Mana yang Musik, Mana yang Bukan

TL;DR: Emang masalah selera aja. #pft


Sejak melek K-Pop, saya jadi lebih in-tune sama perkembangan musik mainstream saat ini. K-Pop kan kiblatnya Western abis gitu. Dan karenanya, saya jadi semakin sadar betapa musik mainstream saat ini lebih sering bikin saya frustrasi ketimbang bikin saya obsesi.

Anggaplah saya ini purist. Musik beneran buat saya adalah yang pake instrumen beneran. Instrumen beneran buat saya adalah instrumen yang butuh skill manusia. Dan yang paling penting, musik beneran buat saya adalah musik yang mampu memancing emosi-emosi termentah manusia.

Sebagai purist, saya skeptis banget sama suara elektronik. Hit and miss banget buat saya, dan berdasarkan pengalaman saya lebih banyak miss-nya ketimbang hit-nya. Bahkan kalau mau blak-blakan dan sok dramatis, saya benci banget suara elektronik, saya benci musik hasil bikinan software doang. Dalam semangat sok dramatis yang konsisten, saya juga mau bilang saya benci suara instrumen-instrumen palsu, terutama synth brass. Gila benci banget saya dengernya.

Ya dramatisnya gitu sih. Tapi gapapa, sebagai orang dewasa berpendidikan, saya masih bisa kompromi kok sama suara-suara elektronik ini. Selama komposisi secara keseluruhannya masih terdengar kayak musik di telinga saya, saya oke aja dengerin berulang kali ampe bosen. It’d be stupid to dismiss it completely. Gila aja, bisa-bisa saya kehilangan musik asik kayak gini:

Kan sayang. Meski cukup langka, ada kok musik yang direksinya emang sengaja dibikin elektronik kayak gitu dan tetap terdengar oke di telinga saya.

Cuma ya itu. Ada, tapi cukup langka.

Sialnya, yang lebih sering ngetren dan ngehip abis di masyarakat adalah suara elektronik yang kayak gini:

Saya masukin lagu ini sebagai contoh bukannya saya mau bilang lagu ini populer, poin saya adalah lagu kayak gini yang populer. Dan ini udah dari tahun entah kapan ya, sejak saya masih kuliah pun, musik-musik yang intens bersirkulasi di masyarakat tuh selalu aja jenisnya yang kayak begini semua. Seenggaknya kalo saya ke tempat umum di mana kawula muda bergerombol, yang diputer di speaker selalu musik beginian.

Dan saya udah kadung muak banget ama musik beginian.

Pertama karena keelektronikannya, dan udah gitu suara elektroniknya bukan jenis yang bisa dengan mudah telinga saya terima. Tipe-tipe musik klub yang nyaris selalu HARUS didengarkan dalam volume maksimal. Biar apa? Ya biar kedengeran!!! There’s always that bass beat thing going on there right? And it almost always comes in the form of sound that you want to blast around your ear. Dan ini yang bikin saya keki banget, musik beginian nggak sehat dan nggak bakalan pernah sehat buat telinga saya. It’s somewhat inducing in the most negative way. Apa ya, musik-musik mabok.

(Ya emang musik-musik mabok sih)

Kedua, alih-alih unjuk melodi, highlight dari musik beginian nyaris selalu ada di “beat drop”. Bodo amat jadinya mau seklise apa pun, pokoknya mesti ada “beat drop”. Sekitar 1:26 kalo di video tadi. Dan ini yang bikin saya mau nangis, soalnya ya, “beat drop” ini, mau dikreasiin dalam berbagai cara pun, hasilnya bakalan tetap terdengar gitu-gitu aja.

Masih dalam topik yang sama, musik beginian nyaris selalu miskin melodi. Melodi aja miskin apalagi harmoni. Paling melodinya cuma ada di vokal doang, itu pun kalo ada. Sisanya berat di ritme/beat. Dan, duh, ayolah, ada berapa macam variasi ritme/beat sih di luar sana? Pembedanya paling di jenis “instrumen”, tapi polanya ya… bisa sevariatif apa sih? Ujung-ujungnya gitu lagi. Kayak, selalu ada entah apa itu yang kedengeran kayak snare berentet seperdelapan, trus seperenambelas bentar sebelum the goddamn beat drops. There’s almost always that particular sound. It’s just so blatantly uninspiring it drives me up the wall every time I hear it.

Biasanya saya nggak terlalu merhatiin detail ritmis begini. Saya biasanya merhatiin melodi aja, tapi karena di musik beginian nggak ada lagi melodi yang bisa dihayatin selain vokal, ya mau nggak mau kan secara tidak sadar saya perhatiin juga. Dan pas saya ngeh apa yang saya denger, pas saya ngeh apa yang bikin saya tau-tau kesel pas dengerin musik beginian, saya malah makin kesel sendiri. Belum lagi ngomongin gimana tiap dengerin musik beginian saya selalu berasa kayak ini yang bikin pada masukin apa aja sampel beat yang bisa dimasukin saking kering melodinya itu musik. It’s frigging all over the place. Argh aduh gila saya muak banget ampe mau nangis.

Ini bias pribadi, tapi buat saya melodi/harmoni itu udah kayak karakteristik mutlaknya musik. Kasarnya, bukan musik kalo nggak ada melodi. Saya nggak bisa tertarik kalo instrumennya nggak ada pitch. Makanya saya nggak suka suara perkusi kayak drum tapi oke aja sama marimba. Saya kalo dengerin lagu apa pun, selain dengerin vokalnya biasanya saya juga nyari part tertentu yang jalan sayup-sayup di belakang. Dari sini saya jadi ngeh-in banyak hal: Oh bass-nya kayak gini, kok asik; Eh ini suara apaan di belakang; Argh the chord!!!; Is this trumpet real? Oh it’s real trumpet! I’m glad it’s real, not synth. Penemuan-penemuan kecil kayak gitu yang bikin dengerin musik itu aktivitas yang saya muliakan banget.

Terus suara-suara elektronik yang dipake di musik beginian karena basisnya sample jadinya malah bikin musik beginian secara keseluruhan jadi terdengar dangkal. Haha, kedalaman macam apa sih yang bisa ditawarkan berbagai macam beat itu. Nggak banyak bisa dimain-mainin juga. Gini, kalo piano kan bisa diapa-apain, mau dibikin kedengeran surem, damai, atau euphoric bisa. Kemungkinannya banyak banget. Now try to take your beats and electronic noises and figure out the kind of sounds they can offer. Mau diapain dan digimanain pun, suara-suara elektronik ini gak bakal bisa seluwes dan sedalem itu sampai kapanpun. Kenapa ini penting?? Because I need my music to be able to elicit the rawest emotions!!! Dan emosi saya, kasarnya, nggak bisa dateng dari beat drop.

Jadi ngedengerin gimana komposisi musik beginian melucuti nyaris semua melodi dan cuma nyisain vokal, making it consists of almost only superficial beats and rhythms itu kayak, wah, oh my good gracious gods what the hell do you think you’re doing. Iya saya emang suka track-track minimal, tapi yang biasanya saya suka tetep yang masih berasa ada melodinya sayup-sayup jalan di belakang, bukan yang macam musik beginian.

Demi tuhan, meski sama-sama elektronik dan pada dasarnya saya ga suka suara elektronik, saya lebih rela kalau musik macam Hotline Bling yang ngetren. Se-nggak sregnya saya ama hip-hop dan rap, seenggaknya ini masih terdaftar sebagai musik di telinga saya.

But nooo, it doesn’t.

I keep hearing those generic garbage people call EDM that always have that beat drop part in, every damn time.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s