Book Murder: Let Go by Windhy Puspitadewi

Kadang saya nggak ngerti ama selera saya sendiri.

Antologi Rasa saya maki-maki, Our Story meski sebenernya mendekati lumayan masih aja tega saya selepet sana-sini, trus Refrain saya hina-hina dan Ai juga gak saya kasih ampun cuma karena saya tersinggung banget penulisnya nggak niat riset.

Pas baca Let Go saya mingkem kayak anak kecil disogok permen.

Saya serius. Percaya atau enggak, saya cukup menikmati membaca Let Go ini.

Cerita bego-begoan itu ada dua macam, satu bikin saya pengen jedukin kepala ke meja, satu lagi tipe bego yang malah bikin saya ketawa. Seabsurd apapun kedengarannya, buat saya Let Go ini ada di kategori kedua. Kalau saya tarik lebih jauh, ngebaca Let Go ini tuh kayak nonton drama produksi anak SD yang emang ditonton buat diketawain karena geli aja, bukan buat dikritik. Dan saya bisa terima-terima aja gitu.

Premisnya sebenernya terlalu familiar dan pasaran. Alkisah ada murid SMA berandal begajulan namanya Caraka… Ya. Dari satu kalimat ini aja saya yakin siapapun bisa nebak jalan cerita berikutnya. Yang tokoh utamanya berandal begitu mah ya paling ntar larinya gak jauh-jauh dari “bertemu dengan orang yang berbeda jauh darinya kemudian [conflict] kemudian [resolution] dan pada akhirnya [karakter terlahir kembali dengan sikap baru yang lebih dewasa]”. Di buku ini diterjemahkan menjadi, “Caraka, anak SMA yang terancam DO, terpaksa harus mengurus mading sekolah demi menyelamatkan statusnya sebagai pelajar. Dia harus bekerja sama dengan Nathan (super sinis), Nadya (perempuan tangguh), dan Sarah (benar-benar pemalu). Blablabla intrik blablabla.”

Alias tipikal plot coming of age.

Ga masalah buat saya, toh nothing new under the sun. Yang tricky kemudian adalah bagaimana cara mengemas cerita pasaran ini menjadi sesuatu yang masih bisa dinikmati. Let Go, dengan segala ketulusan hati saya, patut saya kasih anggukan, sambil nyengir ketawa.

Jadi si Caraka ini orangnya, sebagaimana karakter berandalan pada umumnya, meledak-ledak dan gampang kesulut emosi. Berantem mulu kerjaannya. Adegan pertama dibuka dengan Caraka lagi diceramahin wali kelasnya, yang tentu saja, sebagaimana karakter wali kelas pada umumnya, amat sabaran, pedulian, dan besar hati. Setelah adegan diceramahi guru, Caraka mergokin gerombolan berandalan lainnya lagi mojokin anak orang, yang dikasih nama Nathan ama penulisnya. Tentu sebagai tokoh utama laki-laki, Caraka harus menunjukkan sisi pahlawan pembela kebenarannya dengan menginterupsi gerombolan berandalan tadi dan kemudian, mungkin, dengan gagah ujug-ujug menumbangkan mereka semua.

Di sinilah saya mulai ngakak (terhibur). Bukan karena si Caraka, tapi lebih karena cara si penulis menuturkan adegan Caraka nginterupsi gerombolan itu. Kira-kira begini:

“Siapa kamu?!!” tanya mereka. “Jangan ikut campur!”

“Pengecut!” ejek Caraka kesal. “Atau, emang sudah budaya sekolah ini selalu main keroyokan?”

“SIALLL!!!!!” Salah satu gerombolan itu maju siap menerjang Caraka dan cowok ini pun sudah bersiap hendak menghadapinya.

“TUNGGU!!!” teriak salah seorang dari gerombolan itu.

“KENAPA?” tanya cowok yang akan menerjang Caraka itu dengan marah.

Beneran deh saya ngakak. Pertamanya saya merasa geli aja karena tanda serunya yang berlebihan, trus pake kapital juga. Tapi yang kemudian bikin saya meledak ngakak adalah pas bagian “TUNGGU!!!” “KENAPA?” itu. Di otak saya, adegan ini keputernya mulus banget ala-ala dorama live action yang aktingnya super awkward dan lebaynya ga ada rem. Coba, orang macam apa sih yang udah panas tinggal tonjok pas diteriakin “TUNGGU!!!” sempet-sempetnya ngebales “KENAPA?” selain karakter-karakter dorama live action? Karena saya udah punya skema dorama live action di kepala saya, alih-alih geuleuh, saya malah terhibur pas baca adegan ini (ini penting karena saya malah jadi lebih lunak pas lanjut ngebaca).

Dan si penulisnya sepanjang buku ini gaya berceritanya emang kayak gitu. Komik banget, dorama live action banget. Fast-paced penuh dialog dan ekspresif sekaligus. Sebagai generasi instan, saya kan suka banget dialog fast-paced. Cuma, yah. Nggak semulus itu, emang, malah saya bakal bilang ini dialognya sebenernya pada maksa bener dan terlalu terkesan dibuat-buat, ketara banget ‘fiktif’-nya. Rawan masuk kategori dialog yang akan bikin saya ketawa dan mencebik, “Nobody talk like that in real life.”

Terutama pas bagian Caraka ama Nadya berbalas kutipan film Casablanca, hadeh LOL WTF is this why am I still reading this banget. Atau pas bagian Caraka, sebagai bagian dari twist yang tidak benar-benar twisting, tiba-tiba merepet tentang sejarah anu pas mendadak ditanya guru di kelas sejarah dengan lancarnya (penulisnya lagi mau nonjolin sisi lain Caraka yang keliatannya berantem mulu). Ketika saya bilang merepet, maksud saya adalah berorasi dengan pilihan kata yang terlalu mengesankan dia lagi ngediktein buku teks alih-alih mengesankan dia lagi ngejawab pertanyaan guru dengan spontan. Atau kapan aja tiap Nathan ngomong deh, sinisnya ngegas mulu ga abis-abis.

My eyes rolled so hard I can even see through the back of my head.

Dan yang membuat semuanya menjadi borderline annoying, penulisnya ga bisa konsisten mau pake gaya bahasa apa. Kadang saya menangkap oh penulisnya make gaya bahasa gaul, tapi di dialog sana-sini malah berasa kayak setengah terjemahan hadehhh. Gini-gini amat si Windhy nulis novel. Kalo mau gaul ya gaul sekalian dong, kalo mau kaku tetap terikat tata bahasa ya kaku sekalian. Kalo setengah-setengah gini kan alur dialognya jadi gak alus dibacanya. Emangnya enak ngebaca dialog kayak gini:

Nadya: “Kamu mau lihat jawabanku? Aku udah hampir selesai.”

Caraka: “Makasih, tapi aku benci diremehkan. Aku mau kerjakan sendiri dulu.”

Can you feel that awkward, uncomfortable, big crack when the guy answered with wording like “benci diremehkan” and “kerjakan”, when the girl has been all casual before with the “udah hampir selesai”? Ga enak abis deh saya bacanya. Di kehidupan nyata, si cowok bakal menjawab kurang lebih gini: “Makasih, tapi aku nggak suka diremehin. Aku mau ngerjain sendiri dulu.”

Bukankah ini terdengar lebih believable dan tidak jomplang??? Ini bahkan mengesampingkan pertimbangan bahwa yang ngejawab itu Caraka, yang mana karakternya harusnya cukup kasual.

Gitulah kurangnya Let Go ini. Gaya nulis dialognya suka patah-patah macam lagi senam poco-poco. Jangankan gaya bahasa, penulisnya bahkan nggak bisa konsisten nentuin si wali kelas mau pake ‘aku’ atau ‘saya’ pas nasihatin Caraka.

Tapi, ya, tapi, saya ga paham kenapa, Windhy Puspitadewi aka si mbak penulis, secara misterius bisa mengeksekusi segala dialog yang sungguh tidak real dengan gaya bahasa senam poco-poconya itu sehingga saya yang baca malah jadi terhibur. Kayak, rutenya emang zigzag abis, lots of bump here and there, but it’s going somewhere and although I know exactly where I’m going and I kind of complain about the bumps all the time, in all honesty I’m actually enjoying the ride. That kind of feeling. Beneran lho ini saya serius nggak sinis sama sekali.

Plotnya juga sebenernya sama standarnya kayak hidup saya. Ya beda sih. Tapi saya biasa-biasa aja pas dibilang ternyata Nathan penyakitan sekarat udah mau mati. Endingnya begitu juga saya nggak kaget. Tapi dengan segala kestandaran itu, si Windhy ini somehow bisa bikin benang merah semuanya tuh keliatan. It ties up quite nicely around its title “Let Go”. Nggak fancy-fancy amat, tapi lumayan lah. Saya bahkan, di sisi lain, lebih kebeli ama dinamikanya Caraka, Nathan, Nadya, dan Sarah, dengan segala dialog-yang-tidak-real mereka, ketimbang dinamikanya Keara-Harris-Ruly-Denise (Antalogi Rasa) atau Nata-Niki-Anna (Refrain).

Yang membawa kita ke topik berikutnya: Karakter.

They’re not that mindblowing.

Si Windhy ini terlalu berusaha keras untuk membuat karakterisasinya Caraka cukup berlapis-lapis dengan ngebikin dia selain langganan berantem, ternyata punya interest serius terhadap film dan sejarah. Saya sulit banget kebeli ama trik beginian, jatohnya suka terlalu formulaic karena pada dangkal-dangkal gitu. Paham sih tujuannya apa, tapi karakterisasi toh nggak sebatas hobi doang, yegak.

Si Nathan juga. Nathan ini tipikal karakter aku-bersikap-dingin-karena-hidupku-sangat-menderita. Tipikal “memang sinis, tapi ada sebabnya kok” super basi. Udah gitu konsisten banget pula “sinis”-nya, nyaris persis kayak Nata di Refrain, yang mana bukan sesuatu yang saya harapkan. Yah, emang siapa sih yang selalu sinis 24/7 di kehidupan nyata ini? Emang siapa sih yang selalu berapi-api 24/7 di kehidupan nyata ini? Temen kalian yang sinis-sinis itu (kalo ada, bahkan) sebenernya kalo diliat frekuensinya cuman sekali-sekali aja sinisnya, nggak tiap kalimat yang keluar dari congornya itu sinis-sinis semua. Never mind that, can everyone just stop writing karakter sinis into their story instead?

Bagaimana dengan Nadya, si perempuan tangguh kita, dan Sarah, si cewek yang benar-benar pemalu itu?

LOL. Kalo mau jujur sih eksistensi mereka kayak angin lewat aja buat saya. Padahal mereka punya konflik masing-masing, lho, which is a good point. Nadya harus nerima kalau dia ga bisa juggling semua hal dalam satu waktu, Sarah mesti berani mengekspresikan diri. Cukup okelah, dan lumayan established juga, cuma yah hasilnya berasa “oh” aja gitu di saya. Sama nasibnya kayak karakter-karakter di Our Story-nya Orizuka. It’s okay, it’s potential, but it still doesn’t get to me, and I don’t think it ever will.

Tapi saya suka lho interaksinya Caraka dan Nathan. Dorama live-action abis emang, penuh dialog-yang-tidak-real banget emang, kadang suka bikin saya pengen memutar bola mata dengan sangat antusias emang, dan di kadang yang lain suka bikin saya meringis saking cringeynya emang; tapi saya cukup menikmati entah kenapa. Kayak, saya tau ini tuh hubungan mereka fiktif abisnya terlalu ketara banget, tapi somehow asik juga ya ngikutinnya lho gimana ya ini???

Ya. Beneran deh. Saya masih takjub saya bahkan ga bisa membawa diri saya untuk maki-maki seperti biasanya di book murder ini. Ampe mau saya kasih tiga bintang nih di Goodreads saking segitunya. Beneran lumayan asik dibaca dan saya beneran cuma bisa mingkem.

Tapi tenang saja, bagi kalian yang sumber penghiburannya di dunia yang nestapa ini adalah menyaksikan orang lain maki-maki dengan sepenuh hati, nantikan book murder saya berikutnya: Sunshine Becomes You by Ilana Tan.

Advertisements

2 thoughts on “Book Murder: Let Go by Windhy Puspitadewi

  1. Gua baru aja baca beberapa review lo (Antalogi, Our story), isinya (hampir) maki2 semua yak? Entah knp gua malah suka dan setuju HAHAH. Dan di review Let Go ini, gua bersyukur, lo ngga maki2 novel kesukaan gua wkwk. Gua suka cara penulisan lo, lo kritis dan juga objektif, tanpa terpengaruh sama pendapat orang lain yg suka buku itu. Kalo boleh review Eleanor & Park dong, gua mau tau apa cuma gua yg ngerasa kalo tuh novel biasa aja xD

    Like

    • Hahaha makasih! Nanti kubaca deh Eleanor & Park, tapi mungkin nanti reviewnya di Goodreads, soalnya review-review di blog ini lebih nyasar buku-buku YA lokal aja (karena aku sungguh ~peduli~ kondisi YA lokal lol). Thanks anyway!

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s