Tentang Catcall dan Marah-marah

Sebagai perempuan yang sering jalan kaki dan lebih sering jalan kaki sendirian, mendapat catcall adalah hal yang cukup biasa buat saya. Biasanya catcall yang saya dapet itu bunyinya macam “Neng, mukanya kusut amat?” atau “Cewek, mau ke mana?’ atau bentuk perhatian ala-ala lainnya, atau sapaan-sapaan sederhana berbalut pujian, atau sapaan religius “Assalamualaikum, Neng.”

Perempuan-perempuan tertentu mungkin akan marah-marah dengernya. “Enak aja! Itu pelecehan! Pelecehan seksual terhadap perempuan!!!! Meski ngegodain doang tetep aja itu pelecehan seksual!!!??@!!!!!” Ya respon-respon berapi-api semacam itulah. Yang kalau dapet catcall langsung melotot dan negur galak, “Jangan kurang ajar, ya!”

Saya enggak.

Saya kalo dapet catcall biasanya langsung saya senyumin aja orangnya.

*kemudian dikuliahi panjang-lebar oleh aktivis-aktivis perempuani bahwa yang saya lakukan sebenarnya justru meng-reinforce kebiasaan catcall mereka*

Ya.

Mendapat catcall memang tidak menyenangkan dan bikin risih. Ngerti kok saya.

Tapi gimana dong ya, I just can’t help to think that being angry doesn’t really help the case. Makanya tiap baca artikel-artikel penuh passion di internet tentang bagaimana catcalling is a big NO-NO dan blablabla yang pokoknya isinya ingin menyadarkan masyarakat dan marah-marah terselubung dan memprotes segala macem, saya malah mendengus tertawa.

Apa sih yang orang-orang ini harapkan? Yang catcall jadi berkurang drastis, gitu? Cuma dengan ngebaca artikel random di internet dan mendapat respon tidak ramah dari perempuan yang di-catcall?

Kalau ada insight dari psikologi yang betulan berguna di hidup saya, itu adalah bahwa yang namanya berubah nggak segampang ngasih tau kalau ini nggak boleh itu nggak boleh. Dan bahwa orang kalau makin di-confront malah makin resisten.

Makanya saya udah berhenti marah-marah. Dulu saya gampang banget marah-marah, ada isu soal agama dikit saya marah-marah pengen venting asap, dibilang “ya kalo perempuan emang susah sih buat pake logika” sama bapak sendiri kepala saya pasti langsung meledak, dan hal-hal sensitif lainnya yang niscaya akan bikin saya sakit hati dan merasa paling menderita di muka bumi ini. Tapi sekarang enggak dong, saya udah gede *hidung kembang-kempis*. Saya sudah belajar bahwa marah-marah itu draining abis. Saya malah jadi kefokus ke situ-situ doang. Hmph.

Jadi daripada marah-marah, mending saya redirect kemarahan saya dan relokasi energi saya buat sesuatu yang lain. Bikin teenlit, misalnya. *Syadzwina besar mulut, teenlitnya udah ga lanjut-lanjut padahal*

Makanya, tentang catcall-catcallan ini, saya selalu merespon dengan senyum (di-)ramah(-ramahkan) dan berhenti merasa sakit hati, risih, dsb.
Lagian ya, menurut saya, nggak ada ruginya juga ngesenyumin orang yang catcall saya. Ya, mungkin memang saya malah semakin melanggengkan budaya catcall yang OMG SANGAT BERBAHAYA ini. Tapi ya terus kenapa coba? Dunia yang saya tempati toh ya memang yang seperti ini. Buat saya, terlalu cepat tiga generasi untuk membuat orang-orang di dunia ini untuk benar-benar berhenti catcalling. #pesimis #realistis #aktivisaktivispastibenciaku

Jadi daripada merespon dengan bersikap jutek, yang menurut saya tidak menguntungkan ke depannya karena saya malah seolah-olah kayak bikin musuh, mending saya senyumin aja. Saya nggak tau kalo orang lain, tapi biasanya kalo saya ngesenyumin orang-orang yang catcall saya, mereka malah senyum balik, atau malah lanjut bilang “Senyumnya manis amat, neng” yang biasanya saya respon ketawa aja sambil lanjut jalan, atau diajak basa-basi kecil, yang biasanya saya ladenin sopan, plus pake senyam-senyum ramah. Not so harmful, right?? It’s like befriending the strangers. Respon begini buat saya malah terkesan lebih menguntungkan. Kan kalo misalnya saya ramah-ramahin mereka sekarang, siapa tau mereka jadi kenal muka saya. Trus kalo suatu saat saya kenapa-kenapa gitu misalnya, karena mereka kenal muka saya saya jadi dibantuin. *dangkal*

Tapi bukankah ini brilian???! Is I not zmart?????

Why turn them catcallers into enemies when you can turn them into friends???? That way they’ll stop catcall you dan malah nyapa beneran, if you’re lucky, or still catcall you but in a friend-way which will bikin risih less, if the universe is not in your favor. I seriously am baffled why people are not doing this trick and choose to be seriously offended by catcalls instead and react like a Hungarian Horntail protecting its eggs.

Ya mungkin saya bilang begini karena belum ketemu aja orang yang catcall yang ternyata juga stalker. Tapi gapapa. I’d still rather play my be-nice-and-likable card. Toh berdasarkan pengalaman saya orang-orang kalo disopanin biasanya juga jadi tau diri sendiri buat sopan balik. Daripada saya marah-marah kan. Bodo amat saya jadinya me-reinforce catcalling atau nggak, yang penting saya gak bikin musuh #prioritas. Lagian kan kayak yang saya bilang, terlalu cepat 3 generasi untuk menumpas segala kebiasaan catcalling ini. Dan kalaupun mau ditumpasss, I’d rather do it in a verrrry subtle way that won’t cost me to be angry. Because being and staying angry at things drains my energy in the most unbelievable speed.

I’m an introvert I love my energy too much ok.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s