Book Murder: Ai by Winna Efendi

(Omatase shimashita)

Selepas membaca Refrain, saya langsung lanjut baca Ai (tapi bantainya baru sekarang. Ya. Memang.) Saya kira saya akan membaca sesuatu yang buruk, mengingat Ai ini justru terbit sebelum Refrain. Dan sudah merupakan rahasia umum di dunia: tulisan-tulisan pertama kita bloonnya bisa bikin yang baca mati berdiri. Siapapun entitas malang kurang kerjaan itu.

Refrain yang saya anggap sebagai karya gagal bikin saya mega-skeptis ama Ai, tapi tentu aja tetep saya baca. Saya kan tangguh, selain emang maso dan haus bahan caci-maki aja.

Betapa kagetnya saya ketika menemukan bahwa Ai punya tone yang agak lebih serius ketimbang Refrain bahkan dari halaman-halaman pertama.

“Wow,” saya berdecak terpana. “Winna Efendi wrote this?”

Saya nggak bercanda. Saya beneran kaget soalnya gaya bahasanya gaya terjemahan gitu (yang merupakan gaya saya abis, omong-omong). Dibandingkan dengan Refrain yang dibuka dengan Niki dan Nata yang ngoceh soal siapa-ya-yang-jatuh-cinta-duluan-di-antara-kita, Ai terasa seperti kembang tahu yang dijual sebelah Indomaret Kober yang baru kemaren-kemaren saya cobain.

Dengan kata lain: “Loh, kok lumayan???”

Yah.

Seenggaknya begitulah kesan pertama yang saya dapatkan.

Seperti hal-hal lain di dunia, tentu saja, kesan pertama bukanlah sesuatu yang definit.

Entah sejak halaman berapa, saya mulai merasa diperlakukan seperti pembaca idiot yang akan menelan bulat-bulat apapun yang ditulis oleh si nyonya penulis.

Ai bercerita tentang persahabatan antara Ai, Sei, dan Shin. Aslinya sih cuma Ai dan Sei aja yang sahabat-sejak-kecil-alias-osana-najimi, persis seperti Niki dan Nata di Refrain, namun kita punya cowok pindahan dari Tokyo bernama Shin yang kemudian menjadi orang ketiga di persahabatan itu, persis kayak Anna di Refrain. Luar biasa emang kreativitas Winna Efendi ini, menghasilkan dua novel yang bak pinang dibelah dua di tahun yang sama. Wah, pasti menguras tenaga dan akal pikiran banget.

Sebagaimana cerita-cerita tentang persahabatan pada umumnya, saya gagal melihat sebelah mana sebenarnya letak “persahabatan” yang diagung-agungkan si penulis. Nggak tau ini cuman saya aja apa gimana, tapi di cerita yang bawa-bawa tema persahabatan biasanya nyaris selalu terkesan nggak meyakinkan soal persahabatannya sendiri. Kayak Refrain kemaren, atau Antologi Rasa yang laughable abis itu. Ai pun gak jauh beda. Persahabatan yang saya liat antara Ai, Sei, dan Shin kayaknya cuma sebatas mereka diceritain nyambung banget dengan satu sama lain dan kalo ngobrol bisa ampe ngobrolin apa aja.

Emphasis on “diceritain”.

Yes.

Diceritain doang.

Tau kan, yang tinggal deskrip “kami membicarakan banyak hal… membuat kami tertawa… kami begitu asyik ngobrol…”

Dasar penulis pemalas.

Singkat cerita, mereka lagi masa-masanya milih kuliah. Shin milih Todai—Tokyo daigaku, that’s University of Tokyo for you—karena dia pengen balik ke Tokyo. Dan Ai, remaja perempuan bloon kita yang masih mikir bersahabat berarti selalu bersama selamanya dan gak rela pisah ama Shin, punya ide gila untuk pengen daftar Todai juga. Ai ini emang luar biasa, perangai dia bikin saya mikir masuk Todai bakal segampang ngerebus air. Sei tadinya mau lanjut universitas lokal aja kayak kakaknya, namun akhirnya dia ngekor juga milih Todai setelah dibujuk Ai.

Dengan ketiga-ketiganya ngedaftar di Todai, yang omong-omong merupakan universitas top di Jepun sana, tentunya logis dong kalau saya berharap bakal ada segundukan masalah selama mereka berjuang buat keterima, seperti yang dialami karakter utama di film Biri Gal yang targetnya Keio University. Logis dong kalau saya mengharapkan perjuangan ini akan diceritakan secara dramatis dalam sekian bab.

Logis lah ya.

Tapi tentu saja, Winna Efendi bukan penulis yang peduli soal ginian. Perjuangan masuk Todai bukanlah sesuatu yang penting. Nggak. Di dunia rekaan Winna Efendi, keterima di Todai emang segampang ngerebus air. Nggak, nggak perlu sekian bab buat nyeritain ‘perjuangan’ mereka buat keterima di Todai. Cukup tiga paragraf aja dan langsung lompat ke hari pengumuman setelahnya tanpa perlu nyeritain hari H-nya, di mana kita menemukan ternyata mereka keterima ketiga-tiganya. Segampang ngerebus air. Dunia emang seindah itu.

Percayalah, saya nggak bakal se-picky ini kalo universitas yang dituju itu bukan universitas top nasional di Jepun sana. Dan sebenernya saya juga heran kenapa dari sekian pilihan universitas di Tokyo, harus Todai banget, sementara dari yang diceritain penulis dari awal, ketiga karakter ini kayaknya nggak ada yang terlalu menonjol wah banget academically. Terlebih lagi setting awalnya ini daerah pedesaan gitu, yang omong-omong gak jelas juga di mana pokoknya deket laut lah, entah Jepang sebelah timur atau barat. Dan logika saya membisikkan bahwa persaingan di sekolah-sekolah non-kota harusnya bakal lebih chill dan nggak sekompetitif itu. Sotoy aja sih saya, tapi bisa diterima lah ya *maksa*. Ini kan kayak gimana proporsi mahasiswa UI lebih condong ke yang berasal dari Jabodetabek.

Tapi ternyata nggak cuman keterima Todai yang segampang ngerebus air. Di dunia rekaan Winna Efendi, hidup merantau di Tokyo juga segampang cuci kaki.

Saya, sebagai weeaboo-weeabooan, udah lumayan paham lah harusnya ngerantau di Tokyo itu gimana. Dan kebetulah banget pas saya baca ini, saya juga nontonin dorama yang juga tentang orang-orang yang ngerantau di Tokyo. Kayaknya udah merupakan fakta yang solid dan tidak terbantahkan kalau hidup di Tokyo itu ga gampang, apalagi buat mahasiswa yang ngerantau dari desa, meski di desa mereka punya bisnis restoran dan pemandian air panas sekalipun. Nggak mungkin pertama ke Tokyo bisa langsung hidup enak.

Tapi Winna Efendi mah bodo amat. Tau-tau aja trio kita bisa tinggal di apartemen dengan 2 kamar, dapur, dan ruang tamu. Entah dapet duit darimana, pokoknya apartemennya 2 kamar aja, dan mereka masih bisa langsung beli-beli perabot bahkan. Hidup mereka juga kayaknya woles-woles aja ga ada beban. Seolah-olah 3 mahasiswa tinggal di Tokyo DAN kuliah di Todai (plus ga mungkin ketiga-tiganya dapet beasiswa, terlalu ngimpi) ga punya masalah finansial yang perlu dipusingkan.

Enak bener ya hidup di dunia rekaan Winna Efendi. Saya juga mau.

Terus, Winna Efendi juga dengan entengnya ngebikin karakternya naik shinkansen sesering naik bus.

Siapapun yang ngebaca Ai pasti bakal ngira kereta di Jepang itu semuanya shinkansen. Beneran ngakak saya pas baca si Sei naik shinkansen dari tempat part-time-nya di Roppongi ke apartemennya. Apartemennya ceritanya sih masih di Tokyo, sekitaran 30 menit dari stasiun Tokyo. Tapi belah mananya Tokyo juga nggak jelas, yang jelas dari apartemen mereka bisa liat laut aja. Saya bukannya ngerti seluk-beluk Tokyo, pengetahuan saya toh hasil nonton dorama semua. Tapi gini… orang mana sih yang dari satu bagian Tokyo ke bagian Tokyo yang lain naiknya shinkansen?? Ini kan mirip-mirip kayak orang mana sih yang dari Gambir ke Bekasi naiknya Argo Parahyangan???

Dunia rekaan Winna Efendi emang daebak abis.

Satu-satunya konflik, dan beneran cuman satu-satunya, yang diangkat di Ai adalah soal cinta segitiga antara Ai, Sei, dan Shin.

Tentu saja. Konflik besar yang sudah pasti pernah dialami oleh kita semua: cinta segitiga dalam persahabatan. Yah, kecuali buat orang-orang yang terlalu sibuk mikirin diri sendiri kayak saya.

Ai dan Shin saling mencintai, dan tentu saja Sei yang tertinggal di belakang cuma bisa ngarep ama Ai. Dan yang menjadi kegagalan kesekian Winna Efendi, dari sekian banyak kegagalan dia, adalah saya sebagai pembaca nggak bisa liat bibit-bibit cinta antara Ai dan Shin. Di satu sisi ini mungkin karena bagian pertama bukunya diceritain dari sudut pandang Sei, di sisi lain mungkin karena Winna Efendi emang payah aja. Haha. Saya beneran nggak bisa konek ama siapapun karakternya, jangankan ngedukung salah satu dari mereka.

Jadi bukan salah saya pas ada adegan Shin ngelamar Ai di Tokyo Tower padahal buku belum separuh jalan, saya malah meringis jijik.

Apa-apaan.

Mahasiswa perantauan, belum diceritain lulus, udah main tunangan aja.

Aku tau kamu teenlit bego-begoan tapi jangan setega ini juga lah….

Membaca Ai membuat saya benar-benar merasa diperlakukan seperti pembaca yang bakal manggut-manggut aja penulisnya terserah mau bilang apa, yang bakal hah-hoh-hah-hoh doang. Oh, ini ada karakter dari Tokyo. Oh, ini mereka mendadak mau kuliah di Todai. Oh, ini mereka pokoknya udah keterima aja di Todai. Oh, ini mereka akhirnya tinggal bareng di Tokyo. Oh, ini mereka hidup biasa-biasa aja di Tokyo, ga ada kesusahan atau apa. Oh, Todai apaan? Nggak, nggak, Todai udah nggak penting, sekarang Ai ama Shin udah tunangan dan Sei patah hati. Ini yang penting sekarang.

?????????????????????

Sebagai pembaca yang bisa berpikir dan terlalu gampang sewot soal kelogisan cerita (teenlit), saya merasa terhina.

Belum pula soal karakter. Wah, karakter.

Kenapa ya kok ORANG-ORANG hobi banget menokohkan karakter utama perempuan mereka sebagai seseorang yang MUNGIL? Ya ngerti sih sebisa mungkin karakter utama dibikin se-likable itu tapi ya plis deh, dikira kita-kita orang peduli amat apa soal deskripsi fisik karakter novel kalian?

(Taunya orang-orang selain saya emang pada imajinatif semua dan cenderung bergantung ama deskripsi fisik karakter)

(Yah, saya sih nggak. Gunung Kilimanjaro bahkan lebih aktif ketimbang imajinasi saya)

Dan kenapa juga ORANG-ORANG hobi banget menokohkan karakter utama perempuan mereka sebagai seseorang yang CERIA? Kayak nggak ada trait lain yang bisa dipilih selain CERIA.

Bau-bau Ilana Tan abis deh ini Winna Efendi. Karakternya bahkan lebih generik ketimbang Paracetamol saya.

Niki di Refrain beneran mirip Ai. Nyebelinnya pun sama, kekanak-kanakannya juga. Mungkin bedanya ada di Ai lebih sering dideskripsikan bermata bulat besar aja.

Sebenernya, kalau saya harus bersikap adil, Winna Efendi sudah berusaha untuk membuat Ai terkesan agak lebih substansial dengan membunuh emaknya (yang omong-omong, doi seniman Bali yang ceritanya FENOMENAL banget di Jepang sana. Makanya si Ai suka makanan pedes. Lah penting amat emang). Dan hubungan dia dengan ayahnya bisa bikin trotoar keramik di Margonda menghela napas lega karena ada yang lebih amburadul. Saya sih mau-mau aja mengapresiasi ini, tapi cara Winna Efendi mengeksekusinya bahkan gak mampu untuk bikin mata saya berkedip, apalagi membuat hati saya berdesir.

Sok lah sana bikin karaktermu sedramatis mungkin, punya masa lalu yang pekat dan kelamnya menandingi tinta cina, tapi plis lha jangan dijadiin trivia ga penting doang. Dibikin benang merahnya kek, apalah. Ini bahkan saya ampe cuma nganggep konflik di Ai itu cuma soal cinta segitiganya doang saking nggak berasanya hubungan-Ai-dan-ayahnya-yang-harusnya-adalah-suatu-konflik. Ya terang aja. Mana puas saya disuguhin konflik asal-di-permukaan macam gitu, yang dimention sekali, trus ilang di pertengahan, trus tau-tau nongol lagi di satu titik cuma buat langsung diselesain. Idih.

Sementara Shin dan Sei…

*berpikir keras*

*masih berpikir keras*

Wah, memorable abis mereka berdua saya ampe cuma bisa inget nama doang. Karakter Harris di Antologi Rasa jadi terkesan semegah Severus Snape kalo dibandingin ama Shin dan Sei. Dan kedua-duanya sama-sama diawali dengan huruf S ini apakah suatu kebetulan yang tidak disengaja? W-o-w. Fishy.

Saya lebih jinak pas baca Ai ketimbang pas baca Refrain, murni karena gaya bahasanya—meskipun standar abis tanpa pesona yang berarti—sesuai dengan preferensi saya. Tapi hal itu tidak membuat ketololan-ketololan yang ada di buku ini jadi bisa lebih saya terima, macam ketiga karakternya keterima Todai dengan terlalu gampang, kehidupan mereka di Tokyo yang saking santai dan tanpa ombang-ambingnya bikin saya curiga sebenernya bukan Tokyo itu settingnya, tapi Jatinangor tahun 2011-2012 (yang omong-omong emang affordable abis. Good times. Gak tau sih sekarang), Shin ngelamar Ai pas mereka bahkan ga ada dibilang udah lulus kuliah…

Dan ketololan-ketololan lainnya yang saya udah lupa.

Takjub saya ama Winna Efendi. Payahnya kok gak abis-abis.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s