Descendants of the Sun

Saya gampang banget obsesi ama fiksi. Orang-orang boleh cerita semiserable apa hidupnya ama saya atau pamer seunyu apa dia ama pacarnya, tapi persetan, saya gak peduli. Saya orang yang paling nggak empatik sedunia, bodo amat kalo ada orang beneran di sekitar saya habis mendapatkan pengalaman hebat tragis masif terencana dan semacamnya. Bodo. 15 menit kemudian paling juga saya udah lupa dan kembali hanya memikirkan diri sendiri.

Beda ceritanya kalo cerita yang sedang saya terima itu datangnya dari novel, komik, serial TV, atau film.

Biasanya kalo ceritanya captivating banget dengan karakter yang likable, saya bisa memupuk obsesi tersendiri, yang bisa bertahan dalam rentang waktu beragam. Paling sial sehari, dan di waktu-waktu super langka bisa ampe bikin saya nonton/baca berulang-ulang dan gatel pengen sharing ke seisi dunia.

Hadirin sekalian,

Sambutlah,

Drama Korea terbaik tahun ini meski April saja belum habis, alias tahun 2016 baru banget masuk kuartal kedua, karena saya memang senang seenaknya saja kalau ngasih title:

(selanjutnya akan saya singkat sebagai DOTS)

*acrobatic leaps onto the bandwagon*

Diam-diam saya bersyukur saya nggak ngikutin serial ini dari awal, dan baru menyerah pada desakan-desakan kakak saya yang minta saya nontonin ini pas akhir pekan lalu, ketika episode terakhirnya udah tayang dan komplet bersubtitle di KissAsian. Salah satu kenikmatan dunia menurut saya adalah maraton serial TV semalaman. Ugh, the feels. Bakal berkali-kali lipat lebih nonjok dibanding nonton seminggu sekali. Sugoku daebak.

Saya tidak menyesali keputusan impulsif saya untuk mulai nonton DOTS jam 12 malam, maraton ampe besok siang/sore. Pokoknya saya tidak menyesal. Berkat nontonnya maraton, sekarang saya punya obsesi baru yang bikin saya lebih bersemangat menyambut kehidupan saya yang sangat pahit setiap bangun tidur. Siapa yang butuh alkohol/narkoba kalau maraton serial aja udah cukup bikin saya mabuk kepayang dan melupakan lelah dan penat akibat penderitaan tiada akhir dari menjalani peliknya hidup ini???

Awalnya saya, tentu saja sebagai entitas suci yang mengklaim dirinya kritis sekaligus judgmental, tidak teryakinkan dengan premis DOTS:

“This story tells of doctors stationed in the fictional war zone of Urk (Uruk), and follows the love story that develops between a surgeon (Kang Mo-yeon) and a special forces officer (Yoo Shi-jin), both elite in their respective fields. The story will track both their personal and professional struggles while exploring issues about the value of life.”

Respon saya: Bah, militer.

Saya ini tipe orang yang meski tahu dunia memuja-muja film anu atau anu atau anu sebagai film terbaik top 250 IMDB dsb., selama settingnya perang dunia dan melibatkan tentara dan baku tembak dan semacamnya, saya bakalan tetep ogah nonton. Bodo amat dibilang I’m missing out a lot in life. Seantipati itu pokoknya saya ama cerita perang-perangan. Makanya nih saya ga kelar-kelar baca Slaughterhouse Five, padahal aku kan ingin juga terlihat hip dan dianggap melek sastra klasik dunia serta ditakuti warga sekitar, “Wuih satir bacanya Vonnegut.” Mungkin karena secara subconscious saya menolak menerima kenyataan bahwa hal tidak nyaman dan mengerikan seperti peperangan pernah terjadi di muka bumi ini kali ya.

Ya, pokoknya itulah alasan saya nggak tertarik ama DOTS pada awalnya (meski tiap saya liat posternya saya selalu diam-diam mikir ini si cowoknya diliat dari rambutnya kayaknya cakep. Tapi saya punya dignity, saya tidak semurah itu!). Udah mah bawa-bawa militer, pake nyantolin cerita soal dokter relawan pula. Huwek, terlalu humanitarian untuk orang egois dan self-centered macam saya yang lebih senang berdebat dengan diri sendiri apakah pagi ini saya mending sarapan nasi uduk atau nasi kuning ketimbang mengkhawatirkan nasib para pengungsi Suriah. Jangankan mengkhawatirkan, tiap ada tweet berita soal itu aja saya langsung deliberately dismiss the information, meski informasinya cuman judul berita doang.

Tapi kemudian kakak saya ikutan nonton, dan karena kakak saya adalah salah satu figur berpengaruh dalam hidup saya (selera saya sebagian besar dibangun berdasarkan rekomendasi-rekomendasi kakak saya), saya nonton juga akhirnya.

Luar biasa, adegan pembuka di episode pertamanya bahkan sama sekali tidak berusaha untuk memikat orang-orang ogah-nonton-perang-perang kayak saya (adegannya duel sengit antara tentara Korsel vs Korut). Tapi saya sempat nyengir sih pas ada yang call sign-nya Harry Potter. Way to win my attention, scriptwriter.

Terus settingnya ganti dan kita langsung mendapati kedua male lead di luar seragam militer mereka sedang meluangkan waktu liburan dengan menangkap copet menggunakan senapan mainan.

Di titik ini, saya sudah berhenti menjadi kritis dan judgmental seperti biasa, dan memutuskan untuk menerima Song Joong Ki dengan tangan terbuka.

Bye, dunia.

Lupakan kalau aku pernah hidup. Menumbalkan diri pada karisma Song-Joong-Ki-sebagai-Captain-Yoo-Si-Jin terdengar lebih menarik ketimbang “hidup”. Dah. Senang sempat mengenalmu.

Saya punya standar tersendiri untuk memutuskan apakah suatu pairing layak untuk saya puja sebagaimana Helga memuja Arnold (level pemujaan tertinggi versi saya). Nggak banyak yang lolos sih. Saya bahkan cuma bisa recall dua pairing, saking absurd dan gak objektifnya standar saya: 1) Jessica-Marcus (Jessica Darling series), dan 2) Jesse-Celine (Before trilogies). And if I can get away with non-romantic pairing: Shindou Hikaru and Touya Akira from Hikaru no Go, because I love their rivalry just—too—much. Oh, sama Hong Seol dan Baek In Ho-nya Cheese in the Trap versi drama, deh. Although I don’t really want them to end up together.

But anyway, sesusah itu pokoknya biar suatu pairing bisa saya puja habis-habisan dan benar-benar melekat di benak saya. Saya bukan orang yang bakalan terbuai cuma karena ada adegan romantis slow motion ketika si couple ini bertukar pandang untuk yang pertama kali, atau pas Si Pangeran menyelamatkan Si Putri Tak Berdaya dari suatu marabahaya. Adegan kayak gini biasanya bukannya bikin saya ngeship couple itu, malah bikin saya mengapresiasi para kru di balik layar dan mikir gimana caranya mereka tau ngedit adegannya harus begini, pake cut yang ini, musik/sound effectnya begini dsb. yang pokoknya malah bikin saya pengen belajar tentang perfilman dan storytelling alih-alih turut merasa berbunga-bunga.

Jadi saya selalu ngambil rute interaksi. Nggak ada yang lebih pamungkas buat nentuin ini pairing layak dihorein atau nggak selain interaksi antarkarakternya. Interaksi ya, bukan apakah dialognya superromantis dan semacamnya. Nggak ada yang bikin saya lebih ga nyaman dari mendengar seorang karakter mengutarakan cheesy lines… Apalagi kalau penyampaiannya super datar. Horor.

Dan memang DOTS luar biasa, baru satu episode saya kelarin dan saya udah ngeship pairing utamanya, Yoo Si Jin (si tentara) dan Kang Mo Yeon (si dokter), habis-habisan. Serius habis-habisan. Gila ya. Beneran luar biasa. Saya terharu banget. Chemistry yang sulit dipercaya. (#akutidaksedangsarkas)

Kalau ada yang saya sebelin dari plot cerita romantis kebanyakan, itu adalah seringkali pairing utamanya hobi banget main petak umpet dengan satu sama lain. Tarik-ulur, tarik-ulur. Sengajaaaa gitu dilama-lamain sebelum keduanya “setelah a long series of ngambek-ngambek dan cemburu dengki ga jelas, mereka akhirnya dapat meng-embrace satu sama lain secara terbuka dan bersatu.” Itu baru bersatu lho ya, belum ngomongin masalah yang muncul setelah mereka bersatu. Trik kotor buat manjang-manjangin cerita, ampuh dipakai kalau kamu sedang nyusun naskah sinetron.

(Yah, serba salah juga sih. Kalau karakternya kecepatan hit it off-nya, biasanya saya sebagai audiens malah ga bisa konek dan jadi ga bisa ngedukung mereka.

Pada dasarnya saya memang banyak protes.)

Tapi, bagusnya, DOTS tidak seperti cerita romantis kebanyakan.

Saya paling seneng sama pairing yang jujur dengan satu sama lain. Less drama, bikin rileks nontonnya. Makanya saya terharu banget pas Yoo Si Jin langsung blak-blakan aja gitu ama Kang Mo Yeon dari pertama ketemu, lancar jaya nggak pake kode-kodean sampah yang kalian-kalian anut. Kang Mo Yeon-nya juga, alih-alih merespon dengan sok-sok malu-malu atau jual mahal, dia merespon dengan keblak-blakan yang relatif setara. THIS, PEOPLE, THIS. This is how you all should carry your PDKT-ga-guna mission. Saya ngetik ini ampe dengan mata super berkaca-kaca karena saya seterharu itu. See, see there, see? They don’t make it difficult! I looove stories that have characters like this. Nggak ada keruwetan hubungan pasif-agresif yang gak pernah gagal bikin saya dongkol dan gak sabaran bukan main, yang biasanya selalu ada di cerita romantis kebanyakan. I know because I read a lot of shoujo mangas ok.

Pokoknya saya sudah memuja-muja Yoo Si Jin dan Kang Mo Yeon sejak episode 1. They’re the saikou.

Yah, ada satu lagi sih pairingnya. Cuma karena yang satu lagi ini hubungannya lebih complicated dan lebih punya sejarah ketimbang pairing utama kita yang baru ketemu satu sama lain di episode pertama, saya tidak terlalu bersemangat. Lebih seru ngikutin hubungan yang baru mulai buat saya.

Cinta bangetlah saya cinta banget sama mereka berdua ini.

Terus ya yang menyenangkan dari nonton DOTS, tidak seperti yang saya sangka pada awalnya, mereka menyampaikan elemen-elemen lain di ceritanya dalam cara yang membuat penonton seperti saya tidak merasa terbebani. Saya emang males ama perang-perangan, tapi saya nggak ampe pengen skip pas pertama nonton, masih rela mengikuti dengan sepenuh hati. Saya juga males sebenernya pas DOTS bawa-bawa karakter antagonis yang punya bisnis gelap berbahaya, tipe-tipe drug dealer gitu cuman ini senjata. Saya udah kenyang ama film-film buatan negeri-di-belahan-dunia-yang-lain yang selalu bawa-bawa karakter begini buat bikin tegang cerita. Tapi gapapa, saya masih bisa nontonin kok, meski males-males bosen gimana gitu. Kayaknya ini hal yang paling sulit saya terima di DOTS deh, bagian antagonisnya datar abis. Tapi tentu saja saya maafkan HA HA HA HA aku memang luar biasa bias. Mereka bisa bikin antagonisnya seklise dan secheesy apapun dan saya akan tetap bilang DOTS adalah drama Korea terbaik tahun ini cuma karena ada Yoo Si Jin dan Kang Mo Yeon di dalamnya, hmph.

Yang paling menyenangkan nomor dua, dan yang bikin saya ga bisa berhenti nonton dan ngeklik next episode, ketika DOTS mencoba kocak, saya selalu bisa ngakak-ngakak ampe kehabisan napas. Mau udah nonton ulang berapa kali pun, setiap saya tiba di adegan komedinya saya selalu bisa ketawa, ampe perlu pause segala bahkan. Drama Asia memang suka ajaib dalam hal beginian. Drama lain yang juga gak pernah gagal bikin saya ketawa setiap saya nonton ulang adalah Hana Kimi versi tahun 2007. Sebenernya sebelum saya memutuskan untuk nonton, saya sempat tanya kakak saya DOTS komedinya banyak atau nggak, dia cuma jawab “Ada kok.”

Cih.

Penipuan besar-besaran.

Apaan “Ada”, ini mah udah level “Oh DOTS emang komedi sebagaimana Hana Kimi adalah komedi.”

Tapi mungkin buat saya aja sih. Militer-militer dan medis-medisnya sebenernya tetep ada di setiap episode, tapi karena komedi merupakan suatu hal yang salient bagi saya, saya secara sembrono menyimpulkan kalau DOTS adalah komedi (romantis) dan sengaja mengabaikan elemen lain.

Saya memang reviewer yang dapat dipercaya.

Yang paling menyenangkan nomor satu tentunya Yoo Si Jin dan Kang Mo Yeon. *tangis haru merebak* Mau berapa kali ya saya bilang kalau saya Cinta, dengan C besar, banget ama pairing ini? Kayaknya dari awal entri ini dimulai itu-itu mulu saya bilangnya. Sampe saya ngetik ini saya udah dua kali lho nonton ulang DOTS, padahal saya baru pertama kelarin hari Minggu kemarin. Dua kali nonton ulang demi menikmati adegan-adegan Yoo Si Jin dan Kang Mo Yeon bersama. Racun macam apa ini.

Segala banter antara mereka berdua sungguh menyenangkan untuk ditonton dan meninggalkan kesan yang begitu mendalam, sebagaimana banter antara Jessica-Marcus dan Jesse-Celine buat saya. Flirting-flirtingnya Yoo Si Jin juga astagfirullah saya gemas tiada dua. Karismanya menguar-nguar banget setiap dia interaksi ama Kang Mo Yeon ugh sungguh tidak adil bagi jiwa yang rapuh lagi murah ini. And what I love the most is that they make it look so natural and casual, jujur tanpa pretensi dibuat-buat.

Gimana saya jadi gak obsesi coba? Gimana saya gak nyembah-nyembah mereka kayak Helga nyembah-nyembah Arnold coba??

Tapi ketika DOTS harus serius, penyampaiannya tetep oke. Yah, meski adegan-adegan serius itu selalu saya skip setiap saya nonton ulang (saya nonton ulang cuma buat adegan Yoo Si Jin dan Kang Mo Yeon, ingat?). Dan ketika DOTS harus heartbreaking, ya heartbreaking abis. Berulang kali saya nonton ending episode 7, berulang kali juga saya ikutan merasa patah hati. Ugh, Song Joong Ki membawakan perannya sebagai Yoo Si Jin dengan sangat baik. Sasuga Song Joong Ki-sama. Daebak. Huhu Song Joong Ki mailaff.

Hih. Saya harus berhenti sebelum saya mulai menghabiskan beralinea-alinea tentang betapa suaranya Song Joong Ki kelewat memabukkan di setiap suasana.

Descendants of the Sun pasti punya kelemahan. Mungkin bagian militer atau medisnya nggak cukup realistis buat sebagian orang, atau mungkin ada adegan tertentu yang bertentangan dengan apa yang terjadi di kehidupan nyata, tapi kalau kalian tanya saya, ya:

Bodo amat.

Ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha.

Bodo.

Descendants of the Sun telah memperkenalkan saya dengan pairing luar biasa Yoo Si Jin dan Kang Mo Yeon, yang mana kehadiran mereka tidak pernah gagal membuat saya merasa antusias dan berbahagia bahkan sejak kali pertama kedua karakter ini bertemu. Pairing ini benar-benar sampai melekat di benak saya, menemani Jessica-Marcus dan Jesse-Celine yang harusnya udah sangat kesepian sebab dari bertahun-tahun saya mengonsumsi berbagai cerita, ujung-ujungnya saya tetap kembali pada dua pairing abadi itu dan menolak untuk memperamai batalion. Yah, tentunya sampai saya menonton Descendants of the Sun.

Pairing romantis abadi yang saya junjung setinggi Helga menjunjung Arnold sekarang jadi ada tiga: 1) Jessica-Marcus, 2) Jesse-Celine, dan 3) Yoo Si Jin dan Kang Mo Yeon. Batalion saya akhirnya rame dikit. Saya punya bahan obsesi lebih banyak yang dapat membantu saya merasa lebih bersemangat menelan segala kepahitan hidup dan membuat pikiran-pikiran depresif saya terangkat sewaktu-waktu. Saya jadi merasa jadi lebih gampang damai dan bahagia. Semuanya cuma karena saya punya tambahan satu pairing romantis abadi: Yoo Si Jin dan Kang Mo Yeon.

PEDULI APA SAYA KALO DESCENDANTS OF THE SUN PUNYA KELEMAHAN-KELEMAHAN TAK TERMAAFKAN?

Thanks.

PS: Ayo nonton DOTS dan ikut memuja Yoo Si Jin dan Kang Mo Yeon bersamaku.

PPS: Soundtrack DOTS yang ini sangat meng-induce kedamaian lho ayo dengarkan. Tonton dramanya dan repeat one soundtrack yang ini seperti yang sedang kulakukan ok.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s