Mana yang Musik, Mana yang Bukan

TL;DR: Emang masalah selera aja. #pft


Sejak melek K-Pop, saya jadi lebih in-tune sama perkembangan musik mainstream saat ini. K-Pop kan kiblatnya Western abis gitu. Dan karenanya, saya jadi semakin sadar betapa musik mainstream saat ini lebih sering bikin saya frustrasi ketimbang bikin saya obsesi.

Anggaplah saya ini purist. Musik beneran buat saya adalah yang pake instrumen beneran. Instrumen beneran buat saya adalah instrumen yang butuh skill manusia. Dan yang paling penting, musik beneran buat saya adalah musik yang mampu memancing emosi-emosi termentah manusia.

Sebagai purist, saya skeptis banget sama suara elektronik. Hit and miss banget buat saya, dan berdasarkan pengalaman saya lebih banyak miss-nya ketimbang hit-nya. Bahkan kalau mau blak-blakan dan sok dramatis, saya benci banget suara elektronik, saya benci musik hasil bikinan software doang. Dalam semangat sok dramatis yang konsisten, saya juga mau bilang saya benci suara instrumen-instrumen palsu, terutama synth brass. Gila benci banget saya dengernya.

Ya dramatisnya gitu sih. Tapi gapapa, sebagai orang dewasa berpendidikan, saya masih bisa kompromi kok sama suara-suara elektronik ini. Selama komposisi secara keseluruhannya masih terdengar kayak musik di telinga saya, saya oke aja dengerin berulang kali ampe bosen. It’d be stupid to dismiss it completely. Gila aja, bisa-bisa saya kehilangan musik asik kayak gini:

Kan sayang. Meski cukup langka, ada kok musik yang direksinya emang sengaja dibikin elektronik kayak gitu dan tetap terdengar oke di telinga saya.

Cuma ya itu. Ada, tapi cukup langka.

Sialnya, yang lebih sering ngetren dan ngehip abis di masyarakat adalah suara elektronik yang kayak gini:

Saya masukin lagu ini sebagai contoh bukannya saya mau bilang lagu ini populer, poin saya adalah lagu kayak gini yang populer. Dan ini udah dari tahun entah kapan ya, sejak saya masih kuliah pun, musik-musik yang intens bersirkulasi di masyarakat tuh selalu aja jenisnya yang kayak begini semua. Seenggaknya kalo saya ke tempat umum di mana kawula muda bergerombol, yang diputer di speaker selalu musik beginian.

Dan saya udah kadung muak banget ama musik beginian.

Pertama karena keelektronikannya, dan udah gitu suara elektroniknya bukan jenis yang bisa dengan mudah telinga saya terima. Tipe-tipe musik klub yang nyaris selalu HARUS didengarkan dalam volume maksimal. Biar apa? Ya biar kedengeran!!! There’s always that bass beat thing going on there right? And it almost always comes in the form of sound that you want to blast around your ear. Dan ini yang bikin saya keki banget, musik beginian nggak sehat dan nggak bakalan pernah sehat buat telinga saya. It’s somewhat inducing in the most negative way. Apa ya, musik-musik mabok.

(Ya emang musik-musik mabok sih)

Kedua, alih-alih unjuk melodi, highlight dari musik beginian nyaris selalu ada di “beat drop”. Bodo amat jadinya mau seklise apa pun, pokoknya mesti ada “beat drop”. Sekitar 1:26 kalo di video tadi. Dan ini yang bikin saya mau nangis, soalnya ya, “beat drop” ini, mau dikreasiin dalam berbagai cara pun, hasilnya bakalan tetap terdengar gitu-gitu aja.

Masih dalam topik yang sama, musik beginian nyaris selalu miskin melodi. Melodi aja miskin apalagi harmoni. Paling melodinya cuma ada di vokal doang, itu pun kalo ada. Sisanya berat di ritme/beat. Dan, duh, ayolah, ada berapa macam variasi ritme/beat sih di luar sana? Pembedanya paling di jenis “instrumen”, tapi polanya ya… bisa sevariatif apa sih? Ujung-ujungnya gitu lagi. Kayak, selalu ada entah apa itu yang kedengeran kayak snare berentet seperdelapan, trus seperenambelas bentar sebelum the goddamn beat drops. There’s almost always that particular sound. It’s just so blatantly uninspiring it drives me up the wall every time I hear it.

Biasanya saya nggak terlalu merhatiin detail ritmis begini. Saya biasanya merhatiin melodi aja, tapi karena di musik beginian nggak ada lagi melodi yang bisa dihayatin selain vokal, ya mau nggak mau kan secara tidak sadar saya perhatiin juga. Dan pas saya ngeh apa yang saya denger, pas saya ngeh apa yang bikin saya tau-tau kesel pas dengerin musik beginian, saya malah makin kesel sendiri. Belum lagi ngomongin gimana tiap dengerin musik beginian saya selalu berasa kayak ini yang bikin pada masukin apa aja sampel beat yang bisa dimasukin saking kering melodinya itu musik. It’s frigging all over the place. Argh aduh gila saya muak banget ampe mau nangis.

Ini bias pribadi, tapi buat saya melodi/harmoni itu udah kayak karakteristik mutlaknya musik. Kasarnya, bukan musik kalo nggak ada melodi. Saya nggak bisa tertarik kalo instrumennya nggak ada pitch. Makanya saya nggak suka suara perkusi kayak drum tapi oke aja sama marimba. Saya kalo dengerin lagu apa pun, selain dengerin vokalnya biasanya saya juga nyari part tertentu yang jalan sayup-sayup di belakang. Dari sini saya jadi ngeh-in banyak hal: Oh bass-nya kayak gini, kok asik; Eh ini suara apaan di belakang; Argh the chord!!!; Is this trumpet real? Oh it’s real trumpet! I’m glad it’s real, not synth. Penemuan-penemuan kecil kayak gitu yang bikin dengerin musik itu aktivitas yang saya muliakan banget.

Terus suara-suara elektronik yang dipake di musik beginian karena basisnya sample jadinya malah bikin musik beginian secara keseluruhan jadi terdengar dangkal. Haha, kedalaman macam apa sih yang bisa ditawarkan berbagai macam beat itu. Nggak banyak bisa dimain-mainin juga. Gini, kalo piano kan bisa diapa-apain, mau dibikin kedengeran surem, damai, atau euphoric bisa. Kemungkinannya banyak banget. Now try to take your beats and electronic noises and figure out the kind of sounds they can offer. Mau diapain dan digimanain pun, suara-suara elektronik ini gak bakal bisa seluwes dan sedalem itu sampai kapanpun. Kenapa ini penting?? Because I need my music to be able to elicit the rawest emotions!!! Dan emosi saya, kasarnya, nggak bisa dateng dari beat drop.

Jadi ngedengerin gimana komposisi musik beginian melucuti nyaris semua melodi dan cuma nyisain vokal, making it consists of almost only superficial beats and rhythms itu kayak, wah, oh my good gracious gods what the hell do you think you’re doing. Iya saya emang suka track-track minimal, tapi yang biasanya saya suka tetep yang masih berasa ada melodinya sayup-sayup jalan di belakang, bukan yang macam musik beginian.

Demi tuhan, meski sama-sama elektronik dan pada dasarnya saya ga suka suara elektronik, saya lebih rela kalau musik macam Hotline Bling yang ngetren. Se-nggak sregnya saya ama hip-hop dan rap, seenggaknya ini masih terdaftar sebagai musik di telinga saya.

But nooo, it doesn’t.

I keep hearing those generic garbage people call EDM that always have that beat drop part in, every damn time.

Book Murder: Let Go by Windhy Puspitadewi

Kadang saya nggak ngerti ama selera saya sendiri.

Antologi Rasa saya maki-maki, Our Story meski sebenernya mendekati lumayan masih aja tega saya selepet sana-sini, trus Refrain saya hina-hina dan Ai juga gak saya kasih ampun cuma karena saya tersinggung banget penulisnya nggak niat riset.

Pas baca Let Go saya mingkem kayak anak kecil disogok permen.

Saya serius. Percaya atau enggak, saya cukup menikmati membaca Let Go ini.

Cerita bego-begoan itu ada dua macam, satu bikin saya pengen jedukin kepala ke meja, satu lagi tipe bego yang malah bikin saya ketawa. Seabsurd apapun kedengarannya, buat saya Let Go ini ada di kategori kedua. Kalau saya tarik lebih jauh, ngebaca Let Go ini tuh kayak nonton drama produksi anak SD yang emang ditonton buat diketawain karena geli aja, bukan buat dikritik. Dan saya bisa terima-terima aja gitu.

Premisnya sebenernya terlalu familiar dan pasaran. Alkisah ada murid SMA berandal begajulan namanya Caraka… Ya. Dari satu kalimat ini aja saya yakin siapapun bisa nebak jalan cerita berikutnya. Yang tokoh utamanya berandal begitu mah ya paling ntar larinya gak jauh-jauh dari “bertemu dengan orang yang berbeda jauh darinya kemudian [conflict] kemudian [resolution] dan pada akhirnya [karakter terlahir kembali dengan sikap baru yang lebih dewasa]”. Di buku ini diterjemahkan menjadi, “Caraka, anak SMA yang terancam DO, terpaksa harus mengurus mading sekolah demi menyelamatkan statusnya sebagai pelajar. Dia harus bekerja sama dengan Nathan (super sinis), Nadya (perempuan tangguh), dan Sarah (benar-benar pemalu). Blablabla intrik blablabla.”

Alias tipikal plot coming of age.

Ga masalah buat saya, toh nothing new under the sun. Yang tricky kemudian adalah bagaimana cara mengemas cerita pasaran ini menjadi sesuatu yang masih bisa dinikmati. Let Go, dengan segala ketulusan hati saya, patut saya kasih anggukan, sambil nyengir ketawa.

Jadi si Caraka ini orangnya, sebagaimana karakter berandalan pada umumnya, meledak-ledak dan gampang kesulut emosi. Berantem mulu kerjaannya. Adegan pertama dibuka dengan Caraka lagi diceramahin wali kelasnya, yang tentu saja, sebagaimana karakter wali kelas pada umumnya, amat sabaran, pedulian, dan besar hati. Setelah adegan diceramahi guru, Caraka mergokin gerombolan berandalan lainnya lagi mojokin anak orang, yang dikasih nama Nathan ama penulisnya. Tentu sebagai tokoh utama laki-laki, Caraka harus menunjukkan sisi pahlawan pembela kebenarannya dengan menginterupsi gerombolan berandalan tadi dan kemudian, mungkin, dengan gagah ujug-ujug menumbangkan mereka semua.

Di sinilah saya mulai ngakak (terhibur). Bukan karena si Caraka, tapi lebih karena cara si penulis menuturkan adegan Caraka nginterupsi gerombolan itu. Kira-kira begini:

“Siapa kamu?!!” tanya mereka. “Jangan ikut campur!”

“Pengecut!” ejek Caraka kesal. “Atau, emang sudah budaya sekolah ini selalu main keroyokan?”

“SIALLL!!!!!” Salah satu gerombolan itu maju siap menerjang Caraka dan cowok ini pun sudah bersiap hendak menghadapinya.

“TUNGGU!!!” teriak salah seorang dari gerombolan itu.

“KENAPA?” tanya cowok yang akan menerjang Caraka itu dengan marah.

Beneran deh saya ngakak. Pertamanya saya merasa geli aja karena tanda serunya yang berlebihan, trus pake kapital juga. Tapi yang kemudian bikin saya meledak ngakak adalah pas bagian “TUNGGU!!!” “KENAPA?” itu. Di otak saya, adegan ini keputernya mulus banget ala-ala dorama live action yang aktingnya super awkward dan lebaynya ga ada rem. Coba, orang macam apa sih yang udah panas tinggal tonjok pas diteriakin “TUNGGU!!!” sempet-sempetnya ngebales “KENAPA?” selain karakter-karakter dorama live action? Karena saya udah punya skema dorama live action di kepala saya, alih-alih geuleuh, saya malah terhibur pas baca adegan ini (ini penting karena saya malah jadi lebih lunak pas lanjut ngebaca).

Dan si penulisnya sepanjang buku ini gaya berceritanya emang kayak gitu. Komik banget, dorama live action banget. Fast-paced penuh dialog dan ekspresif sekaligus. Sebagai generasi instan, saya kan suka banget dialog fast-paced. Cuma, yah. Nggak semulus itu, emang, malah saya bakal bilang ini dialognya sebenernya pada maksa bener dan terlalu terkesan dibuat-buat, ketara banget ‘fiktif’-nya. Rawan masuk kategori dialog yang akan bikin saya ketawa dan mencebik, “Nobody talk like that in real life.”

Terutama pas bagian Caraka ama Nadya berbalas kutipan film Casablanca, hadeh LOL WTF is this why am I still reading this banget. Atau pas bagian Caraka, sebagai bagian dari twist yang tidak benar-benar twisting, tiba-tiba merepet tentang sejarah anu pas mendadak ditanya guru di kelas sejarah dengan lancarnya (penulisnya lagi mau nonjolin sisi lain Caraka yang keliatannya berantem mulu). Ketika saya bilang merepet, maksud saya adalah berorasi dengan pilihan kata yang terlalu mengesankan dia lagi ngediktein buku teks alih-alih mengesankan dia lagi ngejawab pertanyaan guru dengan spontan. Atau kapan aja tiap Nathan ngomong deh, sinisnya ngegas mulu ga abis-abis.

My eyes rolled so hard I can even see through the back of my head.

Dan yang membuat semuanya menjadi borderline annoying, penulisnya ga bisa konsisten mau pake gaya bahasa apa. Kadang saya menangkap oh penulisnya make gaya bahasa gaul, tapi di dialog sana-sini malah berasa kayak setengah terjemahan hadehhh. Gini-gini amat si Windhy nulis novel. Kalo mau gaul ya gaul sekalian dong, kalo mau kaku tetap terikat tata bahasa ya kaku sekalian. Kalo setengah-setengah gini kan alur dialognya jadi gak alus dibacanya. Emangnya enak ngebaca dialog kayak gini:

Nadya: “Kamu mau lihat jawabanku? Aku udah hampir selesai.”

Caraka: “Makasih, tapi aku benci diremehkan. Aku mau kerjakan sendiri dulu.”

Can you feel that awkward, uncomfortable, big crack when the guy answered with wording like “benci diremehkan” and “kerjakan”, when the girl has been all casual before with the “udah hampir selesai”? Ga enak abis deh saya bacanya. Di kehidupan nyata, si cowok bakal menjawab kurang lebih gini: “Makasih, tapi aku nggak suka diremehin. Aku mau ngerjain sendiri dulu.”

Bukankah ini terdengar lebih believable dan tidak jomplang??? Ini bahkan mengesampingkan pertimbangan bahwa yang ngejawab itu Caraka, yang mana karakternya harusnya cukup kasual.

Gitulah kurangnya Let Go ini. Gaya nulis dialognya suka patah-patah macam lagi senam poco-poco. Jangankan gaya bahasa, penulisnya bahkan nggak bisa konsisten nentuin si wali kelas mau pake ‘aku’ atau ‘saya’ pas nasihatin Caraka.

Tapi, ya, tapi, saya ga paham kenapa, Windhy Puspitadewi aka si mbak penulis, secara misterius bisa mengeksekusi segala dialog yang sungguh tidak real dengan gaya bahasa senam poco-poconya itu sehingga saya yang baca malah jadi terhibur. Kayak, rutenya emang zigzag abis, lots of bump here and there, but it’s going somewhere and although I know exactly where I’m going and I kind of complain about the bumps all the time, in all honesty I’m actually enjoying the ride. That kind of feeling. Beneran lho ini saya serius nggak sinis sama sekali.

Plotnya juga sebenernya sama standarnya kayak hidup saya. Ya beda sih. Tapi saya biasa-biasa aja pas dibilang ternyata Nathan penyakitan sekarat udah mau mati. Endingnya begitu juga saya nggak kaget. Tapi dengan segala kestandaran itu, si Windhy ini somehow bisa bikin benang merah semuanya tuh keliatan. It ties up quite nicely around its title “Let Go”. Nggak fancy-fancy amat, tapi lumayan lah. Saya bahkan, di sisi lain, lebih kebeli ama dinamikanya Caraka, Nathan, Nadya, dan Sarah, dengan segala dialog-yang-tidak-real mereka, ketimbang dinamikanya Keara-Harris-Ruly-Denise (Antalogi Rasa) atau Nata-Niki-Anna (Refrain).

Yang membawa kita ke topik berikutnya: Karakter.

They’re not that mindblowing.

Si Windhy ini terlalu berusaha keras untuk membuat karakterisasinya Caraka cukup berlapis-lapis dengan ngebikin dia selain langganan berantem, ternyata punya interest serius terhadap film dan sejarah. Saya sulit banget kebeli ama trik beginian, jatohnya suka terlalu formulaic karena pada dangkal-dangkal gitu. Paham sih tujuannya apa, tapi karakterisasi toh nggak sebatas hobi doang, yegak.

Si Nathan juga. Nathan ini tipikal karakter aku-bersikap-dingin-karena-hidupku-sangat-menderita. Tipikal “memang sinis, tapi ada sebabnya kok” super basi. Udah gitu konsisten banget pula “sinis”-nya, nyaris persis kayak Nata di Refrain, yang mana bukan sesuatu yang saya harapkan. Yah, emang siapa sih yang selalu sinis 24/7 di kehidupan nyata ini? Emang siapa sih yang selalu berapi-api 24/7 di kehidupan nyata ini? Temen kalian yang sinis-sinis itu (kalo ada, bahkan) sebenernya kalo diliat frekuensinya cuman sekali-sekali aja sinisnya, nggak tiap kalimat yang keluar dari congornya itu sinis-sinis semua. Never mind that, can everyone just stop writing karakter sinis into their story instead?

Bagaimana dengan Nadya, si perempuan tangguh kita, dan Sarah, si cewek yang benar-benar pemalu itu?

LOL. Kalo mau jujur sih eksistensi mereka kayak angin lewat aja buat saya. Padahal mereka punya konflik masing-masing, lho, which is a good point. Nadya harus nerima kalau dia ga bisa juggling semua hal dalam satu waktu, Sarah mesti berani mengekspresikan diri. Cukup okelah, dan lumayan established juga, cuma yah hasilnya berasa “oh” aja gitu di saya. Sama nasibnya kayak karakter-karakter di Our Story-nya Orizuka. It’s okay, it’s potential, but it still doesn’t get to me, and I don’t think it ever will.

Tapi saya suka lho interaksinya Caraka dan Nathan. Dorama live-action abis emang, penuh dialog-yang-tidak-real banget emang, kadang suka bikin saya pengen memutar bola mata dengan sangat antusias emang, dan di kadang yang lain suka bikin saya meringis saking cringeynya emang; tapi saya cukup menikmati entah kenapa. Kayak, saya tau ini tuh hubungan mereka fiktif abisnya terlalu ketara banget, tapi somehow asik juga ya ngikutinnya lho gimana ya ini???

Ya. Beneran deh. Saya masih takjub saya bahkan ga bisa membawa diri saya untuk maki-maki seperti biasanya di book murder ini. Ampe mau saya kasih tiga bintang nih di Goodreads saking segitunya. Beneran lumayan asik dibaca dan saya beneran cuma bisa mingkem.

Tapi tenang saja, bagi kalian yang sumber penghiburannya di dunia yang nestapa ini adalah menyaksikan orang lain maki-maki dengan sepenuh hati, nantikan book murder saya berikutnya: Sunshine Becomes You by Ilana Tan.

Digging SHINee

Ini gara-gara (lagi-lagi) kakak saya.

Jadi suatu hari saya ikutan kakak saya ngepoin Weekly Idol-nya SHINee. Selama nonton acara variety itu, saya menemukan ternyata si Key, selain personanya yang upfront sassy komplit dengan resting bitch face, mukanya juga aesthetic banget tipe saya abis.

Tentu sebagai pompuan gersang saya senang dong ada tambahan buat katalog ikemen-with-strong-personality saya. Ya ujung-ujungnya saya berakhir nontonin comebacknya SHINee kemaren. Apes banget saya soalnya taun kemaren mereka comeback dengan tipe genre yang bisa telinga saya terima. Sebagai manusia yang mengaku objektif namun tidak pernah memberikan K-Pop kesempatan, terpaksa saya memberikan SHINee kesempatan dengan mendengarkan diskografi mereka secara utuh. Setelah mendengarkan diskografi mereka, saya malah semakin menjelma menjadi fans beneran. Surem.

Sekilas Perkenalan

tumblr_oez14y2f1l1tnw0p5o1_540

Dari kiri ke kanan: Onew, Taemin, Jonghyun, Minho, dan Key. Untung mereka quintet. Untung lagi karakteristik suaranya relatif mudah dikenali. Saya jadi cepet hapalnya.

Dari mereka berlima saya secara pribadi paling suka warna suaranya Key dan Onew, terutama Key kalo dia nyanyi di natural rangenya dia (yang sayangnya cukup jarang sebab lagu SHINee kebanyakan high-pitched). Mereka berdua ini yang timbrenya paling distinctive among the rest, gampang banget dibedain dan kebetulan distinctive-nya yang selera saya juga. Key lebih ke tipe suara strong dengan tone yang lebih rendah. Onew suaranya empuk-empuk kalem hangat gimana gitu, dan vocal projectionnya no joke abis, mic-nya meski suka yang paling jauh sendiri tapi suaranya tetep aja paling kedengeran di chorus.

Jonghyun, Taemin, dan Minho kalo didenger sekilas warna suaranya masih pada satu rumpun. Minho tone-nya lebih rendah sih dan terkesan lebih ngademin juga di antara mereka bertiga. Sementara Jonghyun ini suaranya selalu saya deskripsikan sebagai “berornamen”. Or polished. Whatever. Tipikal suara vokalis R&B gitu deh. Taemin suaranya semacam mini Jonghyun tapi kadang suka saya salah persepsikan sebagai breathy dan shaky. LOL bentar lagi aku pasti diserang fansnya.

Tapi yang paling penting: Suara mereka berlima kalo harmonisasi adalah alasan saya sudi buang-buang waktu dengerin diskografi mereka.

Jadi berikut adalah best pick saya, dibagi berdasarkan kategori yang saya bikin-bikin sendiri. Standarnya: minim rap lines yang annoying, repeat one-able, dan tentu saja harus sempat meninggalkan kesan mendalam. Fokus saya lebih ke lagunya sendiri omong-omong. Dan saya benar-benar berusaha lho untuk membuat list ini seringkas mungkin dengan mereferensi sesedikit lagu/video. Tapi kadang saya suka khilaf tidak bisa menahan diri. Mohon maaf ok.

Singles

Atau lagu-lagu yang kebagian dibikin MV. Terus terang, kalo ditunjukkin SHINee dari single mereka doang, saya ngga bakalan terlalu ngikutin kayak sekarang. Abisnya dari 16 single, cuma 5 yang saya suka.

  • 1 of 1 (2016)

AKA lagu yang membuat saya memperhatikan SHINee dengan serius. Kalau mereka nggak comeback dengan konsep retro 90-an ini, saya tetap akan buta SHINee selamanya deh. 1 of 1 ini adalah lagu yang sukses menabrak-nabrak skema lagu K-Pop tipikal (penuh dengan instrumentasi elektronik berisik dan rap yang out-of-nowhere.red) yang ada di kepala saya. Mungkin karena konsepnya retro sih ya makanya kedengeran lebih natural di telinga saya. Untuk orang yang ga terlalu suka lagu tipikal K-Pop, 1 of 1 can be a smooth entrance. Saya suka banget drum beat di intro, suka saya nyanyiin kalo tiba-tiba keinget. Dugudung dugudung dugudung dugudung~

  • Married to the Music (2015)

Single lain yang nggak terlalu K-Pop dan malah Michael Jackson-esque. Lama-lama saya mempertanyakan ini lagu K-Pop yang saya suka apakah lagu K-Pop atau cuma lagu pop Barat berbahasa Korea? Hm. Nonetheless, MTTM adalah tipikal lagu yang menangkap perhatian saya dari intronya dan bisa bikin saya langsung mikir, “Okay, I’m saving this one,” tanpa merasa perlu dengerin ampe abis. Bass di awal emang rada bikin inget Another One Bites the Dust, tapi jangan tertipu sebab lagunya sebenernya mah funky abis. Dan kalo dipikir-pikir it’s basically another 1 of 1. Tapi gapapa. Tetep kalau saya lagi shuffle playlist, saya nggak bakal skip. Kapan sih saya ngeskip lagu yang funky-funky gini.

  • View (2015)

Now this is K-Pop done right. Chorusnya adiktif dan gampang sebagaimana standar K-Pop seharusnya, but it still managed to sound minimal dengan lebih ngandelin vokal. Jadinya nggak berasa penuh atau begah-begah banget. Dan yang penting: nggak ada rap lines ngga perlu. View ini beneran lagu merakyat yang kayaknya siapapun yang dengerin bisa nikmatin. Kayaknya sih.

  • Sherlock (2012)

Ini mungkin salah satu lagu SHINee yang saya ga bakal bosen nontonin live stage-nya. Gatau kenapa Sherlock ini koreonya rada-rada enthralling gimana gitu. Kalau dengerin chorusnya trus jadi pengen ikut stomping-stomping sendiri kayaknya normal. Sebenernya Sherlock adalah salah satu lagu langka yang saya tertariknya justru karena koreonya.

Tapi musiknya asik kok. Seriously the beat really makes you want to stomp your feet in rhythm, udah gitu meski cukup banyak detail-detail di awal yang bisa diperhatiin, detailnya ga ngeganggu, narohnya pas. Kayak suara jendela pecah (? I’ll just assume so since the theme is detective) atau yang semacam suara peluit or even that thing yang saya ga tau itu namanya apa tapi sering nongol dan suka dibikin off beat pas verse awal. Bagian favorit saya (baik musik dan koreo) pas yang ada gerakan Key ngibas-ngibas tangan, persis kayak saya kalo keabisan tisu di toliet abis cuci tangan.

  • Love Like Oxygen (2008)

(Bias saya yang rambut pink di video ini #harustau)

(Sengaja embed video live stage karena suara mereka sudah berbeda dibanding dengan versi MV)

Another single with Michael Jackson reference. Yang bikin saya suka SHINee adalah they harmonise well, as demonstrated by this video. Kadang malah too well saya curiga ini mereka lipsync backtrack vocal aja apa gimana. Ini lagunya chill abis, dengan rap yang cukup well-behaved dan nggak annoying. And pay close attention to the “Yeah, yeah” in the background around 0:25. Saya kok demen ya detail-detail kecil kayak gini.

Udah itu aja single mereka yang saya suka. Banyak single ngehits mereka yang saya ga terlalu suka. Replay sebenernya oke, beneran oke sumpah, tapi tipikal lagu gampang yang saya bakalan cepet bosen. Hello juga sama. Ring Ding Dong terlalu overproduced buat saya. Iconic sih emang, tapi ga bakalan bisa saya repeat one. Lucifer… hadeh. Terlalu “dangkal”. Bikin lagu based on one note itu mungkin jenius, tapi… ya gitu… gampang diinget tapi gampang di-skip juga. LOL. Sementara Everybody adalah tipe lagu yang cuma asik kalo sambil ditonton koreonya. Dan yang saya suka dari Tell Me What To Do cuma bagian rap Key doang. Sisanya ya udah.

Slow Jam B-Sides

Alias zona nyamannya SHINee. Serius, SHINee paling nendang tiap nyanyiin lagu slow jams R&B. They’re in their elements the most when they do R&B. Lagu mereka yang paling sering jadi korban repeat one saya juga lagu-lagu slow jam b-sides mereka. Makanya saya suka jengkel tiap single mereka lagi-lagi shouty dance track lagi-lagi shouty dance track. Tsk. Kst.

  • Symptoms

Ini sih. Wah. Ini adalah lagu yang awalnya saya gak notice, tapi setelah didengerin bener-bener saya malah obsesi sendiri. It’s that good, people. Tipikal lagu dengan instrumentasi simpel ga neko-neko kesenangan saya. Dan ini ya, saya masih takjub gimana SM bisa tau buat milih member-member ini buat SHINee. Hoki banget soalnya Minho dengan tone suara baritonnya asli berguna banget buat nyeimbangin dan nopang yang lain. Demen banget saya pas Minho ngebacking Onew pas 0:25, trus yang bareng Key di 1:36. Haduh. Telingaku terberkahi.

AND THAT KEY CHANGE! That luscious key change towards the bridge at 2:32. No one can really ignore that. Beneran saya tewas trus idup lagi tiap denger bagian itu. Saya repeat one Symptoms alasannya cuma buat nungguin key change itu doang, beneran sampe segitunya saking demennya. Klimatiks abis soalnya saya suka.

  • Excuse Me Miss

Nah ini. Favorit saya banget track-track ngebeat minimal dengan hint-hint sensual kayak gini. Track-track kayak gini emang nasib ga bakalan pernah dijadiin single ya ama SHINee, padahal saya sukanya yang beginian. Hadehhh. Dan sampe sekarang saya masih nggak bisa mutusin itu yang backing vokal tiap verse suara backtrack doang atau dinyanyiin beneran. Tapi backtrack pun saya masih ga bisa nentuin suara siapa yang backing siapa. Alasan ultimate saya repeat one Excuse Me Miss adalah, tentu saja, rap-nya Key. Jarang-jarang Key ngerap pake lower register… I live for Key’s lower register, you know. #bliss #shameless

  • Odd Eye

Ini lagu ya… how should I describe it… Unique? Intriguing? Creepy? Bukan tipe lagu yang saya sekali denger trus langsung repeat karena suka, tapi lebih ke tipe yang saya repeat karena seaneh dan perlu penghayatan lebih itu (in a good way). Sebenernya kalo mau jujur pas pertama denger ini saya nggak terlalu antusias ama intro string-nya dan bagian ngomongnya… but then the falsetto howls come. Kalau saya ngerepeat Symptoms buat key changenya, saya ngerepeat Odd Eye buat bagian falsetto howls yang ganti-gantian antara Jonghyun, Taemin, dan Onew, especially bagian Onew yang di akhir, alus banget.

  • Don’t Stop

Saya selalu menganggap ini sekuelnya Odd Eye…cuma karena rap Key ada yang nge-refer ke Odd Eye. Padahal mah enggak kali. But yeay for another sensual and minimal slow jam track! Beneran synth ama beat doang kali ini isinya. Bagian favorit saya, lagi-lagi, rapnya Key. Iya, saya repeat one ini mainly emang demi rapnya Key (lagi). Tapi ini juga termasuk salah satu lagu langka di mana saya suka ama rapnya Minho, yang bagian pas yang nadanya naik dibikin kedengeran kayak suara drum beat.

  • Orgel

Ini juga track minimal yang quirky creepy spooky intriguing haunting. Saya suka banget aspek spookynya. Intronya aja udah spooky. Udah gitu nyanyinya sengaja pada meliuk-liuk gitu dengan chorus “bingeul-bingeul” yang setengah bisik-bisik. Dan yang paling bikin spooky itu pas bagian Onew yang mulai di 1:43. That long note is the divine embodiment of spookiness, really. That naik-turun-naik-satu-semitone long note. It’s because it’s so spooky I put it on repeat.

Ballad

Mungkin ini cuma saya, tapi balladnya SHINee suka hit or miss. Kadang suka ada yang oke, tapi terlalu “ballad” buat saya. Taulah, tipikal OST drama yang suka di-insert pas adegan melankolis. Saya mana pernah repeat one lagu begituan. Trus kadang pas saya udah bisa mengapresiasi, bagian rapnya meluluh-lantakkan impresi saya. 

c2nqpxrukaayg6r

  • Close The Door

Ini favorit saya, lho. String section di awal aja udah menangkap perhatian saya, padahal biasanya saya alergi ama string LOL. Trus pas vokalnya mulai, saya langsung pencet tombol repeat one. Melodinya itu lho, mungkin ini ya yang disebut sebagai ‘healing’ di Korea sana. Saya juga suka banget distribusi line mereka di lagu ini, kayak sahut-sahutan gitu enak banget didenger. Ya lagu lain juga suka gitu sih…tapi kalo buat ballad biasanya kan suka lebih kaku gitu distribusi linenya. Dan yang membuat segalanya lebih oke: rap Minho cukup masuk akal di sini.

  • Don’t Let Me Go

Ini juga. Sebenernya kalo dari segi historis–(((historis)))–ini kayaknya ballad SHINee yang pertama saya denger. Soalnya dulu saya pertama ngikutin pas 1 of 1 keluar dan saya lagi asyik berkelana live stage mereka pas era itu kan, trus ada lagu ini. Ballad ga sih ini? Anggap aja ballad deh… Pacingnya ga terlalu lambat, lebih keburu-buru. Ya cocok sih ama tema lagunya. Saya sempet bilang kan tadi kalau saya suka SHINee karena mereka harmonisasinya oke? Lagu ini salah satu contohnya. Pas bagian chorus hadeh melebur semua suara mereka puji tuhan. Trus meski ada rap, rapnya masuk. Malah highlight lagu ini menurut saya ada di rapnya Key. Kayak nyerocos ga karuan tapi justru itu yang bikin lagunya exciting.

  • Sleepless Night

Piano di intronya berhasil menarik perhatian saya. Ini tipikal lagu ballad dengan iringan mainly piano dan sedikit string section yang rawan jadi lahan vocal showoff. Dan emang ujung-ujungnya jadi lahan vocal showoff, pada belting out notes sana-sini. Bukannya saya komplain sih. Especially when the rap part is actually soothing.

LOL udah itu aja. Ada satu lagi sih yang almost make the cut: Wish Upon a Star. Almost.

Live Stage

Nah, bagian ini meliputi live stage SHINee yang lagunya ga eligible buat saya masukin ke kategori di atas tapi saya tetep pengen semua orang mempertimbangkan buat dengerin. Yeah… that’s basically the reason this category exist…

  • Like A Fire (SWC 3 in Seoul)

Iconic live stage sih ini. Kalo baru tau SHINee harus cepet-cepet dikasih liat live stage ini, kayak saya kemaren. Man, this live stage. It’s so ridiculous in many ways. Bahkan pas saya pertama liat saya pijit-pijit pelipis sendiri ini saya lagi nonton konser grup K-Pop apa variety show. Maksud saya, turun tangga yang ada di panggung dengan menggelinding itu buat apa sih… Tapi jangan terkecoh, saksikan saja bagaimana those silly acts ascends to amazing ad-libs at the end. Tungguin aja. Seriously, those adlibs at the end was so unexpected siapapun yang nonton ini biasanya bakal punya reaksi yang kurang lebih serupa: menganga.

  • Woof Woof

Ini saya suka banget!!! Beneran deh, pas pertama kali liat performance ini saya langsung kayak “oH MYY WAIT WHAT SONG IS THIS IN WHAT ALBUM HOW DID I MISS THIS” gitu. Kayak lagu musikal, with a hint of jazz here and there, makanya asik. Kalo Morning Musume punya Mr. Moonlight ~Ai no Big Band~, SHINee punya Woof Woof. Gak sama-sama amat emang, sayanya aja yang suka nyama-nyamain, soalnya nuance dan aftertaste-nya mirip buat saya. Ngedengerin keduanya bikin saya membatin, “I love this song it’s so fun I love they’re doing this song.”

Saya Pengen Masukin Lagu Ini Tapi Bingung Namain Kategorinya Apa

  • Alive

Hehehehehe.

Ini bukan tipe lagu saya biasanya as it drips with hip hop feels, tapi saya suka beatnya. It sounds heavy and awesome but also proper at the same time, nggak terlalu banyak embellishment. Part favorit saya di lagu ini justru di bagian rapnya. I think most people would agree that the rap part is the highlight of this song. Key and Minho did so well in this song, it’s one of their finest (rap) works. So fine that even I, as someone who doesn’t really fancy rap, love it.

Japanese Release

Ada perbedaan mencolok dari diskografi Korea dan Jepangnya SHINee. Yang Jepang biasanya lebih mild, lebih “ramah” di telinga saya. Ya disesuaikan dengan pasar masing-masing sih emang. Pas awal-awal SHINee rilis di Jepang emang cuma remake single-single produksi Korea doang, tapi makin ke sini mereka bikin promosi terpisah sendiri, which is nice. Kan nggak seru kalo rilisan Jepang cuma lagu produksi Korea tapi ditranslate aja liriknya. Karakteristik J-Pop!SHINee lainnya: 1) lagunya juga biasanya lebih lincah, dan 2) lebih minim rap annoying HEHEHEHE. Ya seenggaknya sejauh yang saya dengar.

Lebih susah milih-milih best pick dari diskografi Jepang mereka buat saya. Sampe sekarang saya masih lebih sering dengerin rilisan Korea aja soalnya. Jadi pasti ada hidden gems yang belum terdeteksi LOL. Ga adil emang. Bodo amat.

  • Moon River Waltz

Ini salah satu hidden gem yang saya temukan dari nonton semacam video kompilasi singkat. Jadi cuma denger sepotong line Key di awal aja. Trus saya kaget sendiri, ini lagu mana??? Kok saya ga pernah denger? Perasaan semua album Jepang udah discreening???  Baru deh abis saya dengerin bener-bener. Emang dengerin diskografi suatu artis nggak bisa back to back ya… Pasti bakal banyak yang ke-skip karena udah begah dan capek sendiri.

Anyhows, ini ballad yang cukup underrated kayaknya, nggak banyak yang ngocehin. Padahal saya suka, lho. Lambat dan relaxing. Trus semuanya nyanyi di sini, jadi ngga ada rap ^^ #antiraprapclub. Poin penting lainnya: Key’s low notes on the first verse.

  • Good Good Feeling

Ini nih lagu J-Pop. Asli ini lagu J-Pop yang membumi abis. Saya bisa tau soalnya saya cukup mengamati J-Pop (Syadzwina mulai terdengar sok). Good Good Feeling adalah lagu upbeat yang bisa bikin pendengarnya merasa happy dengan cukup sekali denger chorusnya aja. Lirik di awal sebenernya bikin saya ngakak, naonlah “moshi-moshi boku desu I want to call”. Tipikal nonsensical J-Pop lyrics amat. Tapi gapapa, dimaafkan. Chorusnya asik dan cocok didengerin pas commuting. Good good feeling, kanateru feeling~

Lagu alternatif dengan nuance serupa: Sing Your Song

  • 1000nen, Zutto Soba ni Ite blabla

Ini lagu yang saya harus bertahan bersabar dalam melewati intronya yang sangat uninspiring. Cliche at its best, geuleuh sendiri jadinya. Kalau saya gak mengingatkan diri sendiri, saya udah pasti bakal refleks mencet tombol skip. Tapi saya rela berkorban demi dengerin chorusnya yang inspiring, those high notes are just delicious. Terutama pas bagian Onew. Duh ya, di antara SHINee, saya paling suka nada tingginya Onew, warna suaranya ngasih nuance yang beda trus alus banget gitu.

  • Sweet Surprise

Ini adalah salah satu lagu yang karakter suara SHINee-nya cukup menguar-nguar di saya. Ga paham juga saya dapet kesan begini dari mana, secara saya kan baru ngikutan sebulan-dua bulan ke belakang. Almost nothing going on in this song, I have to admit. Nggak terlalu ada bagian yang bikin “wah” banget, it’s that kind of safe track. Tapi saya justru suka LOL. Adem sih. Adem banget.

  • Your Number

Sebenernya kalo mau mancing saya dengerin lagu tertentu mah gampang. Kasih aja intro isinya brass, pasti saya dengerin ampe abis LOL. Kayak Your Number ini. Sekilas emang kedengeran kayak lagu yang bakal bikin cepet bosen sih. Dan emang bikin cepet bosen =)) Udah gitu, meski saya sampe detik ini saya ga terlalu ngerti liriknya secara keseluruhan, intuisi saya bilang kalo lagu ini liriknya cringy abis, sebuah dugaan yang diperkokoh oleh ad-lib Onew di akhir lagu (hint: DAMN CRINGY). Then why the hell do I include this song, then? Dunno. No idea. I just kinda like it.

Honorable Mentions: Perfect 10

Perfect 10 ini lagunya aneh. Saya nggak bisa konek pas dengerin awalnya, beneran berasa detached banget. Dan ini cuma saya aja apa lirik lagu Jepangnya SHINee kenapa gini-gini amat sih bikin geuleuhnya? Kalo di Good Good Feeling dibuka ama “moshi-moshi”, Perfect 10 dibuka ama “hajimemashite”. Hadehhhhh tepok jidat. Baru pas masuk chorusnya langsung berasa ‘Klik!’. Bagian “mitsuketa”-nya itu loh. Mecha memorable. Kalau ga ada si “mitsuketa” ini, udah saya masukin keranjang “Skip” kali lagu ini.

And that’s about it. Sebenernya saya merasa perlu milih lebih banyak buat Japanese release mereka, namun saya harus menahan diri. Jadi ya gapapalah. Toh lagu Jepang mereka biasanya suka mirip-mirip warnanya (…)

Pro-tip: Kalau ada yang mau menggali SHINee juga, meski saya ragu ada orang yang se-kurang-kerjaan itu, dengarkanlah berurutan mulai dari album pertama ampe terakhir, trus abis itu balik dengerin album pertama sekali lagi. Saya baru bisa ngapresiasi pas digituin.

You Think You’re So Open-minded

I’m nowhere near being open-minded.

If anything, I’m fairly close-minded most of the time. I read things about topics I’m only interested in, I only listen to the music that’s been on my library for years, and I only watch films and series which premises seem like to support my pre-existing ideas. I do challenge myself from time to time, like trying to keep up with world politics from various sources, or listening to some pop albums on its entirety without skipping a single track, or even finishing a 40-episodes-long Taiwanese drama although it sucks and I hate how annoying Mandarin sounds (I really did, once). But not on daily basis. I’m not even sure if it’s weekly. A few times every month, probably. Roughly once or twice a month on average.

To complete all that, I mainly surround myself with people who, more or less, are on the same wavelength as me.

But I’m very self-aware. I’m aware of all that, I even openly embrace that part of me. Granted, it doesn’t eliminate my close-mindedness right away but, ah, it does prevent me from making an occasional dangerous slip to the Bigot Valley.

And by the way, realistically speaking, there’s just no way you can truly be an “open-minded” person. Your brain just naturally isn’t cut out for it. I know because I didn’t waste my four years studying human’s mind and behaviour for nothing, you see.

We all favour comfort above all, and there’s no comfort in it when we’re faced with something that contradicts or different from our preconceived notions. There’s this uneasy feeling we get instead, so uneasy we’d much rather avoid it if we can. You probably wouldn’t want to sit yourself through a 90-minutes symphony if you’re only into current popular music. You probably would’ve dismissed the idea of reading articles that doesn’t hold your interest. And I know you wouldn’t want to sit through some Korean dramas for hours if you’re usually into dark, intelligent, mind-boggling Western series. Oh, I know for sure.

It’s just how your brain works. Why suffer through unfamiliar settings every single time when you can take the easy way out? Yes. Your brain actually is just as lazy as you are.

So I couldn’t help but scoff every time I spot those people on the internet who proudly describe themselves as being open-minded.

This would be the same people who refuse to watch any Asian dramas because they think Asian dramas are all sappy, stupid, and unintelligent. This would also be the same people who refuse to read any shoujo mangas, or any young adult novels, for the exact same reason. This would be the classical music snobs (or any specific-unpopular-genre snobs) who refuse to even listen to any current pop music because they think pop music are absolute garbage.

This would be the same people who act as if racism, sexism, and social justice are the only thing matters today, and that it should be. The kind of people who think that those problems are universal on all levels, that it should be everyone’s primary concern, no matter who they are or where they come from or what kind of life they’ve been living. The kind of people who accuse everyone who voted for Trump as deplorable and unfriend them on Facebook right away. The kind of people who hold a black-and-white way of thinking, like thinking that an indifference to racism is still racism.

This would be the same people who, apparently, wouldn’t get that there are some other people who are just too desperate to feed themselves or have a place to live in, to be able to pay attention to those things.

This would be the same people who surround themselves only with like-minded folks, listening to opinions that are no different from their own. This would be the same people who’ve been living their lives in an echo chamber.

This would be you.

So, open-minded?

Get off your high horse. You know damn well that you’re not.

A Joke Played Out Too Soon

“If people have essence, I would think that mine is of similar elements to hers.”

[Click]

I get her.

Wait, how did I first know her again? Oh, right, someone mentioned her name just because I came out as a nonbeliever to them, since I was young and foolish and feeling too enthusiastic about my newfound identity back then.

But, yes, knowing her has once got me thinking, “Ah, we’re alike.”

“Ah, I get her.”

[Click]

And so she’s become one of the few people with whom I can talk to without feeling guarded.

“If people have essence, I would think that mine is of similar elements to hers.”

But then I’m still as distant and detached. If people ask me do I know her well I can only answer, “I wonder… Probably a bit? A wee chunk here and there?”

Yes, I’ve known her for four years, give and take a few months. We’re even in the same peer group, if that of any helps. And yet, I still think we weren’t so close. Quite, but not so close.

But I still get her then. Sometimes I would think that I can sense how her train of thoughts goes. I get where she comes from. I get her reasoning.

I get why she succumbs to social standards. I get why she doesn’t even try to fight it. I get why she’s been crazily, desperately trying to lose weights. I can’t explain how, but I get her. Hence, I didn’t even attempt to stop her.

It would feel too hypocritical.

“If people have essence, I would think that mine is of similar elements to hers.”

Only she’s a lot more pretentious than I am. So proudly pretentious. That’s her game, anyway. I couldn’t possibly beat her at her own game. And she could be so gruesomely evil at people. Every so often, I might add.

You: “Was she sweet?”

Me: You’re asking the question I just answered.

“If people have essence, I would think that mine is of similar elements to hers.”

Only she got a few strange features mixed in.

I didn’t consider those strange features to take full effect.

And so it goes.

I woke up to the news that she was already in coma, with platelet count hitting an all-time low at 400. I woke up to that news, and yet still I think so conveniently like a moron, “The doctor will do something about it.”

“What, can’t they transfuse some?”

I was so caught up minding my own business that day. I had deadline to destroy, translation quota to be filled up. So when I finally had the time to check on my phone, I was dumbfounded.

[”Sasa passed away.”]

I could only think, “What the fuck.”

And for a few seconds more I still couldn’t elaborate, “What the fuck. What—Fuck, what? WTF?”

Only after then, while still trying to finish translating stuffs, could I come up with the real question. Somewhat perplexed, somewhat stunned. Nothing resembled tears or sadness.

“What has she done to herself?”

“What the hell has she brought upon herself?”

“What the fuck, Sasa, what kind of shite have you done?”

Another moment passed, and new questions surfaced.

“Will I grieve?”

“She’s someone close, right? Will I grieve like everyone else? Or am I already grieving by being not sad at all?”

Because, me being me, I feel like I’m already somewhat seeing her all freezed up as a distant memory. One that I know will be momentarily forgotten for some time, one that I know will suddenly resurface while I was, I don’t know, grocery shopping, probably.

I hope it’ll hit me for real by then.

In memoriam: Sasa


“If people have essence, I would think that mine is of similar elements to hers.”

I get her. I never asked if she gets me as well, though. But at least she could tell you immediately what is the brand of my favorite soap, a fun-fact kind of knowledge that she seemed so pleased about.

A year ago, to be fair.

Book Murder: Ai by Winna Efendi

(Omatase shimashita)

Selepas membaca Refrain, saya langsung lanjut baca Ai (tapi bantainya baru sekarang. Ya. Memang.) Saya kira saya akan membaca sesuatu yang buruk, mengingat Ai ini justru terbit sebelum Refrain. Dan sudah merupakan rahasia umum di dunia: tulisan-tulisan pertama kita bloonnya bisa bikin yang baca mati berdiri. Siapapun entitas malang kurang kerjaan itu.

Refrain yang saya anggap sebagai karya gagal bikin saya mega-skeptis ama Ai, tapi tentu aja tetep saya baca. Saya kan tangguh, selain emang maso dan haus bahan caci-maki aja.

Betapa kagetnya saya ketika menemukan bahwa Ai punya tone yang agak lebih serius ketimbang Refrain bahkan dari halaman-halaman pertama.

“Wow,” saya berdecak terpana. “Winna Efendi wrote this?”

Saya nggak bercanda. Saya beneran kaget soalnya gaya bahasanya gaya terjemahan gitu (yang merupakan gaya saya abis, omong-omong). Dibandingkan dengan Refrain yang dibuka dengan Niki dan Nata yang ngoceh soal siapa-ya-yang-jatuh-cinta-duluan-di-antara-kita, Ai terasa seperti kembang tahu yang dijual sebelah Indomaret Kober yang baru kemaren-kemaren saya cobain.

Dengan kata lain: “Loh, kok lumayan???”

Yah.

Seenggaknya begitulah kesan pertama yang saya dapatkan.

Seperti hal-hal lain di dunia, tentu saja, kesan pertama bukanlah sesuatu yang definit.

Entah sejak halaman berapa, saya mulai merasa diperlakukan seperti pembaca idiot yang akan menelan bulat-bulat apapun yang ditulis oleh si nyonya penulis.

Ai bercerita tentang persahabatan antara Ai, Sei, dan Shin. Aslinya sih cuma Ai dan Sei aja yang sahabat-sejak-kecil-alias-osana-najimi, persis seperti Niki dan Nata di Refrain, namun kita punya cowok pindahan dari Tokyo bernama Shin yang kemudian menjadi orang ketiga di persahabatan itu, persis kayak Anna di Refrain. Luar biasa emang kreativitas Winna Efendi ini, menghasilkan dua novel yang bak pinang dibelah dua di tahun yang sama. Wah, pasti menguras tenaga dan akal pikiran banget.

Sebagaimana cerita-cerita tentang persahabatan pada umumnya, saya gagal melihat sebelah mana sebenarnya letak “persahabatan” yang diagung-agungkan si penulis. Nggak tau ini cuman saya aja apa gimana, tapi di cerita yang bawa-bawa tema persahabatan biasanya nyaris selalu terkesan nggak meyakinkan soal persahabatannya sendiri. Kayak Refrain kemaren, atau Antologi Rasa yang laughable abis itu. Ai pun gak jauh beda. Persahabatan yang saya liat antara Ai, Sei, dan Shin kayaknya cuma sebatas mereka diceritain nyambung banget dengan satu sama lain dan kalo ngobrol bisa ampe ngobrolin apa aja.

Emphasis on “diceritain”.

Yes.

Diceritain doang.

Tau kan, yang tinggal deskrip “kami membicarakan banyak hal… membuat kami tertawa… kami begitu asyik ngobrol…”

Dasar penulis pemalas.

Singkat cerita, mereka lagi masa-masanya milih kuliah. Shin milih Todai—Tokyo daigaku, that’s University of Tokyo for you—karena dia pengen balik ke Tokyo. Dan Ai, remaja perempuan bloon kita yang masih mikir bersahabat berarti selalu bersama selamanya dan gak rela pisah ama Shin, punya ide gila untuk pengen daftar Todai juga. Ai ini emang luar biasa, perangai dia bikin saya mikir masuk Todai bakal segampang ngerebus air. Sei tadinya mau lanjut universitas lokal aja kayak kakaknya, namun akhirnya dia ngekor juga milih Todai setelah dibujuk Ai.

Dengan ketiga-ketiganya ngedaftar di Todai, yang omong-omong merupakan universitas top di Jepun sana, tentunya logis dong kalau saya berharap bakal ada segundukan masalah selama mereka berjuang buat keterima, seperti yang dialami karakter utama di film Biri Gal yang targetnya Keio University. Logis dong kalau saya mengharapkan perjuangan ini akan diceritakan secara dramatis dalam sekian bab.

Logis lah ya.

Tapi tentu saja, Winna Efendi bukan penulis yang peduli soal ginian. Perjuangan masuk Todai bukanlah sesuatu yang penting. Nggak. Di dunia rekaan Winna Efendi, keterima di Todai emang segampang ngerebus air. Nggak, nggak perlu sekian bab buat nyeritain ‘perjuangan’ mereka buat keterima di Todai. Cukup tiga paragraf aja dan langsung lompat ke hari pengumuman setelahnya tanpa perlu nyeritain hari H-nya, di mana kita menemukan ternyata mereka keterima ketiga-tiganya. Segampang ngerebus air. Dunia emang seindah itu.

Percayalah, saya nggak bakal se-picky ini kalo universitas yang dituju itu bukan universitas top nasional di Jepun sana. Dan sebenernya saya juga heran kenapa dari sekian pilihan universitas di Tokyo, harus Todai banget, sementara dari yang diceritain penulis dari awal, ketiga karakter ini kayaknya nggak ada yang terlalu menonjol wah banget academically. Terlebih lagi setting awalnya ini daerah pedesaan gitu, yang omong-omong gak jelas juga di mana pokoknya deket laut lah, entah Jepang sebelah timur atau barat. Dan logika saya membisikkan bahwa persaingan di sekolah-sekolah non-kota harusnya bakal lebih chill dan nggak sekompetitif itu. Sotoy aja sih saya, tapi bisa diterima lah ya *maksa*. Ini kan kayak gimana proporsi mahasiswa UI lebih condong ke yang berasal dari Jabodetabek.

Tapi ternyata nggak cuman keterima Todai yang segampang ngerebus air. Di dunia rekaan Winna Efendi, hidup merantau di Tokyo juga segampang cuci kaki.

Saya, sebagai weeaboo-weeabooan, udah lumayan paham lah harusnya ngerantau di Tokyo itu gimana. Dan kebetulah banget pas saya baca ini, saya juga nontonin dorama yang juga tentang orang-orang yang ngerantau di Tokyo. Kayaknya udah merupakan fakta yang solid dan tidak terbantahkan kalau hidup di Tokyo itu ga gampang, apalagi buat mahasiswa yang ngerantau dari desa, meski di desa mereka punya bisnis restoran dan pemandian air panas sekalipun. Nggak mungkin pertama ke Tokyo bisa langsung hidup enak.

Tapi Winna Efendi mah bodo amat. Tau-tau aja trio kita bisa tinggal di apartemen dengan 2 kamar, dapur, dan ruang tamu. Entah dapet duit darimana, pokoknya apartemennya 2 kamar aja, dan mereka masih bisa langsung beli-beli perabot bahkan. Hidup mereka juga kayaknya woles-woles aja ga ada beban. Seolah-olah 3 mahasiswa tinggal di Tokyo DAN kuliah di Todai (plus ga mungkin ketiga-tiganya dapet beasiswa, terlalu ngimpi) ga punya masalah finansial yang perlu dipusingkan.

Enak bener ya hidup di dunia rekaan Winna Efendi. Saya juga mau.

Terus, Winna Efendi juga dengan entengnya ngebikin karakternya naik shinkansen sesering naik bus.

Siapapun yang ngebaca Ai pasti bakal ngira kereta di Jepang itu semuanya shinkansen. Beneran ngakak saya pas baca si Sei naik shinkansen dari tempat part-time-nya di Roppongi ke apartemennya. Apartemennya ceritanya sih masih di Tokyo, sekitaran 30 menit dari stasiun Tokyo. Tapi belah mananya Tokyo juga nggak jelas, yang jelas dari apartemen mereka bisa liat laut aja. Saya bukannya ngerti seluk-beluk Tokyo, pengetahuan saya toh hasil nonton dorama semua. Tapi gini… orang mana sih yang dari satu bagian Tokyo ke bagian Tokyo yang lain naiknya shinkansen?? Ini kan mirip-mirip kayak orang mana sih yang dari Gambir ke Bekasi naiknya Argo Parahyangan???

Dunia rekaan Winna Efendi emang daebak abis.

Satu-satunya konflik, dan beneran cuman satu-satunya, yang diangkat di Ai adalah soal cinta segitiga antara Ai, Sei, dan Shin.

Tentu saja. Konflik besar yang sudah pasti pernah dialami oleh kita semua: cinta segitiga dalam persahabatan. Yah, kecuali buat orang-orang yang terlalu sibuk mikirin diri sendiri kayak saya.

Ai dan Shin saling mencintai, dan tentu saja Sei yang tertinggal di belakang cuma bisa ngarep ama Ai. Dan yang menjadi kegagalan kesekian Winna Efendi, dari sekian banyak kegagalan dia, adalah saya sebagai pembaca nggak bisa liat bibit-bibit cinta antara Ai dan Shin. Di satu sisi ini mungkin karena bagian pertama bukunya diceritain dari sudut pandang Sei, di sisi lain mungkin karena Winna Efendi emang payah aja. Haha. Saya beneran nggak bisa konek ama siapapun karakternya, jangankan ngedukung salah satu dari mereka.

Jadi bukan salah saya pas ada adegan Shin ngelamar Ai di Tokyo Tower padahal buku belum separuh jalan, saya malah meringis jijik.

Apa-apaan.

Mahasiswa perantauan, belum diceritain lulus, udah main tunangan aja.

Aku tau kamu teenlit bego-begoan tapi jangan setega ini juga lah….

Membaca Ai membuat saya benar-benar merasa diperlakukan seperti pembaca yang bakal manggut-manggut aja penulisnya terserah mau bilang apa, yang bakal hah-hoh-hah-hoh doang. Oh, ini ada karakter dari Tokyo. Oh, ini mereka mendadak mau kuliah di Todai. Oh, ini mereka pokoknya udah keterima aja di Todai. Oh, ini mereka akhirnya tinggal bareng di Tokyo. Oh, ini mereka hidup biasa-biasa aja di Tokyo, ga ada kesusahan atau apa. Oh, Todai apaan? Nggak, nggak, Todai udah nggak penting, sekarang Ai ama Shin udah tunangan dan Sei patah hati. Ini yang penting sekarang.

?????????????????????

Sebagai pembaca yang bisa berpikir dan terlalu gampang sewot soal kelogisan cerita (teenlit), saya merasa terhina.

Belum pula soal karakter. Wah, karakter.

Kenapa ya kok ORANG-ORANG hobi banget menokohkan karakter utama perempuan mereka sebagai seseorang yang MUNGIL? Ya ngerti sih sebisa mungkin karakter utama dibikin se-likable itu tapi ya plis deh, dikira kita-kita orang peduli amat apa soal deskripsi fisik karakter novel kalian?

(Taunya orang-orang selain saya emang pada imajinatif semua dan cenderung bergantung ama deskripsi fisik karakter)

(Yah, saya sih nggak. Gunung Kilimanjaro bahkan lebih aktif ketimbang imajinasi saya)

Dan kenapa juga ORANG-ORANG hobi banget menokohkan karakter utama perempuan mereka sebagai seseorang yang CERIA? Kayak nggak ada trait lain yang bisa dipilih selain CERIA.

Bau-bau Ilana Tan abis deh ini Winna Efendi. Karakternya bahkan lebih generik ketimbang Paracetamol saya.

Niki di Refrain beneran mirip Ai. Nyebelinnya pun sama, kekanak-kanakannya juga. Mungkin bedanya ada di Ai lebih sering dideskripsikan bermata bulat besar aja.

Sebenernya, kalau saya harus bersikap adil, Winna Efendi sudah berusaha untuk membuat Ai terkesan agak lebih substansial dengan membunuh emaknya (yang omong-omong, doi seniman Bali yang ceritanya FENOMENAL banget di Jepang sana. Makanya si Ai suka makanan pedes. Lah penting amat emang). Dan hubungan dia dengan ayahnya bisa bikin trotoar keramik di Margonda menghela napas lega karena ada yang lebih amburadul. Saya sih mau-mau aja mengapresiasi ini, tapi cara Winna Efendi mengeksekusinya bahkan gak mampu untuk bikin mata saya berkedip, apalagi membuat hati saya berdesir.

Sok lah sana bikin karaktermu sedramatis mungkin, punya masa lalu yang pekat dan kelamnya menandingi tinta cina, tapi plis lha jangan dijadiin trivia ga penting doang. Dibikin benang merahnya kek, apalah. Ini bahkan saya ampe cuma nganggep konflik di Ai itu cuma soal cinta segitiganya doang saking nggak berasanya hubungan-Ai-dan-ayahnya-yang-harusnya-adalah-suatu-konflik. Ya terang aja. Mana puas saya disuguhin konflik asal-di-permukaan macam gitu, yang dimention sekali, trus ilang di pertengahan, trus tau-tau nongol lagi di satu titik cuma buat langsung diselesain. Idih.

Sementara Shin dan Sei…

*berpikir keras*

*masih berpikir keras*

Wah, memorable abis mereka berdua saya ampe cuma bisa inget nama doang. Karakter Harris di Antologi Rasa jadi terkesan semegah Severus Snape kalo dibandingin ama Shin dan Sei. Dan kedua-duanya sama-sama diawali dengan huruf S ini apakah suatu kebetulan yang tidak disengaja? W-o-w. Fishy.

Saya lebih jinak pas baca Ai ketimbang pas baca Refrain, murni karena gaya bahasanya—meskipun standar abis tanpa pesona yang berarti—sesuai dengan preferensi saya. Tapi hal itu tidak membuat ketololan-ketololan yang ada di buku ini jadi bisa lebih saya terima, macam ketiga karakternya keterima Todai dengan terlalu gampang, kehidupan mereka di Tokyo yang saking santai dan tanpa ombang-ambingnya bikin saya curiga sebenernya bukan Tokyo itu settingnya, tapi Jatinangor tahun 2011-2012 (yang omong-omong emang affordable abis. Good times. Gak tau sih sekarang), Shin ngelamar Ai pas mereka bahkan ga ada dibilang udah lulus kuliah…

Dan ketololan-ketololan lainnya yang saya udah lupa.

Takjub saya ama Winna Efendi. Payahnya kok gak abis-abis.