belum terdeteksi LOL. Ga adil emang. Bodo amat.

  • Moon River Waltz

Ini salah satu hidden gem yang saya temukan dari nonton semacam video kompilasi singkat. Jadi cuma denger sepotong line Key di awal aja. Trus saya kaget sendiri, ini lagu mana??? Kok saya ga pernah denger? Perasaan semua album Jepang udah discreening???  Baru deh abis saya dengerin bener-bener. Emang dengerin diskografi suatu artis nggak bisa back to back ya… Pasti bakal banyak yang ke-skip karena udah begah dan capek sendiri.

Anyhows, ini ballad yang cukup underrated kayaknya, nggak banyak yang ngocehin. Padahal saya suka, lho. Lambat dan relaxing. Trus semuanya nyanyi di sini, jadi ngga ada rap ^^ #antiraprapclub. Poin penting lainnya: Key’s low notes on the first verse.

  • Good Good Feeling

Ini nih lagu J-Pop. Asli ini lagu J-Pop yang membumi abis. Saya bisa tau soalnya saya cukup mengamati J-Pop (Syadzwina mulai terdengar sok). Good Good Feeling adalah lagu upbeat yang bisa bikin pendengarnya merasa happy dengan cukup sekali denger chorusnya aja. Lirik di awal sebenernya bikin saya ngakak, naonlah “moshi-moshi boku desu I want to call”. Tipikal nonsensical J-Pop lyrics amat. Tapi gapapa, dimaafkan. Chorusnya asik dan cocok didengerin pas commuting. Good good feeling, kanateru feeling~

Lagu alternatif dengan nuance serupa: Sing Your Song

  • 1000nen, Zutto Soba ni Ite blabla

Ini lagu yang saya harus bertahan bersabar dalam melewati intronya yang sangat uninspiring. Cliche at its best, geuleuh sendiri jadinya. Kalau saya gak mengingatkan diri sendiri, saya udah pasti bakal refleks mencet tombol skip. Tapi saya rela berkorban demi dengerin chorusnya yang inspiring, those high notes are just delicious. Terutama pas bagian Onew. Duh ya, di antara SHINee, saya paling suka nada tingginya Onew, warna suaranya ngasih nuance yang beda trus alus banget gitu.

  • Sweet Surprise

Ini adalah salah satu lagu yang karakter suara SHINee-nya cukup menguar-nguar di saya. Ga paham juga saya dapet kesan begini dari mana, secara saya kan baru ngikutan sebulan-dua bulan ke belakang. Almost nothing going on in this song, I have to admit. Nggak terlalu ada bagian yang bikin “wah” banget, it’s that kind of safe track. Tapi saya justru suka LOL. Adem sih. Adem banget.

  • Your Number

Sebenernya kalo mau mancing saya dengerin lagu tertentu mah gampang. Kasih aja intro isinya brass, pasti saya dengerin ampe abis LOL. Kayak Your Number ini. Sekilas emang kedengeran kayak lagu yang bakal bikin cepet bosen sih. Dan emang bikin cepet bosen =)) Udah gitu, meski saya sampe detik ini saya ga terlalu ngerti liriknya secara keseluruhan, intuisi saya bilang kalo lagu ini liriknya cringy abis, sebuah dugaan yang diperkokoh oleh ad-lib Onew di akhir lagu (hint: DAMN CRINGY). Then why the hell do I include this song, then? Dunno. No idea. I just kinda like it.

Honorable Mentions: Perfect 10

Perfect 10 ini lagunya aneh. Saya nggak bisa konek pas dengerin awalnya, beneran berasa detached banget. Dan ini cuma saya aja apa lirik lagu Jepangnya SHINee kenapa gini-gini amat sih bikin geuleuhnya? Kalo di Good Good Feeling dibuka ama “moshi-moshi”, Perfect 10 dibuka ama “hajimemashite”. Hadehhhhh tepok jidat. Baru pas masuk chorusnya langsung berasa ‘Klik!’. Bagian “mitsuketa”-nya itu loh. Mecha memorable. Kalau ga ada si “mitsuketa” ini, udah saya masukin keranjang “Skip” kali lagu ini.

And that’s about it. Sebenernya saya merasa perlu milih lebih banyak buat Japanese release mereka, namun saya harus menahan diri. Jadi ya gapapalah. Toh lagu Jepang mereka biasanya suka mirip-mirip warnanya (…)

Pro-tip: Kalau ada yang mau menggali SHINee juga, meski saya ragu ada orang yang se-kurang-kerjaan itu, dengarkanlah berurutan mulai dari album pertama ampe terakhir, trus abis itu balik dengerin album pertama sekali lagi. Saya baru bisa ngapresiasi pas digituin.

You Think You’re So Open-minded

I’m nowhere near being open-minded.

If anything, I’m fairly close-minded most of the time. I read things about topics I’m only interested in, I only listen to the music that’s been on my library for years, and I only watch films and series which premises seem like to support my pre-existing ideas. I do challenge myself from time to time, like trying to keep up with world politics from various sources, or listening to some pop albums on its entirety without skipping a single track, or even finishing a 40-episodes-long Taiwanese drama although it sucks and I hate how annoying Mandarin sounds (I really did, once). But not on daily basis. I’m not even sure if it’s weekly. A few times every month, probably. Roughly once or twice a month on average.

To complete all that, I mainly surround myself with people who, more or less, are on the same wavelength as me.

But I’m very self-aware. I’m aware of all that, I even openly embrace that part of me. Granted, it doesn’t eliminate my close-mindedness right away but, ah, it does prevent me from making an occasional dangerous slip to the Bigot Valley.

And by the way, realistically speaking, there’s just no way you can truly be an “open-minded” person. Your brain just naturally isn’t cut out for it. I know because I didn’t waste my four years studying human’s mind and behaviour for nothing, you see.

We all favour comfort above all, and there’s no comfort in it when we’re faced with something that contradicts or different from our preconceived notions. There’s this uneasy feeling we get instead, so uneasy we’d much rather avoid it if we can. You probably wouldn’t want to sit yourself through a 90-minutes symphony if you’re only into current popular music. You probably would’ve dismissed the idea of reading articles that doesn’t hold your interest. And I know you wouldn’t want to sit through some Korean dramas for hours if you’re usually into dark, intelligent, mind-boggling Western series. Oh, I know for sure.

It’s just how your brain works. Why suffer through unfamiliar settings every single time when you can take the easy way out? Yes. Your brain actually is just as lazy as you are.

So I couldn’t help but scoff every time I spot those people on the internet who proudly describe themselves as being open-minded.

This would be the same people who refuse to watch any Asian dramas because they think Asian dramas are all sappy, stupid, and unintelligent. This would also be the same people who refuse to read any shoujo mangas, or any young adult novels, for the exact same reason. This would be the classical music snobs (or any specific-unpopular-genre snobs) who refuse to even listen to any current pop music because they think pop music are absolute garbage.

This would be the same people who act as if racism, sexism, and social justice are the only thing matters today, and that it should be. The kind of people who think that those problems are universal on all levels, that it should be everyone’s primary concern, no matter who they are or where they come from or what kind of life they’ve been living. The kind of people who accuse everyone who voted for Trump as deplorable and unfriend them on Facebook right away. The kind of people who hold a black-and-white way of thinking, like thinking that an indifference to racism is still racism.

This would be the same people who, apparently, wouldn’t get that there are some other people who are just too desperate to feed themselves or have a place to live in, to be able to pay attention to those things.

This would be the same people who surround themselves only with like-minded folks, listening to opinions that are no different from their own. This would be the same people who’ve been living their lives in an echo chamber.

This would be you.

So, open-minded?

Get off your high horse. You know damn well that you’re not.