Book Murder: Refrain by Winna Efendi

Susu kedelai unsweetened yang saya beli tempo hari lalu, yang sebenernya super hambar itu, masih jauh lebih berasa daripada cerita di novel ini.

Alkisah, tersebutlah sepasang BFF bernama Nata (cowok) dan Niki (cewek). Nama yang kompakan sama-sama dari N ini cuma kebetulan, kok, bukan karena intensi terselubung penulis yang sebenernya udah ngejodohin mereka berdua dari awal. Mereka udah sahabatan dari kecil, deket bangetlah pokoknya. Rumahnya juga satu komplek, seberangan malah kalo saya nggak salah inget.

Tentu saja, sebagaimana novel-novel dangkal pada umumnya, kedua karakter yang ceritanya sahabat sejati ini kepribadiannya harus bertolak belakang. Niki sebagai karakter happy-go-lucky optimis tipikal, dan Nata sebagai karakter sinis pesimis tipikal. Dan tentu saja, sebagaimana taktik novel remaja sekolahan pada umumnya, harus ada karakter anak pindahan sebelum ceritanya jalan. Di Refrain, karakter anak pindahan itu adalah Annalise, atau sebut saja Anna.

.

.

.

Fine, I’ll save you the time.

This book is CRAAAAAAAAAPPPP.

JUELEK. BUANGET.

Nggak cukup cuma ceritanya yang klise anying, karakter-karakternya juga tipikal karakter template semua. Tau kan, karakter-karakter nggak bernyawa yang dime-a-dozen cuma beda nama doang. Like those Ilana Tan is famous for. Hanya saja—saya nggak percaya saya bakal bilang gini—Ilana Tan mengeksekusi segalanya agak mendingan.

GODDAMN DID I REALLY JUST SAY THAT!?

*merinding*

Horor abis masa depan teenlit Indonesia.

Jujur aja ya, sebenernya saya masih bisa ngakak-ngakak pas awal-awal cerita. Misalnya pas tau-tau ada dibilang soal liburan musim panas 2 bulan padahal ini cerita settingnya di Jakarta, saya masih ngakak. Atau pas si Anna pas pertama kali ketemu Danny, abangnya Nata, tau-tau dapet hunch “Cowok tadi… pasti menyimpan sebuah luka yang kelam.” Padahal baru ketemu doang lho, papasan nggak penting yang nggak pake ngobrol gitu. Itu saya beneran ngakak, sumpah.

Saya tau kok novel yang saya baca ini adalah novel bego-begoan, jadi saya udah berjanji sama diri sendiri kalau saya nggak bakal serius-serius amatlah bacanya. Paling saya ketawain aja kalau ada yang bego. Ketawa menghina.

But then this crap surprised me.

Saya udah nggak bisa ketawa. I no longer can take it as a joke.

It’s a friggin disaster.

Entah sejak kapan dan di bagian mana, tawa menghina saya lenyap diganti amarah dan hasrat tak tertahankan buat ngebanting buku ini. Yang tadinya saya kira bisa saya anggap sebagai dagelan, ternyata menjelma menjadi sesuatu yang ofensif.

Asli separah itu.

Ini saya bahkan masih kelimpungan dengan emosi campur aduk ga tau mau ngebantai dari belah mana dulu.

  • PLOT

Saya nggak apa-apa sama plot klise, beneran deh. Saya pengertian, kok. Nggak apa-apa kalau emang nggak mampu merancang kerangka baru dan cuma bisa bergantung sama formula yang udah ada, serius gapapa. It’s oke. It’s not entirely your fault for being born with such limited capabilities. Syadzwina mengerti, Syadzwina penuh belas kasih. Ya menurut kalian kenapa coba saya bisa tahan baca sekian shoujo manga yang sebenernya ceritanya cuma muter di situ-situ aja? Atau betah baca buku-bukunya Rick Riordan?

Tapi mbok ya seenggaknya tau diri dikit kek, usaha dikit kek. Dengan plot seklise itu, sepredictable itu, o mbak penulis yang baik, o Winna Efendi yang baik, tidak bisakah kamu menebusnya dengan penceritaan yang layak dan tidak seenaknya saja?

Because, frankly, Refrain is such a huge, yurusenai, mess.

Mungkin karena pake sudut pandang majemuk (halah) (maksud saya multiple POVs). Suka digilir antara Nata, Niki, Anna, dan bahkan karakter minor lainnya kayak Danny (abangnya Nata) atau Klaudie (adeknya Niki) yang menurut saya malah nggak penting. Saya nggak paham buat apa karakter minor begitu perlu dikasih porsi segala, seiprit doang pula. Mending guna, lah ini kagak, cuma nambah-nambahin halaman dan berat-beratin memori pembaca doang. Maksud saya, ya trus kenapa kalo Danny udah putus ama Miriam? Trus kenapa kalo papasan ama Anna bikin Danny keinget Miriam dan jadi “menguak luka lama”? Apa “luka lama” si Danny ini segitu pentingnya ke keseluruhan cerita he deserves his own POV? Emangnya bakal dieksplor segitunya soal “luka lama” ini? Nggak kan?? Dimention sekilas di percakapan aja pembaca juga udah bisa tahu kan??

Si Klaudie juga gitu. Guna ngasih dia porsi sudut pandangnya sendiri ketika dia bukan karakter utama itu apa coba? Saya nggak paham. Dia kan cuma muncul sebagai karakter yang selalu ngasih petuah bijak ke Niki tiap sesi curhat mereka. Apa bedanya coba dengan diceritain dari sudut pandangnya Niki? Apa cuma biar bisa ngasih tau pembaca “ada sesuatu yang aneh dengan Niki hari ini”? Atau biar bisa ngasih tau pembaca kalau “Oh. Kakaknya sedang jatuh cinta.”??

Nggak penting abis kan ya.

Itu baru soal sudut pandang dari karakter minor. Rotasi dari satu sudut pandang ke sudut pandang lain juga nggak rapi, nggak nyaman dibaca. Dan yang paling saya nggak suka, di satu bab sudut pandangnya bisa ganti-ganti, ala-ala Antologi Rasa gitu. Jadi beberapa kali saya akan membaca cerita dari sudut pandang Anna sebanyak 4 paragraf sebelum kembali ke Nata lagi. Ngeselin nggak sih? Dan nggak cukup cuma itu doang, tiap ganti sudut pandang biasanya suka ada headlinenya gitu, formatnya gini:

Wish #13: Blablabla (Annalise)

Dan sesekali digabung sekaligus dua atas-bawah kayak gini:

Wish #n: Blablabla (Niki)

Wish #n+1: Blablabla (Oliver)

Atau malah kayak gini:

Wish #99: Blablabla (Niki dan Nata)

YANG SEBENERNYA NGESELIN BANGET.

MAKSUDNYA DIBIKIN KAYAK GITU ITU APA SIH? DIGABUNG-GABUNG GITU?? DIKIRA NGGAK NGEBINGUNGIN APA???

Kesel saya.

Dan yang lebih bikin saya kesel lagi, Winna Efendi ini nggak niat nyusun layer ceritanya. Semuanya asal main ditumpuk-tumpuk aja. Ujug-ujug ada subplot A, ujug-ujug ada subplot B. Saya inget saya beneran marah banget pas ngebaca chapter ke-sekian yang dibuka dengan kalimat “Deadline lomba fotografi tinggal beberapa hari lagi.”

WHAT THE FUCK.

HOW DARE YOU.

HOW DARE YOU TO SUDDENLY TALK ABOUT DEADLINE LOMBA FOTOGRAFI WHEN YOU NEVER, TRULY NEVER BRING UP ANYTHING ABOUT ANY LOMBA FOTOGRAFI BEFORE. HOW DARE YOU, YOU FOUL, FILTHY PRICK.

Penulisnya minta digampar. Emangnya saya pembaca serendah apa, cuma disuguhi dengan penulisan super berantakan, serba tiba-tiba begini? Nggak sopan. Lancang ya kamu, Winna Efendi.

And then there’s also namedropping merek fesyun ternama.

  • KARAKTER

Everyone is horrible and nobody is likable nor relatable.

Persahabatan antara Niki, Nata, dan Anna itu dusta. Jangan tertipu. Yang sahabatan itu cuma Niki dan Nata aja, Anna cuma karakter tempelan lemah yang nggak guna, yang pertamanya dibikin naksir Nata biar ada bumbu-bumbu “sakitnya mencintai sahabat” aja tapi di ending ujug-ujug ama Danny gitu aja. Benar-benar karakter yang penuh kesia-siaan. Cerita tanpa dia juga bakalan sama aja.

Saya muak ama karakter kayak Niki, tipikalnya udah keterlaluan banget saya nggak tahan. Ceria, manis, MUNGIL (harus capslock karena mungil adalah fitur Niki yang paling prominent), naif, MUNGIL, optimis, MUNGIL, polos, pemaaf, MUNGIL, MUNGIL, MUNGIL.

Saya juga nggak kalah muak ama karakternya Nata yang SINIS, SINIS, SINIS, SINIS, SINIS, SINIS, tapi kalo ngomong nggak ada bau sinis-sinisnya sama sekali. Sinis hanya karena dia suka dideskripsikan ‘sinis’. Sinis gagal. Persis karakter-karakter Slytherin jejadian di IH.

Ngga deng, Slyth jejadian IH lebih maju selangkah.

Terus ada Helena, antagonis kita yang suatu hari akan nusuk Niki dari belakang, dan yang kemunculannya sebagai antagonis bikin saya pengen nangis histeris saking syok dan nggak nyangkanya ada penulis yang bisa seamburadul ini. Kayaknya semua rumus cerita remaja dipake ama doi tanpa tahu malu.

Kesimpulan dari membaca Refrain: Saya trauma sama Winna Efendi.

(Saya juga gak gampang kapok (dan senang maki-maki), oleh karena itu, next up on Book Murder: AI by Winna Efendi)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s