Book Murder: Our Story by Orizuka

Ngebaca blurb di kover belakang buku ini nyeret embel-embel “sekolah buangan”, saya udah suuzon kalo ceritanya bakal ke-Gokusen-Gokusen-an. Atau apalah, tipikal dorama-dorama sekolahan Japonais yang satu sekolah isinya preman semua.

Suuzon saya gak sia-sia.

Yasmine adalah siswa pindahan dari Amerika Serikat, pindah karena ibunya di Jakarta sedang sakit keras (sekarat, bahkan) sementara ayahnya tidak bisa ikut karena alasan kerjaan dan semacamnya. Pindahnya ke SMA Budi Bangsa, SMA buangan, karena orang suruhan teman ayahnya salah dengar Bukti Bangsa (sekolah internasional) menjadi Budi Bangsa. Jadilah Yasmine terdampar di sekolah yang isinya anak-anak tak punya masa depan. (Komentar saya: Betapa orisinil.)

Yasmine kemudian bertemu dengan Nico di hari pertamanya. Nico adalah ketua geng sekolah, siswa berandalan namun tampan (kalau saya tidak salah ingat), dan karena suatu alasan misterius mengancam anggota gengnya bahwa Yasmine adalah miliknya setelah mereka bertemu untuk pertama kali. Sebenernya ya, Nico akan terlihat impresif di mata saya kalau saja Orizuka:

1) Nggak pake deskrip kalo Nico doyan nenteng-nenteng tongkat baseball dengan gerakan mengancam. (Tongkat baseball? Di Indonesia? B-a-s-e-b-a-l-l? Di sekolah yang katanya buangan? *tertawa sopan* *tertawa sederhana* *tertawa indah* *tertawa permai*)

Dan, 2) nggak bikin catchphrasenya Nico itu, “Pengkhianat harus menerima akibatnya.” (*cek kover* Ini beneran bukan naskah dorama yang gagal tayang?)

Kemudian kita bertemu dengan Ferris, heroic cool guy kita. Ferris adalah satu-satunya karakter yang namanya aneh menurut saya. Anak uorang kuaya, tentu saja tampan, yang pindah ke SMA Budi Bangsa karena ingin memperbaiki hubungan dengan sohib lama (spoiler: psst, Nico, psst) yang rusak karena kesalahannya di masa lalu. Hashtag favoritnya adalah: #akuterlaluseringdikecewakanorangdewasa #akutidakakanpernahpercayaorangdewasalagi #selamanya.

Ada lagi Sisca, pecun kelas teri kita, dan Mei, pecun kita yang lebih beneran. Dan karakter-karakter yang tidak punya masa depan lainnya, seperti Harris. Bukan, bukan Harris Risjad. Ini Harris bawahannya Nico.

Novel ini, singkatnya, bercerita tentang bagaimana murid-murid ini menjadi berani untuk kembali bermimpi.

Ea.

Sebenernya, ya, Our Story ini lumayan dari segi penceritaannya, nyusunnya ya lumayan rapi lah. Saya terkesan, kok. Meski predictable abis buat saya yang doyan nonton dorama, unfolding of events-nya bisa saya kasih anggukan setuju lambat-lambat. Orizuka, tidak seperti penulis tertentu, juga masih berusaha agar karakternya nggak dangkal-dangkal amat. Misalnya pas bagian ujug-ujug si Yasmine ngaku anorexic. Atau pas bagian mengungkap fakta bahwa ibunya Mei harus operasi makanya dia jadi pelacur. Atau Sisca yang kurang duit buat bayar sekolah makanya melacur. Atau Nico yang bapaknya, ups, tukang madat, abusive, dan sekarang napi. Cukup kompleks ya, saya akui saya lumayan terkesan sama usaha memperdalam karakter ini meski usaha dalam mengemas segala kompleksitas karakternya hanya bisa saya beri bola mata yang berputar. Standar saya setinggi JK Rowling, adil banget emang.

Tapi tetep, bukan saya namanya kalo nggak bisa nemu sesuatu buat diomel-omelin dari suatu buku. Teenlit pula. *mendengus angkuh*

1) Karakter Yasmine ini nggak masuk akal. Saya nggak percaya aja ada orang emaknya koma sekarat trus… biasa aja gitu. Maksudnya, abis emaknya udah bangun ya udah aja gitu ga ngomong-ngomongin emaknya lagi sampe novelnya kelar. Apa sih ini nama kerennya? Plot device? Ya pokoknya itu, biar alasan Yasmine pulang dari Amrik ke Indonesia terkesan valid aja so this story could happen. Lah emangnya kelar koma nggak ada anuan yang perlu dikhawatirkan lagi gitu soal nyokapnya? Lagian koma karena kecelakaan apa sih? Kenapa emaknya abis koma malah sempet-sempetnya nyuruh Yasmine sekolah?? Misteri abis. Dan nggak cuman itu, cara Orizuka ngebawain si Yasmine ini juga nyebelin. Ya aku ngerti kamu sebenernya nggak mau sekolah tapi ngga mau emakmu khawatir okelah tapi apakah perlu ngemention itu untuk ngebuka sekian chapter berturut-turut. Si Yasmine-nya sendiri juga nyebelin, taulah tipikal karakter dengan kompas moral setegak Ka’bah, hobi ikut campur, sok pahlawan, senang membela kebenaran, dsb. Karakter-karakter yang tinggal sejengkal dari trope holier than thou

2) —yang juga menjadi alasan saya nggak suka sama Ferris. Ferris ini Yasmine versi cowok, percayalah. Cuma lebih doyan ceramahin orang dikit, yang makanya saya nggak suka. Nih ya, si Ferris ini ampe jualin mobilnya biar bisa bayarin Mei 7 juta sebulan, biar Mei nggak usah terima orderan lagi. Masuk akal nggak?? Our Story ini memberi ide yang salah tentang bagaimana dunia ini bekerja, cih. Daripada ngurusin biar temen yang pelacur nggak usah ngelacur lagi pake duit sendiri, mending u mastiin dia rajin check up dan mastiin dia selalu pake kontrasepsi. Itu kan pesan yang lebih berguna buat generasi muda. Jauh lebih berguna ketimbang membuat si Ferris concerned sama bagaimana “rok Mei yang pendek itu membuatnya risih” dan bagaimana Mei “kayaknya lebih cakep nggak usah dandan, deh.” Saya yang nggak dandan aja sebel denger komentar kayak gitu. Apa jangan-jangan emang sengaja karakter si Ferris dibikin kayak gitu, ya, biar mencerminkan kehidupan yang sebenarnya… Hm.

3) Untuk ukuran setting sekolah yang katanya buangan bobrok dan lain sebagainya, ada beberapa hal yang menurut saya kurang meyakinkan (selain perihal tongkat baseball Nino):

a) satu kelas 12 di sekolah bobrok isinya 30 orang? Nggak kebanyakan? Di benak saya ya kalo ada yang bilang sekolah buangan bobrok, yang kebayang di saya itu yang macam Laskar Pelangi yang sekelas cuman 10 orang;

b) ketika Harris bilang “Laen kali coba lo beli di Way Kambas”, yang terpikir oleh saya adalah ini: “Mz kamu terdengar terlalu intelek dengan namedrop Way Kambas yang saya yakin seseorang cuma bakalan inget kalau dia pernah baca RPUL cover to cover. You’re a preman in sekolah buangan bobrok, remember? You’re supposed to be stupid.”;

dan c) ketika Mei bilang kalau dia curiga si Yasmine anoreksia. Saya langsung skeptis dong, “Kok kamu bisa tahu tentang anoreksia?? Kamu kan tipikal pelacur bego yang lebih seneng baca buku yang ada gambarnya cuma biar nggak ngantuk? Kok kamu yakin itu anoreksia dan bukan eating disorderlainnya?” Tapi kemudian si Mei bilang kalau ada kenalannya atau apanya kliennya gitu yang pernah cerita soal anoreksia. Hmph, tentu saja saya masih tidak bisa teryakinkan. “Kok kamu bisa inget informasi setrivial itu? Kamu kan Bego (dengan B besar)??! Kok bisa-bisanya hal kayak ‘anoreksia’ nempel di otak kamu dan sampai bisa kamu recall padahal itu kan jargon medis?? Kok???!”

Di mata saya, karakter bego harus tetap bego sepanjang buku, kecuali kalau itu menyangkut hobi/skill spesial dia yang nggak guna/dsb. #akumemangjudgmentalluarbiasa

Oh, sama ini deh, terakhir,

4) Adegan unyu/romantis antara Yasmine dan Nino lebih sering bikin saya nggak nyaman dan pengen lempar bukunya ketimbang merasa doki-doki. Snippet:

“Gue tau lo pasti masih ada di sini,” kata Yasmine sambil tersenyum. “Makanya gue dateng pagi-pagi. Ini, sarapan dulu.”

Nino menatap Yasmine yang masih tersenyum, lalu kembali menatap kotak bekal bergambar Hello Kitty itu dan menerimanya. Yasmine segera duduk di depannya.

“Punya lo…?”

“Oh, gue? Udah makan,” jawab Yasmine cepat, membuat Nino mengangguk-angguk. Nino lantas membuka tutup kotak bekal itu, membuat Yasmine segera meringis. “Gue nggak bisa masak, sori ya.”

Nino menatap nasi putih beserta beberapa sosis goereng dibentuk gurita dan telur orak-arik yang ada di dalam kotak bekal itu, tapi tak lantas melahapnya. Ia menatap Yasmine lekat-lekat, lalu dengan sekali gerakan cepat, ia meraih kepala Yasmine dan mengecup dahinya.

Yasmine melongo parah sementara Nino segera asyik mengunyah sosis.

Alih-alih merasa doki-doki, saya malah dapet secondhand embarrassment pas bacanya. Satu-satunya adegan Nino/Yasmine yang membuat saya sampe aww, dan bahkan mungkin salah satu highlight dari buku ini, itu cuma pas Nino bilang gini: “Kenapa lo nggak pindah ke sini tiga tahun lalu?”

Trus udah. Gitu aja.

Mengecewakan, Our Story ini. Ya emang nggak separah itu sih, tapi nggak fantastis juga. 1,5 bintang lah, dengan pembulatan ke atas. Gapapalah jadi 2 bintang aja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s