Book Murder: Antologi Rasa by Ika Natassa

Antologi Rasa adalah buku ajaib karena terjemahannya terbit duluan sebelum buku aslinya.

Kenapa saya bilang begitu? Karena kalau ga ada yang kasih tau saya kalau ternyata Antologi Rasa aslinya memang novel dalam bahasa Indonesia, saya cuma bakal ngira ini buku terjemahan yang penerjemahnya super gabut dan males banget nyari padanan kata dalam bahasa Indonesia untuk beberapa idiom/kata dalam bahasa Inggris yang ada di buku aslinya, makanya buku ini banyak banget cetak miringnya.

(Sebelumnya saya pernah sih skimming-skimming dikit buku ini, beberapa tahun lalu, ketika covernya masih yang coklat, di toko buku. Sebuah keisengan yang kemudian saya sesali karena saya malah pengen marah melihat betapa banyaknya kata “fuck” di buku ini, yang malah terkesan berlebihan dan terdengar seperti buku tentang ABG labil yang baru kenal kata “fuck” alih-alih kisah persahabatan para bankir.)

(On another note terima kasih spesial untuk Iput yang berbaik hati meminjamkan saya buku ini, yang mengaku bahwa dia salah beli karena mengira dengan naifnya ini buku sastra tapi ternyata isinya sampah.)

Jadi ceritanya begini: Keara, Harris, Ruly, dan Denise adalah sahabat. Status itu lahir karena mereka berempat sempat dilempar ke suatu tempat karena titah kantor (mereka sama-sama ikut career acceleration apa deh gitu), sehingga mereka harus saling mendukung satu sama lain untuk dapat bertahan, selama dua tahun (atau empat tahun ya? Saya lupa), dan voila, jadilah mereka berempat sahabat sejati. Tapi nggak berhenti di situ aja, tokoh utama kita, Keara (perempuan liar), diam-diam naksir Ruly (laki-laki alim), sementara Ruly diam-diam naksir Denise (udah jadi bini orang), dan Harris (”penjahat kelamin”)? Naksir Keara dong.

Sebagaimana saya memulai membaca Tetralogi Empat Musim dengan cibiran, saya memulai membaca Antologi Rasa dengan dengusan.

Ya gimana enggak, belum juga kelar 100 kata pertama (kayaknya) penulisnya udah merepet soal rekor world tour-nya Guns N Roses, sinopsis singkat film The Time Machine, dan trivia-trivia sejarah lainnya yang namedrop berbagai tokoh penting dunia mulai dari Marco Polo, Napoleon Bonaparte, sampai Forrest Gump (semuanya di satu halaman. Kalo ga percaya, cek halaman 14 Antologi Rasa cetakan baru. FYI ceritanya baru mulai di halaman 13). Sebuah strategi yang akan dinilai fans buku ini sebagai bukti betapa penulisnya sangat berwawasan luas dan betulan niat dalam melakukan risetnya, dan bukti bahwa tokoh utama dalam buku ini punya photographic memory bukan cuma bualan si penulis belaka.

Saya sih berusaha untuk tetap sopan dengan hanya memutar bola mata dan mendengus: 1) Information overload bukan kondisi yang saya kejar ketika saya berusaha untuk tertarik dan tenggelam pada sebuah buku, apalagi kalo masih halaman awal. Emangnya enak dijejelin trivia soal ini dan anu blablabla yang nggak penting dan nggak ada hubungannya sama plot padahal kita baru mulai baca???; 2) You lost me at photographic memory.

Tapi ternyata nggak cuma doyan ngelepehin unrelated trivias di tengah-tengah cerita (yang bikin saya pengen menyematkan label “pretentious shit” ke buku ini, terlebih lagi judul tiap babnya dalam bahasa Latin, kurang pretentious apa coba), penulisnya juga ngotot banget mempertahankan sebanyak mungkin kata dalam bahasa Inggris di tengah kalimat meski padanan dalam bahasa Indonesianya sama sekali tersedia. Saya masih bisa maafin kalau emang satu kalimat penuh itu bahasa Inggris semua, meski sebenernya tetep ganggu ketika bahasa utama bukunya bahasa Indonesia. Tapi kalo di awal kalimat udah pake bahasa Indonesia trus mendadak di tengah kalimat pake bahasa Inggris untuk sebuah idiom/kata dan balik lagi ke bahasa Indonesia itu ngeselin.

Nih ya kalo ga percaya, saya ketikin beberapa, tentunya beserta terjemahan rekomendasi saya:

“Bagi aktor-aktor muda yang mengadu nasib di New York dan barely make the ends meet by waitressing, momen paling bahagia yang akan selalu mereka kenang mungkin adalah ketika mereka pertama kali mendapatkan peran di sebuah film, sekecil apa pun itu.”

Padahal bisa diganti jadi “Bagi aktor-aktor muda yang mengadu nasib di New York dan hanya bisa menjadi pelayan restoran semata-mata agar mereka tidak mati kelaparan…” (tuh liat, terjemahan saya bahkan lebih enak dibaca ketimbang kalimat aslinya, berima pula ‘restoran’ dan ‘kelaparan’. #pede)

“Aku tergelak, menunduk sesaat. Mencoba bertanya kepada the demons inside my head…”

Padahal bisa diganti jadi  “Mencoba bertanya kepada setan-setan di kepalaku…”

“Jadi tahu apa yang tiba-tiba melintas di benakku detik ini saat aku duduk berhadapan dengan Harris di Starbucks Wheelock ini? Perjalanan ini sucks. Big time.

Padahal bisa diganti jadi  “Perjalanan ini payah. Abis.”

“Dinda langsung menggiringku ke ruang tengah. Sofa, coffee table, TV, segala macam sudah lengkap walau masih banyak cardboard boxes bertebaran di mana-mana.”

Padahal bisa diganti jadi  “…walau masih banyak kotak kardus bertebaran di mana-mana.”

“Gini deh gampangnya: satu perempuan yang sebenarnya dia cintai setengah mati di luar semua yang sudah dia banged itu.”

Padahal bisa diganti jadi  “…di luar semua yang sudah dia sodok itu.” (…) (Kalau nggak suka ‘sodok’, bisa diganti jadi ‘jeboli’ atau ‘boboli’ kok…)

Jijik saya bacanya. Perlu banget ya gitu cardboard boxes tetep ditulis jadi cardboard boxes. Biar apa coba? Agar terkesan chic dan urban??? Kalo untuk percakapan sehari-hari banyak campur-campur kayak gitu ya boleh deh, tapi untuk ukuran novel, yang merupakan medium bercerita secara tertulis yang lumayan formal menurut saya, ini ngeselinnya babi.

Itu juga baru soal penulisan yang kebanyakan trivia nggak penting dan kalimat yang bahasanya sering nggak konsisten, belum pula soal karakternya.

Ha, karakter.

Keara sebagai protagonis kita sama sekali nggak relatable atau pun believable. Keara, seorang perempuan dewasa, yang bawaannya carefree, yang harusnya udah sering mampus tidur ama cowok, pas sama-sama mabok ama Harris dan tau-tau keterusan ampe ke ranjang, harusnya nggak sampe bereaksi lebay ga mau interaksi ama Harris ampe setaun seolah-olah insiden itu sepenuhnya gara-gara Harris. Kalo Keara ini adalah anak kecil dengan ego yang ga bisa ditimbun dan problem solving skill selevel paku payung, oke lah gapapa ngambek-ngambek ga mau dengerin ga mau diskusi trus musuhan. Lha ini??? Bruh. I don’t really know what your age is but I bet you’re too stupid for your age.

Terus bagian dia orangnya super manja ngeluh-ngeluh ga mau jalan kaki buat makan siang di PP karena lebih kasian sama sepatunya, dan bagian dia ga mau makan makanan rakyat jelata, namun TERNYATA OH TERNYATA di samping itu (surprise, surprise) dia ternyata punya jiwa fotografer yang ke pasar rakyat pun oke, dan ngeborong dagangan kerupuk nenek-nenek semata-mata karena kasian juga oke, ampe nangis bahkan dengerin si nenek-neneknya cerita.

????????????????????????????

Mungkin maksud penulisnya bagus, ingin menunjukkan bahwa Keara ini melampaui stereotip orang kaya yang biasanya cuman arogan sombong dsb, makanya dibikin ada sisi lainnya lah gitu, tapi kok jatohnya malah nggak meyakinkan. Karakternya Keara ini kayak potongan-potongan puzzle yang dipaksain jadi satu, tapi sisi-sisinya malah pada tabrakan dan nggak cocok, jadinya puzzlenya gak jelas bentuknya sebenernya apaan. Bolong-bolong.

And don’t even get me started on Harris.

Sexist misogynist piece of shit. Tipikal karakter player super cakep yang kelewat diromantisasi, yang kalau udah jatuh cinta kepada “the one” bisa mendadak setia dan blabla. Tipikal karakter yang sering bikin cewek-cewek pada “KYA KYA HARRIS OMG HARRIS” dan malah blushing-blushing tolol kalo dia ngelontarin sexist remark, yang bikin saya pengen banting ini buku, kalau aja saya ga inget bukan saya yang punya. Tipikal karakter yang bikin cewek-cewek bego makin bego karena mereka makin ngimpi kapan bisa ketemu dan menaklukkan “Harris mereka sendiri”. Yang bikin cewek delusional makin delusional. Yang bikin dunia ini makin tidak nyaman ditempati oleh orang-orang kayak saya. Fucking Harris.

Apa yang “khas” dari Harris selain fakta bahwa dia menggemari MotoGP saya ga paham. Ya saya nggak banyak juga sih baca novel yang ada karakter macam Harris begini, tapi saya yakin kalo disandingkan dengan sederet karakter sejenis dari cerita lainnya, Harris ini bakal keliatan sama aja kayak yang lainnya, tidak menonjol dan datar banget. Saya ngetik pembantaian ini (….) jedanya emang lumayan lama sih setelah saya beneran kelar baca bukunya, tapi justru kan fakta bahwa yang saya inget dari Harris itu cuma secuil trivia nggak penting soal hobinya menunjukkan kalau… karakternya emang gitu doang??? Maksud saya, okelah sok sana bikin karakter yang bikin pembaca kayak saya gedeg banget sampe pengen banting bukunya, tapi seenggaknya usaha kek bikin karakter ini jadi understandable, bahkan oleh pembaca kayak saya??!

Kayak Severus Snape, misalnya. I swear to gods I don’t believe in, he’s such an awful human being, kalo dia beneran idup ya. Orang lain mungkin ada yang supersimpatik ama Snape, tapi saya tetep aja ga suka ama karakternya. Tapi seenggaknya saya kurang-lebih ngerti lah kenapa dia bertingkah seperti dia bertingkah. (Atau Umbridge, deh, tapi perbandingannya nggak adil sih karena Umbridge emang dibenci secara universal sementara Harris kan ada yang suka ada yang enggak.)

Bandingkan dengan Harris yang… yah… “yaudah, gitu aja”. Kayak yang penting omongan dia dibikin asal brengsek aja lah gitu, udah, kelar. Padahal dia tokoh utama, guys. Saya juga lupa yang bikin Harris takluk sama Keara itu sebenernya gara-gara apaan, selain karena Keara itu ceritanya HOT ABIS.

Terus ada Ruly yang fungsinya cuma biar hubungan Keara-Harris ada greget dikit, ada orang ketiganya. Ruly yang diceritain bahwa “dia cowok alim dan sebenarnya minat di sepak bola (atau olahraga, entahlah) tapi kerja di banking” biar terkesan punya kepribadian barang selapis, tapi malah gak ngena, dan emang gak gitu digali (aka sama kayak Harris). Oh iya, ternyata aim-alim gitu ciumannya jago (berdasarkan testimoni Keara). Penting abis emang.

Ruly yang kayak tempelan, karakter setengah-setengah, dan Denise yang nongol cuma biar Keara sakit hati aja kalo ngeliat Ruly dan Denise lagi ngobrol asyik berdua. Ya kerasa banget sih emang kalo mereka itu beneran “4 sahabat”, bukan cuma “sebenernya ini cerita soal Keara dan Harris aja, tapi dibikin ada 4 sahabat yang kisah cintanya tragis amburadul bertepuk sebelah tangan blabla aja deh biar greget hehe”.

My arse.

Terus ada karakter lain, Dinda, temennya Keara. Sama-sama rada bitchy juga kayak Keara cuma sekarang tobat menjadi ibu rumah tangga sambil morotin duit lakinya (ngerti kan kalau saya bilang ini novel bego-begoan?). Terus ada Panji, objek flirting-flirtingannya Keara di tengah cerita yang ternyata temen lamanya Harris, dan karakternya mirip-mirip Harris (lagi-lagi playboy yang diromantisasi, ujug-ujug takluk ama Keara yang ceritanya cakepnya tiada dua cie).

Dari sekian karakter di Antologi Rasa ini, kayaknya saya lebih rela favoritin abang bubur ayam yang diceritain jualan di Kuningan (?) aja, yang Harris sering bawain Keara sarapan dari sana pagi-pagi. Ketimbang karakter-karakter lain yang lebih sentral, di mata saya hanya abang bubur ayam itu yang terkesan paling real dan paling believable.

Ika Natassa emang gak kayak Ilana Tan yang punya karakter-keturunan-campuran-syndrome, tapi dia punya karakter-orang-kaya-sukses-cakep-penakluk-lawan-jenis-syndrome. Dan sebagaimana Ilana Tan doyan bikin karakter yang mirip-mirip dari satu novel ke novel lainnya, saya berani taruhan Ika Natassa juga punya gelagat yang sama, karakter di novel-novelnya yang lain pasti ada rasa-rasa Keara sama Harris juga.

Advertisements

2 thoughts on “Book Murder: Antologi Rasa by Ika Natassa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s