Udahlah, patah hati mah patah hati aja…

Jadi ada lomba cerpen LGBT gitu, trus premisnya kurang-lebih begini:

“Saat kamu mencintai seseorang lalu ternyata dia adalah straight tulen, tentu kamu kecewa luar biasa apalagi kamu ditolak setelah mengutarakan isi hatimu padanya. Patah hati. Terluka. Galau. Dan naasnya, dia yang kamu cintai itu cuek alias tidak peduli. Dan menurutnya masalahmu bukanlah urusannya. Dengan enteng dia bertingkah tanpa dosa padahal sudah menyakitimu.”

Sebel banget saya bacanya sampe tergerak buat venting di Tumblr, suatu hal yang sudah lama tidak saya lakukan.

Ada apa sih dengan orang-orang yang mengira bahwa mereka sebegitu entitlednya di muka bumi ini jadi kalo mereka naksir orang, orang itu harus naksir balik, gitu? Seolah-olah satu-satunya outcome yang logis kalo naksir sama orang itu adalah orang itu harus naksir balik. Padahal kan nggak gitu?? Kebanyakan mamam teenlit nggak mutu nih pasti, jadi kayak gini kan bentukannya. #semuasalahteenlitnggakmutu

“Dan naasnya, dia yang kamu cintai itu cuek alias tidak peduli.”

Emang dia ada kewajiban apa coba buat peduli? Apa cuma karena mentang-mentang kalian “cinta” trus si dia ini harus “peduli” gitu? Orang mau peduli atau nggak itu kan sesuatu yang terjadi begitu saja, tidak langsung disadari, dan nggak bisa dituntut-tuntut macam “Aku udah cinta ama kamu! Kamu peduli dong ama aku!!?”. Kan bego…

“Dan menurutnya masalahmu bukanlah urusannya.”

Kalau saya harus mikirin orang-orang yang “patah hati, terluka, dan galau” karena saya “tidak bisa membalas perasaan mereka”, udah keburu depresi dan bunuh diri duluan kali saya lantaran merasa bersalah karena merasa saya-lah penyebab segala “patah hati, terluka, dan galau” itu. Kan gak lucu, padahal saya nggak ngapa-ngapain juga, udah default-nya aja gitu saya gak punya perasaan yang sama. Jadi ya, sudahlah, terima saja, semua orang udah punya urusannya sendiri buat diurusin, kalo punya emosi tertentu ya regulasi ajalah sana sendiri, ga usah pake merepet minta orang lain yang urusin, gimana sih.

“Dengan enteng dia bertingkah tanpa dosa padahal sudah menyakitimu.”

Dia nggak ngapa-ngapain nyet ngapain lo dakwa berdosa segala.

They don’t even do it on purpose! It’s just on their nature to not have any interest whatsoever on you. Sama kucing aja kalian oke-oke aja tuh diperbudak, sayang tapi ga disayangin balik, ngasih makan ini-itu tapi kucingnya tetep belagu-belagu aja, tapi toh kalian tidak peduli, tetap secara unconditionally menyayangi kucing tsb, tetep ngelus-ngelus, tetep ngasih makan, ya kan??? Ama kucing aja bisa ampe tulus-tulus dungu gitu. Lah ini kenapa sama sesama manusia pake ada bumbu-bumbu pamrihnya segala coba. “Aku suka kamu, tapi kamu nggak suka balik ama aku. Jadi sekarang aku patah hati. Kamu tanggung jawab dong udah bikin aku patah hati! :(”

Sudahlah, kalau patah hati mah patah hati aja, nggak usah nyeret-nyeret orang lain buat dijadiin oknum. Terima sajalah kenyataan pahit bahwa perasaan kalian tidak berbalas, dan emang nggak harus. Toh semesta tidak pernah menjanjikan siapa yang jatuh cinta akan mendapatkan perasaannya berbalas 💕.

Lagian apa salahnya sih merasa terluka dan patah hati. Kenapa harus ditakutin banget. Tidak tahukah kalian justru dengan mengalami dan menerima kehadiran semua jenis emosilah baru kita dapat berkembang? 😦

(Saya nggak becanda… Coba tonton Inside Out.)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s