Kenapa Saya Pengen Bikin Teenlit

1. Saya ga pernah bikin teenlit seumur hidup saya.

Bahkan ketika saya SMP, di mana orang-orang umur segitu kan kalo bikin cerita pasti bikinnya yang teenlit-teenlit sampah macam itu kan. Cerita pertama saya adalah novel-novelan yang saya bikin pas kelas 6 SD yang mana ceritanya, kalo kata temen saya, lebih ke yang macam Lima Sekawan gitu-gitu. Meski saya nggak pernah baca Lima Sekawan. Tentu saja, ini jadi menyelamatkan saya dari masa-lalu-suram di mana saya nggak perlu malu-malu amat kalo lagi gali-gali tulisan zaman dulu. Alih-alih malu, saya malah jadi smug-smug merasa bangga dengan diri sendiri gitu, “Wah saya dari dulu udah hipster nulisnya misteri.” meski tetep aja sebenernya malu. Terus setelah nulis novel-novelan, saya masuk SMP. Pas SMP saya lebih sering bikin cerpen, yang saya ingat betul ngga ada satu pun cerpen yang saya bikin yang isi ceritanya ala-ala teenlit itu. Agak-agak depresif malah, karena kebanyakan cerpen yang saya bikin ke-aku-an gitu. Alias saya hobi pake sudut pandang pertama. Selepas cerpen-cerpen depresif, saya mengenal IH. Yha ngapain saya bikin cerita ala-ala teenlit di IH.

Jadi begitulah. Saya ga pernah bikin teenlit seumur hidup saya. Sekarang memasuki masa di mana saya merasa semakin tua, saya jadi semacam memiliki keinginan untuk memiliki sesuatu yang kalo saya liat ulang, saya bakal ngakak. Self-entertainment gitu deh.

2. Di satu titik dalam hidup saya, teenlit pernah sangat memengaruhi semacam world view saya.

Meski saya ga pernah bikin teenlit, saya pernah kok baca teenlit. Lumayan banyak juga kalo gak salah, saya inget ada 4 judul yang saya baca zaman-zaman saya SMP/SMA gitu. 2 judul novel lokal, 2 judul lagi serial terjemahan. Itu pun yang saya inget. Saya yakin sebenernya ada lebih banyak dari 4 judul yang saya baca. Kayak sekarang saya mencoba mengingat-ingat apakah saya pernah baca Princess Diaries-nya Meg Cabot atau nggak, atau buku Meg Cabot apa pun. Saya yakin saya pernah skimming sebentar kayaknya, tapi ga pernah baca sampai habis.  Meski memang nggak semuanya ‘pernah sangat memengaruhi semacam world view’ saya, tapi ada kok. Si serial terjemahan itu.

Jessica Darling adalah teenlit terjemahan yang saya sedih saya ga tau bukunya ada di mana sekarang. Ini bukan teenlit pertama saya sih, dan saya juga ga inget dulu saya ambil judul ini dari puluhan judul teenlit lain yang ada kenapa, mungkin karena judulnya bahasa Inggris, dan waktu itu saya punya kepercayaan tolol bahwa teenlit terjemahan akan lebih berkualitas dan jauh lebih bearable ketimbang teenlit lokal yang kebanyakan bahasanya lo-gue. Saya antipati banget sama penggunaan bahasa lo-gue di tulisan apa pun. Sepanjang sejarah cerpen-cerpen yang pernah saya bikin, saya nggak pernah pakai lo-gue, saking jijiknya.

Jadi saya ambil Sloppy First, buku pertamanya, lalu saya menemukan diri saya terkejut karena ternyata…lumayan juga. Saya bahkan sempat obsesi sama tokoh cowoknya, Marcus Flutie, sebagaimana orang-orang sempat obsesi sama Edward Cullen. Atau yang lebih hip sekarang, Christian Grey. Tapi saya punya pembelaan! Marcus Flutie is nothing like Edward Cullen nor Christian Grey! #yha #mulaidefensif. But seriously, though, meski labelnya teenlit, first impression saya terhadap Jessica Darling versi terjemahan ini kelewat positif, sampai saya bilang ‘pernah sangat memengaruhi semacam world view saya’. Here’s why.

Karakternya Jessica ini adalah tipikal trope I’m Surrounded By Idiots. Si Jenius Kelas/straight A’s student, ekskulnya cross country alih-alih cheers, tapi peergroupnya anak cheers semua, tipikal ciwi-ciwi dandan yang pas jam makan siang sibuk ngekritik/muji model-model di majalah trus banding-bandingin ama badan sendiri trus ngeluh-ngeluh soal calories intake. Berteman dengan mereka kemudian membuat karakter Jessica kita menjadi somewhat snarky. Yha. Karakter-karakter snarky adalah soft spot saya memang. Tapi bukan itu yang bikin serial ini menjadi ‘pernah sangat memengaruhi semacam world view saya’.

This is where Marcus Flutie comes in, the guy with the manwhore/drugs-addict persona who turns out to be that poet/hidden genius. Dinamika hubungan Jessica dan Marcuslah yang kemudian ‘pernah sangat memengaruhi semacam world view saya’. Satu: I learn that no matter what you do, you can’t control what people think of you. Agak-agak no shit gitu ya, tapi entah kenapa impactnya gede gitu di saya. Mungkin inilah yang membuat saya jadi relatif ga mikirin apa kata orang tentang saya. “If that’s what you think of me, well then that’s probably true for you, which is fine, and I’m not going to confirm or deny it anyway” gitu. Memfoster pribadi nonkonformis abis.

Dua: I LEARN, ABOVE ALL THINGS, ABOVE EVERY OTHER THINGS, to accept and let go, ESPECIALLY WHEN IT COMES TO LOVE. Atau seenggaknya ini yang saya pahami setelah baca buku ketiganya, yang ada quote begini: “Strangers become friends. Friends become lovers. Lovers become strangers. Strangers become friends once more, and over and over.” Waktu itu buat saya, quote ini inspiratif sekali. Di saat cerita lain menekankan “forever”/“kisah cinta abadi”/“aku dan kau akan selalu bersama”, ini teenlit membantu saya untuk mengembrace kenyataan bahwa no there’s no such thing as forever, everything is a phase blablabla. Klise yha, tapi kalau dihayati ngefeknya oke. Berguna banget. Hidup berasa jadi less drama gitu karena saya jadi tidak berekspektasi apa-apa.

Begitulah. Saya sempat meworship Jessica dan Marcus di satu fase di hidup saya.

3. Ini adalah misi mulia saya untuk mengedukasi cewek bego-begoan generasi muda yang sekrup otaknya perlu dikencengin dikit

Kenapa banyak perempuan-perempuan nganu berkeliaran dengan pemikiran nganu mereka mengenai konsep ideal suatu hubungan? Tentu saja karena bacaannya pada nganu. Karena saya merasa high and mighty, saya merasa sudah sehendaknya saya berkontribusi untuk memperbaiki kenganuan ciwi-ciwi begitu. Bagaimana caranya? Tentu saja masuk dari platform yang aksesibel buat mereka: frreaking teenlit. Nah, kurang mulia apa saya.

4. Tetralogi empat musim cetak ulang dengan cover baru. Cover barunya cakepan.

Saya dengki.


Karena alasan-alasan tersebut, akhirnya beberapa waktu lalu saya bikin plotboard, untuk menunjukkan bahwa saya serius dengan ide-pengen-bikin-teenlit-yang-kemudian-saya-jadikan-personal-project-of-the-year ini. Plotboardnya seperti ini:

Oke kan ya. Yang di ujung kanan itu endingnya, trus post-it itu ceritanya plot si tokoh utama dengan karakter lain, color coded #niat.

Kalau soal mulai ngetiknya, saya baru nyampe…

Surem.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s